Berita

Liang Qichao/Net

Histoire

Bukan Mao Zedong, Deng Xiaoping Atau Xi Jinping, Kebangkitan China Sudah Dimulai Dari Liang Qichao

JUMAT, 09 JULI 2021 | 08:44 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Nama Liang Qichao memang tidak setenar Mao Zedong, Deng Xiaoping, atau Xi Jinping yang saat ini berkuasa. Namun pada hakikatnya, ia lah penggerak perubahan bagi negeri sebesar China.

Kegelapan mulai menutupi negeri tirai bambu pada akhir abad ke-19, menjelang keruntuhan Dinasti Qing. Meski begitu, pemikiran-pemikiran seorang intelektual bernama Liang Qichao seakan menjadi secercah harapan bagi orang-orang Tiongkok.

Liang dikenal sebagai Bapak Baptis Nasional. Hidup di tengah masa transisi yang penuh gejolak politik, revolusi, hingga pembantaian, Liang lah yang memulai gagasan Tiongkok modern.


Siapakah Liang Qichao?

Liang lahir sebagai seorang borjuis. Ayahnya sarjana dan petani. Sejak kecil, ia dikenalkan dengan karya-karya sastra hingga membentuknya menjadi seorang penulis, aktivis, dan intelektual paling berpengaruh pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di China.

Kerap menyuarakan reformasi saat Dinasti Qing berkuasa, Liang banyak melarikan diri ke luar negeri. Sempat tinggal di Jepang, Kanada, hingga Australia.

Sosoknya dikenal dekat dengan Barat, di mana ia bisa membuka pikiran terhadap gagasan-gagasan baru. Hal itu yang membuat Liang menyadari bahwa bangsanya menuju keruntuhan. Nama "orang sakit Asia" bahkan ia sematkan untuk China ketika itu.

Bagi Liang, kekalahan Dinasti Qing dari perang dengan Jepang pada 1895 seakan "membangunkan bangsa kita dari mimpinya yang berumur empat ribu tahun."

Dimulai dari Liang, China yang baru muncul. Liang mencoba menyatukan China dan membangkitkannya kembali. Jika meminjam istilah Donald Trump, ketika itu visi Liang adalah "Make China great again."

Tapi Liang menyadari satu hal, kebangkitan China harus tanpa demokrasi.

"Kita hanya bisa menerima despotisme dan tidak bisa menikmati kebebasan... Jika kita mengadopsi sistem pemerintahan demokratis sekarang, itu sama saja dengan melakukan bunuh diri nasional," ujarnya.

Berpaling Dari Barat

Kebencian China terhadap Barat muncul ketika Liang menemukan titik balik. Setelah Perang Dunia I, ia dikirim sebagai pengamat ke konferensi Perdamaian Paris.

Kecewa, sedih, dan marah ia rasakan ketika Eropa sang pemenang perang membagi-bagi wilayah kekuasaan, termasuk menyerahkan wilayah pendudukan Jerman di China ke Jepang.

"Dari tahun 1842 hingga 1942, China telah diperlakukan oleh Barat dengan ketidakpercayaan, ejekan, dan penghinaan. Bercampur dari waktu ke waktu dengan belas kasihan dan amal, hanya sesekali simpati dan keramahan," ujar sejarawan Jeroma Ch'en ketika menggambarkan hubungan China dan Barat pada masa itu.

Setelah tersadar, Liang mengakui, mengikuti kepercayaan Barat akan membawa China pada malapetaka. Kekecewaannya ia tumpahkan dalam gagasan-gagasan yang mempengaruhi seorang revolusioner muda, Mao Zedong.

Ideologi Tak Pernah Mati

Liang memang tidak kekal, ia wafat pada 19 Januari 1929. Meski begitu, warisan pemikiran-pemikirannya telah "meracuni" para pemimpin China.

Ketika kemenangan Revolusi Komunis pada 1949, Mao menggemakan kata-kata Liang, "Rakyat Tiongkok telah berdiri."

Sama halnya ketika Xi Jinping memberikan pidatonya dalam perayaan 100 tahun Partai Komunis China pekan lalu.

Muncul dengan setelan Mao, Xi dengan lantang mengatakan, "Siapa pun yang berani menentang China, akan mendapati kepala mereka dibenturkan dengan darah ke tembok baja besar."

Seperti Liang yang percaya China tidak dapat berdemokrasi, Xi mengatakan, "Tanpa Partai Komunis, tidak akan ada China baru."

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya