Berita

Peneliti INDEF dan pengajar Universitas Mercu Buana, Sugiyono Madelan Ibrahim/Net

Publika

Memberlanjutkan Demokratisasi

JUMAT, 09 JULI 2021 | 04:50 WIB

TRANSFORMASI model demokratisasi pada periode Orde Lama, Orde Baru, kemudian Orde Reformasi mempunyai dampak ekonomi politik terhadap kesejahteraan perekonomian masyarakat.

Pada periode pemerintahan Joko Widodo dilakukan kombinasi antara pemanfaatan model pembangunan pendekatan portofolio sumberdaya manusia partai politik dengan perluasan dari Dwi Fungsi TNI-Polri, yang diperluas.

Model portofolio demokratisasi pemerintahan Joko Widodo pada satu sisi mempunyai implikasi berupa sulitnya terbangun kepemimpinan yang efektif.


Kemudian terbentuk pertumbuhan ekonomi rendah, ketidakmerataan ekonomi meningkat, berlarut-larutnya penyelesaian masalah pandemic covid-19 berikut mutan-mutannya, keberlanjutan fiscal menjadi semakin bermasalah, utang negara dan utang BUMN konstruksi maupun BUMN pelaksana tugas meningkat, dan menguatnya penggunaan buzzer-buzzer untuk mengkonstruksikan pencitraan keberhasilan pembangunan nasional.

Model pembangunan portofolio tersebut juga menimbulkan hilangnya independensi pembagian kekuasaan pilar-pilar politik Trias Politika, hilangnya independensi pers, hilangnya independensi kebijakan moneter dan Otoritas Jasa Keuangan, serta hilangnya independensi Komisi Pemberantasan Korupsi.

Berbagai pilar-pilar kelembagaan yang dibangun pada awal Orde Reformasi, kemudian juga terkesan semakin pudar, seperti melemahnya kinerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Komisi Penyiaran Informasi, Komnas HAM, dan seterusnya.

Sebuah model strategi Machiavelli untuk mempertahankan kekuasaan dengan cara membagi-bagikan dana Bansos kepada masyarakat yang terdampak negatif dari kebijakan pemerintah, semula menguatkan dukungan terhadap legitimasi figur kepemimpinan Joko Widodo sebagai Satria Piningit.

Akan tetapi pendekatan PPKM Darurat, yang sangat terlambat diberlakukan itu mulai menimbulkan perlawanan api dalam sekam. Muncullah benih-benih perlawanan gagasan mempraktekkan Mei 1998. Isu ketidakpuasan untuk mengakhiri pemerintahan merupakan godaan besar terhadap pembangunan model portofolio demokratisasi di atas.

PDI Perjuangan semula adalah partai oposisi yang kemudian menang dalam metode pilpres serentak dengan pileg, namun gagal mencapai mayoritas di DPR, DPD, dan MPR.

Akibatnya, fenomena koalisi pada pemerintahan eksekutif, legislatif, yudikatif, dan pers mempunyai konsekuensi sulitnya mengatur pembagian kekuasaan pada mengutamakan personal yang sangat unggul mempunyai kapasitas kompetensi keahliannya dibandingkan pertimbangan loyalitas absolut.

Kondisi yang seperti ini menimbulkan berbagai kekecewaan terhadap kinerja pembangunan nasional tersebut di atas.

Apabila serangan massif bola panas Covid-19 gagal diselesaikan, maka model portofolia demokratisasi di atas akan runtuh dalam waktu yang dekat.

Sementara itu pemicu persoalan dasar dari perluasan penularan Covid-19 berasal dari kegagalan mendasar sistem radar imunitas tubuh dalam mendeteksi kedatangan Covid-19.

Akibatnya, gelombang daya tahan tubuh berupa sel darah putih sangat terlambat dalam melakukan perlawanan. Paru-paru yang memutih itu akibat masuknya Covid-19 tidak terdeteksi oleh alarm radar imunitas tubuh.

Ini bagaikan Covid-19 efektif menyerang menggunakan drone bersenjata mematikan dan pesawat intai AWACS bersenjata modern, yang tidak tertangkap radar musuh.

Sugiyono Madelan Ibrahim
Peneliti INDEF, pengajar Universitas Mercu Buana.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya