Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Dunia Yang Terjeda

SELASA, 06 JULI 2021 | 15:12 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

TUMBANG! Sistem kesehatan nasional sekuat tenaga menghadapi gelombang pasang pandemi. Satu-persatu pasien datang memenuhi ruang layanan, sebagian bahkan tidak mampu tertolong. Situasi ketegangan memuncak.

Kolaborasi kembali dijalin. Kedisiplinan mulai diulang. Pembatasan dilakukan. Kita memutar roda kembali. Hidup ada di antara tarik ulur kematian dan bayang ketakutan penularan wabah.

Dunia tengah dipaksa untuk berjeda. Pandemi menjadi mekanisme alamiah untuk memberi peringatan bagi umat manusia. Pengelolaan alam secara eksploitatif hanya menghasilkan kerusakan dan berbagai kesulitan.


Jarak dibatasi. Mobilitas dikurangi. Kerumunan dihindari. Hal-hal ini membuat era percepatan yang sebelumnya berubah secara eksponensial, dipaksa melambatkan diri. Seolah sejenak berhenti di tempat.

Prediksi Thomas L Friedman, Thank for Being Late, 2018, memperlihatkan bentuknya di masa pandemi. Alam dan ekosistem kita selalu berada dalam keseimbangan akan menormalisasikan dirinya. Eksploitasi tidak terkendali berpotensi dampak bencana.

Kemajuan teknologi yang mempercepat kehidupan dalam format akselerasi digital, menghadirkan bentuk-bentuk baru yang belum pernah terbayangkan dalam seluruh bidang kehidupan manusia, secara ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan.

Perubahan terjadi. Tidak hanya itu situasi yang berubah pada akhirnya memaksa kita untuk mulai kembali beradaptasi. Kehidupan menjadi sedemikian kompleks. Kita kekurangan waktu untuk berpikir ulang. Larut dalam perubahan.

Perubahan melumat mereka yang tidak siap untuk berubah. Karena itu, terlambat, perlambatan dan keterlambatan adalah frasa kata yang mampu memberi ruang untuk melakukan evaluasi atas pencapaian yang telah dilalui, serta apa yang akan dicapai di masa mendatang.

Pandemi dan Kemanusiaan

Begitu dahsyatnya gelombang kedua ini kembali menyentak kita di tanah air. Kelangkaan obat hingga tabung oksigen terjadi. Kepanikan publik terjadi. Karantina dan isolasi dilakukan.

Manusia berbilang menjadi angka dan berita duka. Dalam aspek teknis kita akan belajar pola penanganan wabah, penguatan sektor medis, pelayanan publik di era pandemi dan lain sebagainya.

Mungkinkah kita mulai berpikir ulang tentang penguatan sistem kesehatan, atau tentang pembentukan ketahanan kesehatan nasional, serta perbaikan pola interaksi publik dan kekuasaan.

Kehidupan bernegara ditentukan dari kemampuannya melindungi seluruh warga negara, tidak hanya bagi sebagian yang memiliki akses dan kapasitas tetapi juga menyelamatkan populasi yang tercecer di bagian belakang.

Politik masih hingar-bingar. Tetapi tampak jelas pandemi seolah berupaya mengembalikan pola relasi yang selama ini didominasi kepentingan manusia atas alam. Hak dan kewajiban manusia atas alam berjalan timpang.

Edisi National Geographic, Terlalu Panas Untuk Dihuni, (7/21) memberikan gambaran terang mengenai dampak emisi karbon yang menaikan suhu permukaan bumi.

Hal tersebut menyebabkan kemunculan titik panas di berbagai belahan dunia, yang memungkinkan terjadinya serangan panas hingga menimbulkan gelombang kematian.

Pandemi tampak efektif menghentikan sementara sifat rakus umat manusia atas alam. Virus yang berukuran mikro itu membungkam pemikiran kita tentang kemajuan yang cenderung egois.

Dalam kajian psikologi, dunia yang tengah terjeda mengingatkan kita pada kajian Daniel Kahneman, Thinking, Fast and Slow, 2020, bahwa tidak ada yang salah dengan kecepatan dan berpikir cepat, itu adalah benih dari naluri instingtif.

Bersamaan dengan itu, Kahneman juga mengingatkan tentang perlunya berpikir yang relatif lambat dengan memikirkan lebih mendalam seluruh aspek yang terkait dari sebuah persoalan.

Berpikir cepat dapat menghasilkan solusi segera, sementara berpikir lambat memberikan kedalaman penyelesaian persoalan secara menyeluruh. Keduanya melengkapi.

Pandemi memang membuat dunia terjeda. Kita harus mulai kembali berdansa di dalam riak gelombang. Mengambil waktu sejenak untuk kembali berpikir dan merenungkan apa yang terjadi serta kemana hendak melangkah?

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya