Berita

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan/Net

Politik

Pengamat: Anies Baswedan Layak Trending Karena Pola Pikirnya Memang Lebih Maju

SENIN, 05 JULI 2021 | 12:17 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan trending di twitter. Netizen menyanjungnya karena pada Mei 2021 mengajukan pembatasan darurat namun ditolak oleh pemerintah pusat.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul Jakarta, M. Jamiluddin Ritonga mengatakan, kalau informasi itu benar, maka Anies tampaknya lebih maju selangkah dari pemerintah pusat dalam upaya penanganan Covid-19.

"Anies lebih mampu memprediksi lonjakan kasus Covid-19 daripada pusat. Hal itu juga diakui Luhut Binsar Panjaitan yang menyatakan, pihaknya tidak memperkirakan lonjakan kasus Covid-19 yang sangat tinggi ini," ujar Jamiluddin, Senin (5/7).


Menurutnya, Anies mampu memprediksi hal itu karena menggunakan pendekatan saintifik dalam mengatasi Covid. Dengan saintifik, Anies bersama timnya mampu memprediksi kemungkinan lonjakan kasus.

"Kemampuannya memprediksi itu, selain Anies memang punya latar belakang akademis, juga karena ia didampingi tim ahli kesehatan yang kepakarannya sangat mumpuni. Sinergisitas ini membuat kerja mereka sangat sistematis, komprehensif, dan menjangkau permasalahan ke depan," tutur dia.

Hanya saja, lanjut Jamiluddin, cara kerja Anies kerap mendapat benturan dari pihak lain yang pola kerjanya jauh berbeda. Benturan inilah yang membuat konsep bagus akhirnya tidak dapat dijalankan.

"Jadi, pola kerja Anies sebaiknya diadopsi oleh pusat agar sinergisitas antara daerah dan pusat dapat sinkron. Hal itu juga akan memudahkan koordinasi daerah dan pusat dalam mengatasi persoalan, termasuk kasus Covid-19," tegas dia.

Lebih lanjut Jamiluddin mengatakan, melihat pola kerja Anies tersebut, memang sudah selayaknya dia mendapat kepercayaan untuk memimpin lingkup yang lebih luas. Untuk itu, peluang Anies untuk ikut dalam kontestasi Pilpres 2024 semakin besar.

Harapannya, kalau Anies sapat memimpin Indonesia, diharapkan dia dapat menata manajemen negara yang lebih saintifik. Manajemen seperti ini akan lebih terbuka dan dinilai oleh siapa saja secara lebih terbuka.

"Namun, harapan itu hanya akan terwujud kalau pemilih di Indonesia lebih banyak yang rasional daripada yang emosional. Dengan pemilih rasional, dimungkinkan terpilih capres yang mumpuni, termasuk yang menggunakan pendekatan saintifik," ucap mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta itu.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya