Berita

Gurubesar Psikologi Politik UI, Prof Hamdi Muluk/Net

Politik

Prof Hamdi Muluk: Metodologi TWK Saintifik, Valid, Dan Ilmiah

RABU, 30 JUNI 2021 | 13:35 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Asesmen penilaian tes wawasan kebangsaan (TWK) pegawai KPK valid dan reliabel karena sudah menguji belasan ribu sampel.

Selain itu, TWK terhadap pegawai juga sudah dipakai di banyak institusi pemerintah maupun perusahaan seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Metodologi yang dipakai juga sangat saintifik dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Gurubesar Psikologi Politik UI, Prof Hamdi Muluk kepada wartawan, Rabu (30/6).


Ia berujar, salah satu alat yang digunakan dalam TWK adalah Indeks Moderasi Bernegara (IMB) dan Integritas atau IMB-68 dari Dinas Psikologi TNI AD. Menurut Prof. Hamdi, alat itu sudah dikembangkan pihaknya dengan Dinas Psikologi TNI AD pada 2019.

IMB dalam TWK KPK pun diakuinya sudah memenuhi kaidah psikometri.

"Alat ini sebenarnya yang waktu itu kita adakan kerja sama dengan Dinas Psikologi TNI AD. Jadi, mereka meminta kepada lab kami untuk mengembangkan tool ini," tegas Kepala Lab Psikologi Politik UI ini.

Prof Hamdi juga menyinggung perihal anggapan TWK bertujuan untuk melemahkan lembaga antirasuah dengan tidak meloloskan satu dua orang.

"Tidak ada hubungannya. Cerita tentang pelemahan sistem, levelnya adalah di sistem itu sendiri. Jadi bukan diatribusikan ke orang per orang," sambungnya.

Di sisi lain, politisi PDIP, Kapitra Ampera menilai tudingan pelemahan KPK dalam TWK sama saja diartikan sebagai penghinaan kepada 1.274 karyawan KPK yang lulus ASN.

"Ini bahaya, kita memberikan ruang hierarki tirani di dalam KPK, karena mengesankan merekalah yang berkuasa dan yang lainnya hanya menjadi dayang-dayang penggembira dan pengikut. Pemikiran ini sangat amat menyesatkan," kritik Kapitra.

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya