Berita

Bill Gates/Net

Publika

Bill Gates, Perubahan Iklim Dan Covid-19

SELASA, 29 JUNI 2021 | 14:42 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

KONSPIRASI! Itu adalah meta teori tentang segala hal yang masih belum tersingkap oleh ilmu pengetahuan. Sialnya, menjadi manusia sekelas Bill Gates jelas mudah menjadi sasaran tembak.

Bos Microsoft itu selain merupakan orang terkaya di muka bumi, juga disebut menjadi pihak yang bertanggung jawab atas pandemi Covid-19, tersebab prediksinya mengenai ancaman wabah.

Gilanya, pendanaan besar dialirkan yayasan Bill Gates untuk segera menemukan vaksin Covid-19. Tuduhan berlanjut, pandemi adalah rekayasa dan manipulasi dari kepentingan ekonomi.


Tapi itulah konsekuensi yang harus ditanggung oleh Bill Gates. Bersama kekuatan yang besar, terdapat tanggung jawab yang setimpal, begitu tamsil yang menggambarkan kondisinya.

Dalam buku, How to Avoid A Climate Disaster, 2021, Bill Gates menjelaskan persoalan pandemi di bagian penghujung uraiannya. Beberapa hal penting saling terkait dalam buku tersebut.

Sebenarnya tulisan Bill Gates secara garis besar menyoroti dampak emisi karbon dan pemanasan global. Hal itu secara panjang lebar diurainya sebagai tantangan kehidupan masa mendatang.

Terdapat potensi bencana yang akan terjadi bila kita tidak mulai menyadari dampak bahaya yang dapat ditimbulkan akibat perubahan iklim yang terjadi. Kita jelas tidak dapat melarikan diri.

Bumi sebagai tempat hidup manusia dan segala modernitas yang telah dicapai, menghadirkan sisi kemajuan bersamaan dengan membawa kontras sisi kelam hasil eksploitasinya.

Kenaikan suhu permukaan bumi, meski hanya satu derajat celcius, tidak pelak menjadi sebuah ancaman terbuka bagi kemampuan dukungan alam bagi kehidupan manusia.

Pemanasan bumi, menyebabkan butterfly effect menjadi efek berkesinambungan dengan berbagai masalah lain, naiknya air muka laut, kematian spesies, kemarau panjang dan lainnya.

Hal itu, perlu ditinjau ulang, dipikirkan hingga dituntaskan dengan berbagai cara. Bagi Bill Gates keseluruhan persoalan ini dapat ditangani jika ada komitmen mereduksi emisi karbon.

Hal yang tidak tampak mendalam pada kajian Bill Gates adalah ulasan mengenai ketimpangan serta kesenjangan antar negara di tingkat dunia.

Eksploitasi industrial dilakukan oleh negara-negara maju, sementara itu bencana alam menjadi tanggungan bersama, termasuk bagi penduduk negara miskin di Asia dan Afrika.

Kompleksitas persoalan terjadi ketika dunia menggantungkan diri pada energi listrik yang bersumber dari bahan bakar fosil. Sektor transportasi juga demikian, plus aspek konsumsi.

Jumlah manusia yang semakin bertambah membutuhkan jaminan pangan, dan peternakan menjadi sumber dari emisi karbon yang tidak kalah besar dari berbagai sektor lainnya.

Faktor lain yang tidak kalah mengerikan adalah mulai hidup berdampingan koloni manusia dengan hewan-hewan liar yang tersisih akibat berkurangnya luasan habitat alaminya.

Di kondisi tersebut, penularan penyakit yang memungkinkan terjadinya wabah silang dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Bill Gates menyebut perlu cara bersama sebagai solusi.

Kekuatan itu terletak pada (i) kebijakan, rintisan politik dengan visi dan kepemimpinan sosial, (ii) inovasi, peran pengembangan penelitian serta teknologi, dan (iii) pasar, keterlibatan publik luas.

Dibutuhkan kesadaran dan kemauan untuk menghindari bahaya terbesar yakni kepunahan. Pada bagian penutup buku itu, Bill Gates berbicara pandemi yang merupakan aspek konsekuensi atas relasi perubahan iklim.

Efek rumah kaca dari emisi lima puluh miliar ton karbon ke udara mengakibatkan kemunculan berbagai penyakit baru, termasuk pandemi, Bill Gates menyarankan perlunya, (i) kolaborasi dalam kerja sama global, (ii) mengedepankan kekuatan riset dan ilmu pengetahuan, serta (iii) memberikan perhatian bagi pihak terlemah yang terdampak.

Lagi-lagi, kontemplasi Bill Gates menarik untuk dicermati, perlu dipahami bahwa dunia adalah milik serta tanggung jawab kita bersama, bukan hanya untuk hari ini tetapi juga bagi generasi mendatang.

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya