Berita

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ketua DPR RI Puan Maharani, dan Presiden Joko Widodo/Net

Suluh

Songsong 2024, PDIP Pecah 3 Kubu?

MINGGU, 27 JUNI 2021 | 14:56 WIB | OLEH: WIDIAN VEBRIYANTO

PDI Perjuangan merupakan satu-satunya partai pemilik tiket untuk mencalonkan pasangan presiden dan wakil presiden secara mandiri. Partai Banteng tidak butuh koalisi karena sudah mengantongi lebih dari 20 persen kursi di DPR.

Namun ketersediaan tiket itu justru menjadi awal dilema bagi PDIP. Bahkan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA sudah gamblang bagaimana Megawati Soekarnoputri sebagai Queen Maker dihadapkan pada dilema memilih Ganjar Pranowo atau Puan Maharani.

Di PDIP memang sudah terbelah menjadi dua kubu. Apalagi setelah Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul menempatkan Puan sebagai “Teh Botol Sosro”. Artinya, Pacul memastikan Ketua DPR RI itu bisa dipasangkan dengan siapa saja di Pilpres 2024.


Hanya saja, Pacul menggarisbawahi bahwa dirinya tidak menghendaki Ganjar Pranowo yang dicalonkan sebagai capres.

Di satu sisi, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengurai bahwa partainya akan mencalonkan presiden di Pilpres 2024. Ini lantaran amanah yang telah diberikan rakyat yang sangat besar hingga akhirnya PDIP mengantongi tiket Presidential Threshold.

Pendapat ini tentu agak bertentangan dengan “Teh Botol Sosro” yang digemborkan Pacul.

Sementara survei LSI Denny JA sendiri mengurai dilema yang dihadapi Megawati atas dua kubu tersebut. Kurang lebih LSI Denny JA ingin menyampaikan bahwa Megawati bisa saja mencalonkan Puan Maharani di pilpres, baik sebagai capres maupun cawapres. Tapi keputusan itu bisa membuat PDIP kalah di pemilu, baik pilpres maupun pileg, lantaran elektabilitas Puan yang minim.

Di satu sisi jika mencalonkan Ganjar Pranowo, Megawati berpotensi membawa PDIP menang di pilpres maupun pileg. Tapi, PDIP berpotensi kehilangan trah Soekarno dalam memimpin partai karena Ganjar punya potensi mengambil alih partai saat jadi presiden.

Namun yang disayangkan, LSI Denny JA kurang memasukkan satu variabel lain dalam surveinya. Yaitu dorongan Presiden Joko Widodo maju untuk periode ketiga.

Presiden Joko Widodo memang sudah tegas menolak wacana yang dilontarkan Direktur Eksekutif Indobarometer, M. Qodari itu. Bahkan disebut Jokowi bahwa wacana itu hanya digulirkan orang yang cari muka dan ingin  menjerumuskan dirinya serta menampar mukanya.

Tapi anehnya, Jokowi seperti “menikmati” wacana yang masif didengungkan Komunitas Jokowi-Prabowo (Jokpro) 2024 itu. “Menikmati” lantaran Jokowi tidak memberi teguran keras secara langsung kepada Qodari. Bahkan Qodari seperti mendapat ruang besar untuk memastikan tujuannya menduetkan Jokowi-Prabowo bukan hal mustahil.

Artinya, sekalipun Ketua PDIP Ahmad Basarah menyebut jabatan 3 periode jauh dari sikap politik PDIP, jika Jokowi tidak tegas membubarkan rombongan Qodari maka mau tidak mau kelompok PDIP ada yang ikut dalam rombongan kereta.

Saat ini memang belum diketahui pasti siapa lingkaran utama yang mendorong agar Jokowi lanjut di 2024. Patut diduga dorongan berasal dari lingkaran utama presiden yang selama dua periode merasa “nyaman”.

Bisa juga kelompok yang ingin proyek yang sudah dikerjakan bisa diteruskan dan dirampungkan di periode ketiga, sehingga “rezeki” tidak terputus.

Terlepas dari itu, PDIP, khusus Megawati Soekarnoputri, jika tidak mengambil sikap tegas dengan wacana 3 periode, maka akan ada kelompok dari PDIP yang memanfaatkan momentum sehingga ikut mendukung wacana yang bertentangan dengan konstitusi itu.

Bagi internal PDIP, kehadiran pendukung Jokowi 3 periode tidak hanya memecah kubu menjadi 3, tapi juga membuat partai kurang terkonsolidasi dan dikhawatirkan gagal melanjutkan kesuksesan sebagai partai pemenang pemilu.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya