Berita

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gerakan Titipan Rakyat (Getar) Aceh, Teuku Izin alias Apung/Ist

Politik

Berpotensi Bikin Gaduh, Getar Aceh Minta Semua Pihak Tidak Mempolitisasi Penyelidikan KPK

JUMAT, 25 JUNI 2021 | 08:31 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Upaya penyelidikan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Aceh disinyalir mulai dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi.

Untuk itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gerakan Titipan Rakyat (Getar) Aceh, Teuku izin alias Apung, meminta semua pihak agar tidak memanfaatkan situasi itu. Pun tidak mempolitisasi keberadaan penyelidikan KPK.

"Sebab, upaya politisasi proses hukum hanya akan membuat kegaduhan yang bermuara pada ketidakstabilan pemerintahan dan macetnya pembangunan," kata Apung dalam keterangannya yang diterima Kantor Berita RMOLAceh, Kamis (24/6).


Menurut Apung, dalam keadaan pandemi saat ini serta tingkat kemiskinan masih tinggi, dibutuhkan kenyamanan, stabilitas, dan iklim pemerintahan yang kondusif.

Hal tersebut untuk memastikan seluruh program pembangunan yang dijalankan Pemerintah Aceh dapat dilakukan untuk kepentingan rakyat.

Sehingga, lanjut Apung, upaya politisasi dan menggiring proses hukum ke ranah politik, hanya akan menciptakan kegaduhan, yang akan berimbas terhadap iklim investasi dan citra Aceh.

"Apalagi saat ini, Pemerintah Aceh bersama dengan pemerintah pusat, tengah menggalakkan investasi sektor kepariwisataan di provinsi ini," jelas Apung.

Ditambahkan Apung, kegaduhan itu dikhawatirkan akan mengagalkan komitmen Abu Dhabi berinvestasi di sektor pariwisata di Singkil. Pastinya akan terganggu.

KPK, kata dia, adalah lembaga hukum. Bekerja sesuai dengan aturan dan petunjuk serta bukti-bukti hukum. Oleh karena itu, semua pihak harus percaya terhadap kerja-kerja yang dilakukan lembaga antirasuah tersebut hari ini.

"Dan hendaknya, tidak ada politisasi, ataupun penggiringan opini oleh pihak manapun," ujarnya.

Apung pun menyesalkan adanya ulah segelintir pihak yang memprovokasi proses hukum dengan upaya politisasi dan penggiringan isu.

Dia meminta semua pihak menghormati institusi KPK sebagai penegak hukum, dengan tidak melakukan hal-hal yang berdampak pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Tambahan Dana BBM Subsidi Tembus Rp2 Triliun per Hari

Jumat, 10 April 2026 | 02:02

HIPKA Dorong Kepercayaan Pengusaha di Tengah Ketidakpastian Global

Jumat, 10 April 2026 | 01:26

Warga Dunia Khawatir Konflik Iran-Israel Kembali Pecah

Jumat, 10 April 2026 | 01:19

Perlu Hitungan Matang Jaga Ketahanan BBM

Jumat, 10 April 2026 | 01:04

Sandiaga Uno Raih Penghargaan Muzakki Teladan Berdampak

Jumat, 10 April 2026 | 00:31

Prabowo Cerdas Sikapi Wacana Impeachment

Jumat, 10 April 2026 | 00:18

Masa Depan Jakarta Ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 00:05

Gencatan Senjata Iran-Israel Bukan Akhir Konflik, Indonesia Wajib Waspada

Kamis, 09 April 2026 | 23:41

Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba Butuh Pemimpin Baru

Kamis, 09 April 2026 | 23:24

MRT Adalah Game Changer Transformasi Kota Tua Jakarta

Kamis, 09 April 2026 | 23:03

Selengkapnya