Berita

Aparat di Kota Kabul/Net

Dunia

Kabul Makin Genting, China Desak Warganya Segera Tinggalkan Afghanistan

SELASA, 22 JUNI 2021 | 06:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Otoritas China telah mengeluarkan peringatan kepada warganya yang saat ini ada di Afghanistan untuk lebih berhati-hati dan bersiap menghadapi situasi keamanan yang memburuk di negara itu.

Departemen Urusan Konsuler Kementerian Luar Negeri China bahkan telah mengeluarkan peringatan keselamatan pada Sabtu (19/6). Mereka mengharapkan warga dan institusi China di Afghanistan agar lebih berhati-hati, dan menyarankan mereka mengambil kesempatan penerbangan komersial internasional untuk pergi.

"Karena konflik internal yang terus menerus dan serangan teroris yang sering terjadi sejak awal tahun 2021, lingkungan keamanan di Afghanistan menjadi lebih serius dan kompleks," katanya, seraya menambahkan bahwa peringatan itu akan berlaku hingga akhir tahun 2021.


Sebelumnya, Kedutaan Besar China di Afghanistan juga membuat pengumuman pada 27 Mei yang memperingatkan agar orang-orang China untuk tidak pergi ke negara itu.

Langkah itu dilakukan di tengah 'kekosongan keamanan' di Afghanistan pasca penarikan pasukan yang dipimpin AS. Para ahli mengatakan ini mungkin akan menyebabkan potensi kekacauan di negara itu dan tidak memberikan jaminan bagi keselamatan warga asing di negara yang dilanda perang itu.

Mengutip beberapa sumber, media China Global Times (GT) melaporkan pada Senin (21/6), bahwa banyak warga China telah pergi sejak akhir 2020 dan mereka yang tetap tinggal diminta untuk menyimpan lebih banyak makanan dan persediaan jika terjadi keadaan darurat.

Seorang karyawan perusahaan China yang mengerjakan sebuah proyek di sekitar Kabul mengatakan kepada media tersebut pada hari Minggu (20/6), bahwa sulit untuk melanjutkan proyek mengingat situasi yang tidak stabil dan dampak epidemi. Orang-orang yang tinggal di sana tinggal di dalam rumah dan tidak bisa keluar.

"Alarm sering berbunyi dan tembakan kadang terdengar di sekitar lokasi proyek," kata karyawan tersebut, seraya menambahkan bahwa mereka sering melihat helikopter berputar-putar di atas.

Direktur Pusat Studi Afghanistan di Universitas Lanzhou, Zhu Yongbiao, mengatakan lingkungan keamanan di Afghanistan telah sangat memburuk setelah penarikan pasukan AS, yang membuat warga asing di sana berisiko lebih tinggi menjadi sasaran dan diserang.

"Ketidakstabilan Afghanistan sebelumnya setidaknya dapat diramalkan dan dikendalikan, tetapi sekarang pemerintah Afghanistan menjadi kurang mampu memberikan perlindungan yang cukup bagi warga asing di sana," katanya.

Zhu mengatakan jumlah orang asing di Afghanistan tidak besar tetapi kelompok orang China relatif lebih besar daripada beberapa warga negara asing lainnya.

Sementara ketua Dewan Tinggi untuk Rekonsiliasi Nasional Afghanistan, Abdullah Abdullah, mengatakan dalam sebuah laporan dari Nikkei Asia pada hari Senin bahwa penarikan pasukan NATO dari Afghanistan dapat menyebabkan "kekosongan keamanan" dan "peningkatan tingkat pertempuran."

Mengutip keterangan sejumlah warga China di Afghanistan, GT melaporkan bahwa pasokan makanan dan sayuran masih stabil di ibu kota Kabul. Kedutaan juga telah meminta proyek China setempat untuk menyediakan persediaan darurat yang cukup untuk 45 hingga 60 hari, termasuk makanan, air dan persediaan anti-epidemi, untuk mengatasi kemungkinan kenaikan harga dan kekurangan pasokan jika terjadi konflik di daerah sekitar ibukota.

Sayuran juga telah ditanam di banyak lokasi untuk menyediakan penyangga jika terjadi keadaan darurat.

Mansoor Faizy, pemimpin redaksi Afghanistan Times, mengatakan kepada GT bahwa peringatan yang dikeluarkan oleh banyak misi diplomatik di Kabul agar warganya meninggalkan Afghanistan adalah "bukan pertanda baik sama sekali".

"Kabul tidak lagi kota yang aman bahkan setelah kehadiran pasukan asing selama hampir 20 tahun," katanya.

"Perjuangan masyarakat internasional melawan ekstremisme dan untuk membawa stabilitas di Afghanistan telah gagal, dan AS menarik diri, meninggalkan Afghanistan ke masa depan yang tidak pasti," katanya.

"Setiap negara khawatir dengan warganya yang ditempatkan di Afghanistan, tetapi bagaimana dengan warga Afghanistan yang berkorban karena kebijakan masyarakat internasional yang gagal?" tanyanya.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya