Berita

Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing/Net

Dunia

PBB Buat Resolusi Embargo Senjata, Myanmar: Tidak Dapat Diterima

MINGGU, 20 JUNI 2021 | 06:22 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Myanmar telah menolak resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menyerukan embargo senjata sebagai akibat dari kudeta militer pada Februari.

Pada Jumat (18/6), sebanyak 119 negara telah menyetujui resolusi tersebut, dan Belarusia memilih tidak. Sementara 36 negara lainnya abstain, termasuk China, India, dan Rusia.

Resolusi tersebut berisi kutukan PBB atas kudeta yang dilakukan militer terhadap pemerintahan Aung San Suu Kyi. PBB juga mendesak junta untuk mengembalikan transisi demokrasi, serta mengutuk kekerasan berlebihan setelah kudeta.


Di dalam resolusi itu, PBB juga meminta semua negara untuk mencegah aliran senjata ke Myanmar.

Lebih lanjut, PBB juga meminta angkatan bersenjata Myanmar untuk segera dan tanpa syarat membebaskan Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, serta pejabat dan mereka yang ditahan sewenang-wenang.

Menanggapi hal itu, Kementerian Luar Negeri Myanmar mengirim surat keberatan pada Sekjen PBB dan Presiden Majelis Umum PBB pada Sabtu (19/6).

Kementerian menyebut resolusi tersebut tidak mengikat secara hukum dan dibuat berdasarkan tuduhan sepihak dengan asumsi yang salah.

Selain itu, kementerian menegaskan pihaknya telah memberhentikan Dutabesar Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun.

“Oleh karena itu, pernyataannya, partisipasi dan tindakannya dalam pertemuan itu tidak sah dan tidak dapat diterima dan Myanmar sangat menolak partisipasi dan pernyataannya,” jelas kementerian, seperti dimuat Channel News Asia.

"Sementara Myanmar menerima saran konstruktif dari komunitas internasional dalam mengatasi tantangan yang dihadapi Myanmar, setiap upaya yang melanggar kedaulatan negara dan campur tangan dalam urusan internal Myanmar tidak akan diterima," tambah kementerian.

Sebelumnya, Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan resolusi untuk mengutuk penggunaan kekerasan yang dilakukan junta terhadap pengunjuk rasa damai, serta menyerukan junta untuk memulihkan transisi demokrasi dan menahan diri dari kekerasan.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya