Berita

Kenneth Kaunda, pendiri Zambia dan pendiri hubungan China-Zambia bersalaman dengan politkus dan filsuf terkenal yang juga pendiri Republik Rakyat Tiongkok, Ketua Mao Zedong/Repro

Dunia

China Berduka Atas Meninggalnya Pendiri Zambia Kenneth Kaunda, Saksi Teori 'Tiga Dunia' Mao Zedong

SABTU, 19 JUNI 2021 | 13:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah bersama rakyat China ikut merasakan kehilangan yang dalam atas kepergian Kenneth Kaunda, presiden sekaligus pendiri Zambia dan pendiri hubungan China-Zambia.

Kenneth Kaunda atau yang akrab disapa KK, meninggal pada Kamis (17/6) waktu setempat, di Lusaka, ibu kota Zambia, di usia 97 tahun, karena radang paru-paru.

Banyak orang di China yang menghargai kenangan sosok yang mengabdikan hidupnya untuk kemerdekaan dan pembangunan Zambia ini. KK telah melakukan upaya luar biasa dalam mempromosikan persahabatan antara China dan Zambia, serta China dan Afrika.


"China sangat berduka atas kematian Kenneth Kaunda, presiden pendiri Zambia," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian, seperti dikutip dari Global Times, Sabtu (19/6).

"Kaunda adalah teman lama dan kawan yang baik bagi orang-orang China, yang telah lama berkomitmen untuk persahabatan China-Zambia," kata Zhao.

Di media sosial Tiongkok, banyak netizen yang ikut membagikan dan meneruskan video yang menunjukkan pertemuan politkus terkenal Ketua Mao Zedong dengan Kaunda di Beijing pada tahun 1974.

Dalam video tersebut, Mao dengan hangat berjabat tangan dan berbicara dengan Kaunda, yang memakai lencana Mao.

Mao mengemukakan teori 'Tiga Dunia' yang terkenal dalam pertemuan itu, mengungkapkan kesediaan China untuk berteman dengan negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Lahir pada April 1924, Kaunda adalah pemimpin gerakan kemerdekaan Afrika, politisi dan aktivis sosial yang terkenal secara internasional, yang telah memberikan kontribusi bersejarah bagi kemerdekaan Zambia dan gerakan pembebasan Afrika selatan.

Dia juga telah aktif mendorong persahabatan dan kerjasama antara Zambia dan China sepanjang hidupnya. Dia mengumumkan bahwa Zambia akan menjalin hubungan diplomatik dengan China pada 24 Oktober 1964, hanya sehari setelah Zambia mendeklarasikan kemerdekaannya.

Dengan upaya kedua belah pihak, China dan Zambia segera secara resmi membangun hubungan diplomatik dan mengirim duta besar satu sama lain pada 29 Oktober tahun itu.

Semasa hidup, Kaunda selalu menunjukkan dukungannya yang teguh kepada China. Dia telah berkontribusi besar pada pemulihan kedudukan sah Republik Rakyat Tiongkok di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dia pernah mengatakan di mimbar PBB bahwa salah jika PBB tidak memiliki perwakilan dari Republik Rakyat Cina.

Kaunda juga telah mengecam tuduhan orang Barat yang mengatakan bahwa China mengambil sumber daya di Afrika.

Di tengah peringatan 45 tahun pembentukan hubungan diplomatik China-Zambia pada tahun 2009, dia mengatakan kepada media China bahwa (beberapa kekuatan Barat) yang menuduh China datang ke sini untuk mengambil kekayaan, sebenarnya telah datang ke benua itu selama ratusan tahun untuk merebut manfaat ekonomi.

"China, sebaliknya, telah membantu banyak negara di Arika, termasuk Zambia, untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan terus bekerja dengan negara-negara tersebut untuk membantu mereka mengembangkan ekonomi mereka," kata Kaunda saat itu.

Dia mengutip Otoritas Kereta Api Tanzania-Zambia (TAZARA), mengatakan proyek yang dikembangkan oleh China pada 1970-an adalah bagian dari kontribusi China untuk pengembangan Afrika, dan model persahabatan antara Afrika dan China.

"Itulah yang dilakukan China - membantu kami, sebagai teman, teman sejati," kata Kaunda dalam sebuah wawancara dengan Xinhua News Agency pada Oktober 2009.

Pada November 2009, Kaunda dihormati dengan Penghargaan Persahabatan China-Afrika di Beijing, dan terpilih sebagai salah satu dari 'Lima Orang Afrika yang Sangat Menggerakkan Rakyat China'.

Istilah kreatif 'teman segala cuaca', yang secara gamblang menggambarkan persahabatan yang tetap kuat dalam segala kondisi, pertama kali dikemukakan oleh Kaunda.

Puluhan tahun kemudian, 'teman segala cuaca', yang sering disebut-sebut oleh para pemimpin China dan beberapa negara Afrika dalam berbagai kesempatan, telah menjadi saksi khusus yang menyoroti hubungan China-Afrika yang sudah berlangsung lama, kata para pengamat.

Kaunda telah mengunjungi Tiongkok beberapa kali dari tahun 1960-an hingga 2010-an. Dia bertemu dan berbicara dengan para pemimpin China di Beijing atau Lusaka, terus mengkonsolidasikan dan mempromosikan hubungan China-Zambia selama beberapa dekade.

Kaunda menjadi saksi pertama teori 'Tiga Dunia' Ketua Mao dalam kunjungan keduanya ke China pada tahun 1974.

"Menurut pandangan saya, Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah milik dunia pertama. Antara Jepang, Eropa, dan Kanada adalah milik ke dunia kedua. Dunia ketiga sangat padat penduduknya. Kecuali Jepang, Asia termasuk dunia ketiga. Begitu juga seluruh Afrika dan Amerika Latin,' kata Mao, yang saat itu berusia 81 tahun, kepada Kaunda.

Kaunda menjawab bahwa dia setuju dengan analisis Mao, mengatakan bahwa itu tepat dan akurat.

Selama bertahun-tahun, China, sebagai anggota Dunia Ketiga, telah dengan tegas mendukung negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Zambia, dalam perjuangan mereka melawan hegemoni dan campur tangan negara adidaya Barat dan mengejar pengembangan diri.

People's Daily melaporkan bahwa Presiden Hu Jintao memiliki komunikasi yang menyeluruh, hangat dan tulus dengan Kaunda pada tahun 2007 di Lusaka, dengan keduanya melihat kembali sejarah dan persahabatan antara kedua negara.

Presiden Hu dengan hangat menyambut Kaunda yang berusia 83 tahun pada 4 Februari 2007 di Lusaka saat itu.

Dia mengatakan kepada Kaunda: "Anda adalah teman lama orang-orang China. Anda dan generasi tua pemimpin China termasuk Ketua Mao Zedong, Perdana Menteri Zhou Enlai dan Kamerad Deng Xiaoping telah menjalin persahabatan yang mendalam. Saya sangat senang melihat Anda hari ini."
Kaunda menjawab bahwa sangat menyenangkan bisa menyapa para pemimpin dari China - teman Zambia di segala cuaca - di Lusaka. Orang-orang China selalu menjadi teman sejati Zambia, katanya.

"Ada pepatah Tiongkok kuno: Jangan lupakan penggali sumur sambil minum air. Pemerintah dan rakyat Tiongkok tidak akan pernah melupakan kontribusi luar biasa Anda bagi perkembangan persahabatan Tiongkok-Zambia dan Tiongkok-Afrika," jawab Presiden Hu emosional.

Hu saat itu memuji bahwa "selama masa jabatan Anda sebagai Presiden Zambia, Kereta Api Tanzania-Zambia, yang dibangun oleh Tiongkok, Zambia, dan Tanzania, telah menjadi monumen dalam sejarah hubungan Tiongkok-Zambia, Tiongkok-Tanzania, dan Tiongkok-Afrika," menurut People's Daily.

Ketika Kaunda mengunjungi China pada 2011. Saat itu hubungan China dan Zambia mengalami titik nadir menyusul partai baru yang menjabat di negara Afrika tersebut. Pada 24 November, Kaunda bertemu dengan  Xi Jinping -yang pada saat itu adalah wakil presiden China- di Beijing. Kaunda memiliki kesan mendalam terhadap Xi.

Kaunda mengatakan bahwa dia khawatir dengan situasi saat itu, tetapi Xi mengatakan kepadanya bahwa persahabatan di segala cuaca antara kedua negara, yang didirikan oleh generasi tua pemimpin China dan Zambia, memainkan peran penting dan memiliki pengaruh besar dalam hubungan China-Afrika, kata Kaunda.

Xi mengatakan kepada Kaunda bahwa China selalu menghargai persahabatan tradisional dan sangat mementingkan hubungan China-Zambia.

Kaunda pun mengatakan bahwa Xi adalah orang yang tulus dan rendah hati, mengungkapkan keinginannya untuk menjaga persahabatan antara kedua negara. Kaunda mengatakan dia ingat dengan jelas apa yang dikatakan Xi bahwa dia bersedia bekerja dengan pemerintah baru Zambia untuk memperdalam persahabatan dan mempromosikan kerja sama pragmatis.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya