Berita

Ketua DPP Partai Nasdem Willy Aditya/RMOL

Politik

Bagi Nasdem, Terlalu Dini Batasi Calon Mitra Koalisi Pilpres 2024

SENIN, 31 MEI 2021 | 13:12 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Partai Nasdem tidak mau terbawa arus dengan membatasi komunikasi dengan partai politik lain dalam menjajaki pembentukan koalisi merebut kursi di pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Sebelumnya, Sekretaris PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, partainya tidak akan pernah berkoalisi dengan PKS dan Partai Demokrat karena adanya perbedaan ideologi.

Bagi Ketua DPP Partai Nasdem Willy Aditya, terlalu dini membatasi calon mitra koalisi saat masih ada waktu yang cukup panjang menuju Pilpres 2024.


"Nanti kita lihat, itu terlalu dini untuk memarking itu," ujar Willy di Gedung Nusantara II, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/5).

Willy menjelaskan, secara prinsip Partai Nasdem ingin menjalin kerjasama politik dengan banyak mitra. Dikatakan Willy, semakin banyak kawan, akan lebih baik.

"Jadi kita fatsunnya begini saja satu lawan terasa banyak, seribu kawan terasa sedikit, itu fatsun yang kemudian harus kita bangun dalam membangun koalisi," terangnya.

"Sebanyak mungkin dan siapa saja kan tentu masing-masing memiliki garis kepartaian," imbuhnya.

Willy menambahkan, khusus terkait Pilpres nanti kerjasama politik akan lebih banyak ditentukan dari figur yang akan diusung daripada ideologi masing-masing partai.

"Cuma kan titik temunya di siapa? Titik temunya di kandidat, itu yang harus kita baca," pungkasnya.

Hasto mengulas alasan tidak memungkinkan berkoalisi dengan Partai Demokrat dan PKS.

Kata Hasto, PDIP sulit koalisi dengan Partai Demokrat dan PKS karena memiliki basis ideologi yang berbeda.  

"PDIP berbeda dengan PKS karena basis ideologinya berbeda, sehingga sangat sulit untuk melakukan koalisi dengan PKS. Itu saya tegaskan sejak awal," kata Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto dalam webinar Para Syndicate bertema 'Membaca Dinamika Partai dan Soliditas Koalisi Menuju 2024', Jumat (28/5).

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya