Berita

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari/Repro

Politik

Qodari: Ibarat Kawin Gantung, Koalisi PDIP Dan Gerindra Tinggal Tunggu Peresmian

JUMAT, 28 MEI 2021 | 17:38 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Koalisi antara PDI Perjuangan dan Partai Gerindra hanya menunggu waktu untuk diumumkan secara resmi sebelum Pemilu 2024.

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, bahkan mengistilahkan hubungan antara PDIP dan Gerindra seperti 'kawin gantung' yang menunggu disahkan secara resmi.

“Menurut saya, hampir pasti PDIP ini berkoalisi dengan Gerindra. Bahkan istilahnya PDIP dengan Gerindra ini sudah kawin gantung begitu, tinggal menunggu peresmiannya,” ujar Qodari kepada wartawan, Jumat (28/5).


Ditambahkan Qodari, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi terbentuknya koalisi PDIP dan Gerindra.

Pertama adalah soal kedekatan ideologi antara PDIP dan Gerindra yang keduanya sama-sama mengusung, menurut istilah Qodari, ideologi nasionalis proteksionis.

“Kedekatan ideologi antara PDIP dengan Gerindra sama-sama partai nasionalis proteksionis, itu istilah saya untuk menggambarkan suatu spektrum ideologi yang nasionalis yang berusaha memproteksi kalangan kelas menengah ke bawah, berbeda dengan nasionalis pro kapital atau pasar bebas,” terangnya.

Kedua, lanjut Qodari, faktor hubungan kesejarahan antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Hubungan kesejarahannya panjang, kepulangan Pak Prabowo ke Indonesia itu ada peran Ibu Mega dan almarhum Pak Taufik Kiemas dan menurut saya itu tidak bisa dilupakan dan tidak mungkin dilupakan,” tuturnya.

Ketiga, kata Qodari, kedekatan pribadi antara Prabowo Subianto dengan Joko Widodo. Walaupun dua kali menjadi rival, tetapi kedekatan Prabowo dan Jokowi tidak bisa ditutupi.

Dalam pandangan Qodari, ada beberapa opsi formasi pasangan yang bisa diusung jika PDIP dan Gerindra resmi berkoalisi.

Opsi pertama, jika terjadi amandeman UUD 1945 maka Jokowi akan maju lagi menjadi capres didampingi Prabowo sebagai cawapresnya. Sebagai konsekuensi, pasangan tersebut kemungkinan besar akan melawan kotak kosong.

Opsi kedua, apabila amandeman UUD 1945 tidak terjadi. PDIP harus mengajukan nama untuk menjadi cawapres pendamping Prabowo.

“Opsi yang paling mungkin saat ini adalah Puan Maharani, tetapi belum pasti. Karena perjalanan politik menuju pendaftaran calon bulan Juni 2023 masih dua tahun lagi," pungkasnya.

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya