Berita

Ganjar Pranowo dinilai kurang memahami narasi 'petugas partai' dari Megawati/Net

Politik

Ganjar Pranowo Tak Paham Narasi 'Petugas Partai' Dari Megawati

RABU, 26 MEI 2021 | 10:12 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Narasi 'petugas partai' yang sering didengungkan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, tampaknya tidak dipahami oleh Ganjar Pranowo dengan baik.

Padahal, narasi yang sering diarahkan untuk Presiden Joko Widodo itu juga ditujukan kepada semua kader PDIP.

Demikian analisis dari analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, menanggapi konflik internal PDIP antara Ganjar dengan Puan Maharani menuju Pilpres 2024 mendatang.


"Ganjar Pranowo gagal memahami budaya politik PDIP dalam enam tahun terakhir, dan PDIP gagal memahami perubahan budaya politik masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah," ujar Ubedilah kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (26/5).

Menurut Ubedilah, dalam 6 tahun terakhir, PDIP seperti disandera oleh keterpaksaannya mendukung Jokowi sejak Pilpres 2014 hingga 2019.

"Sebab faktanya berkali-kali Megawati marah kepada Jokowi, sehingga Megawati menegaskan bahwa kader PDIP adalah petugas partai, termasuk Presiden Jokowi harus tunduk pada arahan partai," kata Ubedilah.

Narasi tersebut, sambung Ubedilah, sesungguhnya merupakan teguran keras dari Megawati. Sehingga pada waktu itu, Jokowi akhirnya melakukan reshuffle kabinet dan menambah jatah kursi kabinet untuk PDIP.

Narasi petugas partai dari Megawati inilah yang disebut Ubedilah sebagai salah satu perubahan budaya politik PDIP. Tapi tampaknya tidak dipahami oleh Ganjar Pranowo secara baik.

"Komunikasi langsung antara Ganjar Pranowo dan Megawati dalam bingkai petugas partai ini tidak berjalan dengan baik. Di sisi lain, Ganjar sibuk menangkap sinyal demokrasi digital yang begitu kuat saat ini soal pentingnya menyapa publik secara intensif melalui media digital yang kemudian mendongkrak popularitasnya," sambung Ubedilah.

Di satu sisi, elite PDIP di Jakarta, menurut pandangan Ubedilah, lebih fokus terhadap apa yang dilakukan Ganjar secara subjek, bukan sebagai Gubernur Jawa Tengah.

Mereka tidak melihat dinamika masyarakat Jawa Tengah dengan segala kompleksitas digital dan mampu direbut oleh Ganjar dengan baik.

"Sehingga terus membuat Ganjar mengalami kenaikan elektabilitas. Desakan masyarakat digital pada Ganjar Pranowo ini mirip-mirip dengan kasus Jokowi. Tetapi elite PDIP tampaknya makin sadar bahwa situasi seperti ini tidak selamanya akan menguntungkan PDIP," terang Ubedilah.

Namun di sisi lainnya, kata Ubedilah, Ganjar juga lupa bahwa saat ini PDIP memiliki Putri Mahkota yang berpengalaman sebagai Menko dan kini menjabat Ketua DPR RI, yaitu Puan Maharani.

"Pada Pilpres 2014 saat Jokowi mengalami situasi dukungan masyarakat digital, saat itu Putri Mahkota belum punya pengalaman sebagai Menteri dan Ketua DPR RI. Sehingga tidak ada kompetitor kuat di internal PDIP. Jadi Ganjar Pranowo secara internal menghadapi kompetitor yang kuat di internal PDIP saat ini, berbeda dengan Jokowi saat itu," pungkas Ubedilah.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya