Berita

Para Kaisar menandatangani Perdamaian Westphalia untuk akhiri Perang Tiga Puluh Hari/Net

Histoire

Konflik Besar Dua Agama Dalam 'Perang Tiga Puluh Tahun'

SABTU, 22 MEI 2021 | 06:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Konflik agama telah terlangsung berabad-abad lalu. Di Eropa tengah, konflik yang melibatkan dua agama besar telah meletuskan perang panjang selama tiga puluh tahun di wilayah yang saat ini disebut menjadi bagian dari Jerman, yang berlangsung antara 1618 hingga 1648.

Sejarah mencatatnya sebagai 'Perang Tiga Puluh Tahun'. Merupakan salah satu perang terpanjang dan paling brutal dalam sejarah manusia. Lebih 8 juta orang tewas akibat pertempuran militer yang disertai dengan kelaparan dan wabah penyakit.

Pertempuran antara kelompok Katolik dan Protestan untuk membentuk Kekaisaran Romawi Suci ini mengubah wajah geopolitik Eropa dan peran agama.


Meskipun tampak sebagai konflik keagamaan, perang ini juga merupakan saingan antara dinasti Habsburg dan Perancis.

Dimulai dengan ditunjuknya Kaisar Ferdinand II menjadi kepala negara Kekaisaran Romawi Suci pada tahun 1619, konflik agama pun mulai terjadi.

Salah satu tindakan pertama Ferdinand II adalah memaksa warga kekaisaran untuk menganut Katolik Roma. Padahal, kebebasan beragama telah disepakati sejak tahun 1555 dengan ditandatanganinya Perdamaian Augsburg yang memungkinkan para pangeran dari negara-negara di dalam wilayah tersebut untuk mengadopsi Lutheranisme / Calvinisme atau Katolik dalam domain masing-masing.

Kekaisaran Romawi Suci telah menguasai sebagian besar Eropa pada saat itu, meskipun kaisar dari House of Habsburg, memiliki otoritas terbatas atas pemerintahan mereka.

Keputusan Ferdinand yang memaksakan agama terhadap rakyatnya, membuat bangsawan Bohemian di Austria dan Republik Ceko tidak mengakui kedudukan Ferdinand II. Mereka menunjukkan ketidaksenangan mereka dengan melemparkan perwakilannya keluar jendela di Kastil Praha pada tahun 1618.

Defenestrasi Prague, atau pelemparan Praha, yang merujuk pada sikap atau tindakan melempar sesuatu ke jendela atau pintu sebagai sikap tidak senang, menjadi awal dari pemberontakan terbuka di negara bagian Bohemian - yang mendapat dukungan dari Swedia dan Denmark-Norwegia - dan awal dari Perang Tiga Puluh Tahun.

Pelemparan di Praha atau Defenestrations of Prague, atau di Ceko dikenal sebagai Pražská defenestrace, adalah dua insiden dengan dampak besar dalam sejarah Bohemia. Secara harfiah 'defenestrasi' artinya tindakan melempar seseorang atau sesuatu keluar dari jendela. Peristiwa Pelemparan di Praha pertama terjadi pada tahun 1419, yang bermuara pada Perang Husite yang berlangsung hampir 20 tahun. Peristiwa ini menjadi tema beberapa lukisan, sekaligus menjadi ilustrasi indah dalam bentuk Lego. Sedangkan Pelemparan di Praha yang kedua, terjadi pada tahun 1618, di mana peristiwa ini memicu konflik berkepanjangan di Bohemia dan menjadi alasan terjadinya Perang Tiga Puluh Tahun. Istilah "Pelemparan di Praha" lazim digunakan untuk merujuk pada insiden kedua ini.

Kedua peristiwa Pelemparan di Praha merupakan bentuk pertarungan atas kedaulatan spiritual Tanah Ceko, yang menggambarkan konflik lama antara Gereja Katolik dan Protestan di Cekoslowakia.

Peristiwa pertama pada tahun 1419 merupakan upaya dalam melanjutkan reformasi Gereja Katolik yang dibuat oleh Jan Hus, yaitu seorang filsuf dan pembaharu agama Protestan. Peristiwa kedua pada tahun 1618 merupakan pertempuran untuk mempertahankan kebebasan beragama yang telah dideklarasikan sebelumnya.

Menanggapi keputusan Ferdinand II untuk mencabut kebebasan beragama, negara-negara bagian Bohemian utara yang mayoritas beragama Protestan dari Kekaisaran Romawi Suci berusaha untuk melepaskan diri. Mereka pun memecah belah.

Tahap pertama dari Perang Tiga Puluh Tahun, yang juga disebut sebagai Pemberontakan Bohemian,  menandai awal dari konflik benua yang sesungguhnya. Selama lebih dari satu dekade pertama pertempuran, bangsawan Bohemian membentuk aliansi dengan negara-negara Uni Protestan di tempat yang sekarang disebut Jerman, sementara Ferdinand II mencari dukungan dari keponakan Katoliknya, Raja Phillip IV dari Spanyol.

Tentara kedua belah pihak terlibat dalam peperangan brutal di berbagai front, di Austria saat ini dan di timur di Transylvania, di mana tentara Kekaisaran Ottoman bertempur bersama Bohemians (dengan imbalan iuran tahunan yang dibayarkan kepada sultan) melawan Polandia, yang berada di pihak Habsburg.

Perang mungkin berlangsung selama 30 tahun, tetapi konflik yang memicunya dan dampak yang ditimbulkannya berlangsung sangat lama.

Pada 1648, berbagai pihak dalam konflik akhirnya menandatangani serangkaian perjanjian yang disebut Perdamaian Westphalia, yang secara efektif mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun - meskipun bukan tanpa efek geopolitik yang signifikan bagi Eropa.

Perjanjian Westphalia adalah serangkaian kesepakatan perdamaian yang ditandatangani antara 15 Mei sampai 24 Oktober 1648 di Provinsi Westphalia, sekarang bagian dari Jerman.

Mengutip laman History, para sejarawan percaya bahwa Perdamaian Westphalia meletakkan dasar bagi pembentukan negara-bangsa modern, menetapkan batas-batas tetap bagi negara-negara yang terlibat dalam pertempuran dan secara efektif menyatakan bahwa penduduk suatu negara tunduk pada hukum negara tersebut dan bukan untuk institusi lain, sekuler atau religius.

Perang Tiga Puluh Tahun yang brutal telah menewaskan begitu banyak rakyat sipil. Mereka tewas bukan saja karena kekejaman tentara tetapi juga karena kelaparan dan wabah tifus, penyakit yang menyebar dengan cepat di daerah-daerah yang tercabik-cabik oleh kekerasan.

Sejarawan juga percaya perburuan penyihir Eropa pertama dimulai selama perang, karena penduduk yang mencurigakan mengaitkan penderitaan di seluruh Eropa pada saat itu dengan penyebab 'spiritual'.

Akibat perang ini juga menumbuhkan ketakutan dan ketidakpercayaan antara masyarakat yang berbea etnis dan agama. Bahkan, sentimen ini bertahan sampai tingkat tertentu, hingga hari ini.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya