Berita

Maryam Afifi/Net

Publika

Maryam Afifi Dan Pesan Dari Syaikh Jarrah

MINGGU, 16 MEI 2021 | 03:55 WIB

TENTARA Israel menarik rambut Maryam Afifi dan menyeretnya laiknya menyeret binatang. Namun, musisi dan aktivis Palestina yang baru menginjak usia 26 tahun itu tetap tenang.

Tubuh wanita cantik anggota Palestine Youth Orchestra itu kemudian ditendang, dipukuli, untuk kemudian diborgol di hadapan puluhan tentara Israel dan ribuan demonstran di jalan Perkampungan Syaikh Jarrah, Yerusalem Timur.

Malam itu di tengah aksi solidaritas untuk mempertahankan Perkampungan Syaikh Jarrah, Maryam berusaha untuk menolong seorang wanita muda yang tergeletak di tengah jalan sesudah dipukuli dan ditendang secara brutal oleh tentara Israel.


Nuraninya menjerit, ia berusaha menerobos tentara Israel yang melakukan tindakan biadab pada perempuan itu. Ia berusaha merengkuh dan membopong wanita itu, namun Maryam ditarik, dipukuli, dan ditendang untuk kemudian kedua tangannya diborgol.

Perlakuan kasar dan tidak manusiawi yang Maryam terima dari tentara zionis Israel hanya karena keinginannya menolong korban kekerasan aparat zionis Israel sama sekali tidak membuat Maryam menangis atau berteriak meminta ampun.

Dengan pergelangan tangan yang masih diborgol, ia mengirimkan senyum kepada para pemimpin negara-negara barat yang selama ini diam membisu dengan kebiadaban dan kebrutalan penjajah zionis Israel.

Senyuman bangga dan bahagia menjadi satu dari puluhan ribu masyarakat Palestina yang membangun solidaritas untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Perkampungan Sheikh Jarrah yang akan dirampas, penduduknya akan diusir oleh zionis Israel untuk kemudian akan dibangun pemukiman Yahudi oleh mereka.

Sebuah senyum yang menggambarkan kekuatan dan keberanian dirinya. Dengan tangan masih diborgol ia bertanya pada tentara-tentara Israel yang menyeret dan memukulinya, “Apa yang kamu rasakan? Aku tahu kamu seorang manusia. Dan mungkin kamu juga punya keluarga dan anak-anak. Apakah kamu ingin anakmu tumbuh dewasa membela orang yang salah? Membela penjajah?”

Tentara Israel hanya terdiam dengan pertanyaan-pertanyaan Maryam yang menohok nurani kemanusiaan mereka.

Beberapa jam pasca penyerangan jemaah shalat Taraweh di Masjid Al-Aqsha yang melukai 200 jamaah dan kerusuhan di Syaikh Jarrah, Grand Syaikh al-Azhar Asyarif, Prof Dr Ahmad Tayyib memberikan solidaritas dan mengutuk kebiadaban Israel melalui siaran persnya.

Keberpihakan Al-Azhar pada rakyat Palestina tergambar jelas dalam siaran ini: “Sungguh perbuatan biadab di serambi Masjidil Al-Aqsha, pelecehan tempat suci dengan tindakan represif pada Jama’ah shalat tarawih, setelah sebelumnya juga tindakan keji kelompok bersenjata terhadap aksi unjuk rasa damai di Kampung Syaikh Jarrah, Yerusalem Timur dengan mengusir paksa penduduknya. Mereka yang bertindak adalah teroris zionis di tengah “bungkamnya dunia” yang memilukan.”

Al-Azhar, ulama dan seluruh kolega civitas akademiknya menyatakan solidaritas bulat bersama rakyat Palestina yang teraniaya dalam menghadapi penindasan zionis dan kroninya, sembari memohon kepada Allah, semoga Allah menjaga mereka dengan cara-Nya dan memenangkan mereka dengan cara-Nya, karena mereka adalah yang berhak atas kebenaran, tanah dan semua tentang keadilan.”

Pada Ramadhan kali ini Perkampungan Syaikh Jarrah dengan penderitaan dan tangisan warganya tiba-tiba mendunia karena menjadi pemantik konflik Palestina-Israel. Perkampungan yang berada di Nablus dan berjarak sekira 3 km dari Serambi Al-Qasha itu mempunyai akar historis yang begitu mendalam bagi umat Islam. Tidak banyak umat Islam yang mengetahui sejarah tempat ini kenapa dinamai Perkampungan Syaikh Jarrah.

Bagi para peziarah Masjid Al-Aqsha mungkin familiar dengan Perkampungan Syaikh Jarrah yang namanya diambil dari nama Husamuddin bin Syarifuddin Isa al-Jarrahi (w. 598 H/1202 M). Husamuddin bin Syarifuddin Isa pada masanya merupakan panglima perang ternama yang membebaskan kota Yerusalem dalam perang Salib (20 September 1187).

Beliau juga merupakan salah satu Amir (Gubernur) pada era kepemimpinan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Kepandaianya dalam ilmu medis membuat Husamuddin diangkat menjadi tabib pribadi Shalahudin al-Ayubi. Shalahudin al-Ayyubi jualah yang menjuluki Husamuddin bin Syarifuddin Isa dengan julukan al-Jaraakhi yang berarti orang yang pandai menyembuhkan sakit orang lain.

Pada perjalanannya, julukan yang diberikan oleh Shalahudin al-Ayyubi itu mashur dikenal masyarakat luas sampai beliau meninggal di Nablus, Yerusalem Timur untuk kemudian jasadnya disemayamkan di kawasan tersebut. Kawasan di sekitar pusara beliau inilah yang kemudian disebut perkampungan Syaikh Jarrah.

Setiap harinya pusara beliau dipenuhi oleh para peziarah dari berbagai penjuru dunia sehingga menyebabkan pusara beliau tak pernah sepi dari lantunan tahlil, tasbeh, dan tilawah Al Quran.
Di samping pusara beliau terdapat sebuah masjid dengan prasasti bertuliskan kalimat yang berbunyi: “Inilah kuburan Amir Husamuddin al-Husain bin Isa al-Jarrahi. Semoga Allah merahmatinya dan merahmati orang-orang yang mencintai beliau. Wafat menuju Rahmat Allah pada bulan Shafar 598.”

Solidaritas, perjuangan, dan kebersamaan masyarakat Palestina dari Perkampungan Syaikh Jarrah dan Senyum Maryam Afifi seumpama mengajarkan kepada kita umat Islam di dunia bahwa menjaga al-Aqsha adalah panggilan spiritual seperti engkau dipanggil oleh Tuhanmu untuk melakukan ibadah-ibadah lainnya.

Di sana, di sudut kota Nablus, dari Perkampungan Syaikh Jarrah, Maryam Afifi mengajarkan kepada kita heroisme, keberanian, kegigihan, dan kesungguhan dalam melawan tirani dan penjajahan zionis Israel yang ia tiru dari heroisme dan kesatrianya Salahuddin al-Ayyubi dan Husamuddin al-Husain bin Isa al-Jarrahi ketika menaklukkan Yerusalem.

Alhasil, apabila qiblat pertama umat Islam dan tempat mikraj Rasulullah ini tidak lagi bisa memanggil hatimu untuk membangun solidaritas bersama masyarakat Palestina, niscaya kelak Al-Aqsha hanyalah tersisa sebagai lembaran-lembaran sejarah yang akan dibaca oleh anak cucu Anda.

Al-Aqsha bukanlah sebatas kordinat dalam peta geografi, ia adalah keimanan dan aqidah yang seharusnya senantiasa hidup dan tertanam dalam sanubari umat Islam di manapun Anda berada!

Mujahidin Nur

Anggota Komisi Infokom MUI
Direktur The Islah Centre, Jakarta


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya