Berita

Peta Ethiopia/Net

Jaya Suprana

Ethiopia Bangkit Dari Reruntuhan Prahara

RABU, 05 MEI 2021 | 09:29 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MALAPETAKA wabah kelaparan dahsyat menimpa Ethiopia sejak 1983 sampai dengan 1985 menewaskan 1,2 juta rakyat, 2,5 juta warga terpaksa mengungsi dan sekitar 200.000 anak menjadi yatim-piatu.

Setelah malapetaka mahaprahara kelaparan berlalu, ternyata bangsa Ethiopia tidak hanya meratapi nasib nahas mereka. Secara lambat namun pasti segenap rakyat Ethiopia bersatupadu menggalang segenap kekuatan lahir-batin yang masih tersisa demi gigih membangun negara dan bangsa Ethiopia kembali bangkit dari puing-puing reruntuhan

Masa Kini


Kini Bank Dunia memaklumatkan bahwa Ethiopia kini berada pada peringkat ke-12 Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan menurut Food Sustainability Index (FSI) tepat satu tangga di bawah Amerika Serikat (urutan ke-11).

Pada saat yang sama, Ethiopia melakukan pergeseran secara bertahap dari ketergantungan tradisional pada pertanian menuju industri dan jasa. Sebelumya, kontribusi sektor pertanian mencapai hampir 80 persen dari ekonomi negara tersebut, kini meskipun masih menjadi kontributor terbesar, porsinya hanya di bawah 40 persen.

Sektor terbesar kini adalah bidang jasa. Industri, termasuk manufaktur dan konstruksi, kini sekitar seperempat dari PDB. Namun, pertanian tetap sangat penting karena melibatkan tiga perempat dari SDM Ethiopia.

Pembangunan Infrastruktur


Ethiopia gigih melakukan pembangunan infrastruktur, termasuk jalur kereta api yang menghubungkan Addis Ababa, ibukota Ethiopia dan tetangganya Djibouti senilai 4 milIar dolar AS. Ethiopia perlu mengakses laut, dan jalur kereta api sepanjang 750 km tersebut akan berfungsi sebagai penghubungnya dengan laut, yakni Teluk Persia, melalui pelabuhan di Djibouti.

Ethiopia juga membangun sistem kereta ringan (LRT) bawah tanah pertama di kawasan Sub-Sahara Afrika. Jalur kereta ini melintasi pusat kota Addis Ababa dan mampu membawa 30.000 penumpang per jam.

Segenap pembangunan infra struktur dilaksanakan sesuai dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang telah disepakati para anggota PBB sebagai pedoman pembangunan infra struktur planet bumi abad XXI tanpa merusak alam dan tidak menyengsarakan manusia.

Pembangunan bendungan raksasa di kawasan Benishangul-Gumuz yang berbatasan dengan Sudan di Ethiopia, dianggap sebagai proyek paling ambisius di Afrika.

Diharapkan bendungan tersebut berdaya tenaga listrik sekitar 6000 megawat untuk kebutuhan domestik mau pun ekspor.

Menakjubkan bahwa proyek bendungan akbar itu sepenuhnya didanai Ethiopia secara mandiri dengan 20 persen dibiayai obligasi serta sisanya dibiayai oleh pajak negeri.

Persatuan

Ethiopia tidak memiliki falsafah Pancasila namun tampaknya sudah mewujudkan segenap makna adiluhur yang terkandung di dalam Pancasila terutama sila Persatuan.

Sejarah Ethiopia berlumuran darah akibat kekerasan yang dilakukan dengan negara tetangga mau pun di dalam negeri sendiri.

Kini Ethiopia telah tersadar atas kekeliruan yang dilakukan di masa lalu maka segenap warga mulai dari rakyat jelata sampai penguasa bersatupadu membangun Persatuan Ethiopia dengan secara sadar menghindari kekerasan demi menghadirkan kestabilan politik dan perdamaian dengan politik demokrasi multi-partai.

Dilihat dari sumber daya manusia serta kemahakayarayaan alam jelas bahwa Ethiopia bukan apa-apa dibandingkan dengan Indonesia.

Maka jika Ethiopia bisa, Indonesia lebih bisa. Kalau mau.

Maka tidak ada salahnya, kita belajar dari Ethiopia demi mau dan mampu bersatupadu gotong royong membangun Indonesia menjadi sebuah negeri dengan masyarakat adil dan makmur yang bersama hidup dalam suasana gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja. Merdeka!

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya