Berita

Aksi protes menolak kudeta militer Myanmar/Net

Dunia

Fortify Rights: KTT ASEAN Harus Mengikutsertakan Pemerintah Persatuan Nasional Myanmar

JUMAT, 23 APRIL 2021 | 13:16 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

ASEAN seharusnya tidak hanya bekerja sama dengan junta militer Myanmar, tetapi juga pemerintah bayangan, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG).

Begitu yang disampaikan oleh kelompok hak asasi manusia Fortify Rights pada Jumat (23/4), menjelang KTT ASEAN untuk membahas krisis Myanmar pada 24 April.

KTT tersebut digelar di Jakarta, dengan diperkirakan akan dihadiri oleh pemimpin junta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing.


Sementara itu, NUG yang merupakan pemerintahan sipil yang digulingkan, dilaporkan tidak menghadiri KTT tersebut.

“Dengan mengundang pemimpin kudeta Min Aung Hlaing dan mengabaikan para pemimpin sipil terpilih Myanmar, ASEAN memberikan legitimasi kepada rezim militer yang ilegal dan brutal,” kata Direktur Regional Fortify Rights, Ismail Wolff, seperti dikutip Scoop.

“ASEAN harus menggunakan KTT khusus ini sebagai kesempatan untuk secara kolektif menolak kudeta 1 Februari dan serangan militer berikutnya terhadap warga sipil, mengakui legitimasi Pemerintah Persatuan Nasional, dan mengumpulkan dukungan kolektif untuk sanksi ekonomi dan embargo senjata terhadap militer Myanmar," tambahnya.

Wolff mengatakan, jika Min Aung Hlaing gagal menunjukkan penghentian segera percobaan kudeta dan serangan junta terhadap warga sipil, maka negara-negara anggota ASEAN harus mempertimbangkan untuk mengeluarkan Myanmar dari organisasi tersebut.

Menurut Wolff, negara-negara anggota ASEAN harus berkoordinasi dengan komunitas internasional untuk memberikan tekanan terhadap junta Myanmar.

"ASEAN tidak bisa lagi bersembunyi di balik kebijakan non-campur tangan yang cacat. Pemerintah di wilayah ini perlu menunjukkan kepemimpinan dan mendukung rakyat Myanmar dengan menolak junta dan mengakui kepemimpinan sipil yang sah," tegasnya.

Pada 1 Februari, militer melakukan kudeta dengan menggulingkan pemerintahan sipil, serta menahan para tokoh politik, termasuk Penasihat Negara Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint.

Junta mendeklarasikan keadaan darurat, lalu mengambil alih kekuasaan eksekutif, yudikatif, dan legislatif.

Sejak saat itu, aparat keamanan dilaporan telah membunuh lebih dari 700 warga sipil, dan menahan lebih dari 3.000 lainnya.

Pada 16 April, anggota parlemen yang digulingkan, pemimpin protes anti-kudeta, dan perwakilan etnis minoritas Myanmar mengumumkan pembentukan NUG, yang dianggap sebagai pemerintah bayangan.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya