Berita

Tentera Amerika Serikat dan NATO di Afghanistan/Net

Muhammad Najib

Mengapa Amerika Memutuskan Akan Angkat Kaki Dari Afghanistan?

JUMAT, 16 APRIL 2021 | 15:13 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

WASHINGTON menyatakan akan memulai penarikan pasukannya dari Afghanistan pada bulan Mei mendatang, sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani antara Amerika dan Taliban di era Donald Trump, yang menyepakati akan menarik seluruh pasukannya mulai 1 Mei 2021.

Meskipun Presiden Amerika sudah berganti, kini Washington menegaskan kembali akan menarik pulang 2.500 tentaranya yang tersisa secara bertahap atas perintah Joe Biden dan diharapkan akan tuntas pada 11 September 2021 mendatang, menandakan berakhirnya 20 tahun pendudukan Amerika di Afghanistan.

Negara-negara NATO yang menyumbang ribuan tentaranya mendampingi pasukan Amerika untuk memerangi Taliban juga merencanakan akan membawa pulang pasukannya, sebagaimana ditegaskan Mentri Pertahanan Jerman Annegret Kramp Karrenbauer sesudah pertemuan virtual yang dilaksanakan sehari setelah keputusan Gedung Putih yang diambil pada Rabu (14/4/2021).


Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, yang tiba di markas NATO di Brussel sebelum pertemuan itu mengatakan sudah waktunya bagi aliansi militer tersebut untuk mundur dari Afghanistan.

"Saya berada di sini untuk bekerja sama dengan sekutu kita, dengan sekretaris jenderal (NATO), dengan prinsip yang telah kami tetapkan sejak awal: bersama-sama dan akan keluar bersama," kata Blinken.

"Kami akan bekerja sangat erat dalam beberapa bulan mendatang agar penarikan pasukan terkoordinasi dan aman," ujar Blinken yang berdiri di samping sekretaris jenderal NATO Jens Stoltenberg seperti dikutip The Guardian, Rabu (14/4/2021).

Seandainya tentara Amerika benar-benar ditarik pulang, maka sekali lagi tanah gersang yang bernama Afghanistan membuktikan bahwa dirinya  benar-benar menjadi neraka bagi para penjajah yang berani menginjakkan kakikinya di wilayah pegunungan nan tandus ini.

Sebelumnya, tentara Inggris pernah memasuki wilayah ini pada tahun 1839, kemudian dipaksa keluar dengan kepala tertunduk pada tahun 1842, sembari meninggalkan ribuan pasukan yang terkubur beku karena kedinginan di gurun Afghanistan.

Berikutnya, Rusia bahkan mengalami bencana yang lebih tragis. Negara yang juga dikenal dengan sebutan beruang merah ini menggunakan bendera Uni Soviet saat memasuki wilayah ini pada tahun 1979, kemudian dipaksa keluar pada tahun 1989.

Diperkirakan lebih dari 14.000 tentaranya tewas dan lebih dari 50.000 luka-luka. Kas negaranya terkuras, sehingga menimbulkan krisis ekonomi. Akibatnya Uni Soviet yang sebelumnya menjadi super power saingan Amerika runtuh dan bubar secara mendadak.

Jika Inggris mampu bertahan selama 3 tahun, kemudian Uni Soviet selama 10 tahun, Amerika mampu bertahan selama 20 tahun, meskipun juga dengan bayaran yang sangat mahal. Disamping kas Washington terkuras lebih dari 2 triliun dolar AS untuk membiayainya, juga lebih dari 2.400 tentaranya tawas. Jika ditambah tentara NATO yang tewas terhitung lebih dari 4.000, tidak terhitung yang luka-luka dan cacat seumur hidup, serta yang mengalami gangguan jiwa.

Sampai sekarang tidak jelas apa alasan sebenarnya Amerika menyerang Afghanistan, yang diikuti dengan serangan terhadap Irak. Jika merujuk analisa sejumlah pakar, maka kesimpulan yang paling masuk akal menyebutkan bahwa bangsa Amerika ingin terus menggenggam dunia dan mengendalikannya.

Sesudah Uni Soviet sebagai lawan tangguh Amerika dalam Perang Dingin bubar, Washington memandang ancaman berikutnya datang dari negara-negara Muslim. Sejak saat itu sejumlah negara Muslim dimasukkan kedalam daftar teroris, fundamentalis, atau ekstrimis yang mengancam ketentraman dan keamanan dunia sehingga harus diperangi.

Meskipun masalah ini belum dianggap tuntas, akan tetapi potensi ancaman dari negara-negara Muslim tersebut dianggap sudah jauh berkurang, sementara ancaman baru yang dianggap sangat berbahaya datang dari China.

Dengan demikian, Amerika harus menghentikan konfrontasinya di Timur Tengah dan sejumlah negara Muslim agar dapat fokus menghadapi China. Sejauh mana kebenaran tesis ini, tentu waktulah yang akan membuktikannya.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya