Berita

Menteri BUMN Erick Thohir dan Mendikbud Nadiem Makarim/Net

Publika

Reshuffle Kabinet Jilid II, Siapa Pantas?

KAMIS, 15 APRIL 2021 | 16:53 WIB

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) berencana meleburkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Ristek (Kemenristek) menjadi satu. Kemudian presiden juga berencana membentuk kementerian baru, yakni Kementrian Investasi yang semuanya telah disetujui oleh DPR.

Di reshuffle pertama pada Desember 2020, Jokowi merombak ulang posisi Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Sosial, Menteri Pariwisata, Menteri Agama, Menteri Perdagangan, dan Menteri Kesehatan. Bukan tidak mungkin adanya perubahan kabinet kali ini akan berdampak pada reshuffle kementerian lain yang harus dievaluasi oleh presiden.

Di era krisis ekonomi seperti ini, presiden membutuhkan orang yang disiplin, jujur, teruji cinta NKRI dalam menghadapi krisis yang begitu berat dihadapi oleh bangsa Indonesia.


Selain itu, mencermati beberapa Menteri kabinet yang berniat maju dalam pilihan presiden pada tahun 2024, maka reshuffle pada saat ini menjadi kebutuhan mendesak, mengingat tahapan pilpres akan dimulai pada tahun depan.

Kemudian alasan lain yang patut dipertimbangkan oleh presiden yakni memperbesar koalisi partai pemerintah dalam upayanya mengajak setiap elemen bangsa bersama-sama menghadapi krisis ekonomi.

Nama pertama yang patut dipertimbangkan untuk di-reshuffle adalah Menteri BUMN, Erick Thohir. Segudang permasalahan di BUMN nyatanya tidak mampu diselesaikan oleh Erick Thohir. Dari kasus Jiwasraya, kerugian pada Wika, tagihan macet BUMN, dan banyak lainnya. Ironisnya Erik Tohir lebih terlihat kegenitannya sebagai calon presiden.

Kemudian Menteri Pendidikan Nadiem Makarim yang sudah selayaknya di-reshuffle karena pengabungan kementrian. Menteri penggantinya harus orang yang menguasai banyak permasalahan dari pendidikan hingga memahami kultur kebudayaan bangsa Indonesia.

Nama lain yang patut di-reshuffle adalah Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, yang dinilai gagal membendung impor seperti beras, jagung dan kedelai.

Selain nama-nama di atas, menteri-menteri lain yang berniat nyapres sebaiknya di-reshuffle agar fokus kabinet dalam menghadapi krisis tetap terjaga.

Nama yang patut dipertimbangkan oleh presiden sebagai calon menteri adalah para mantan kapolri, yakni  Jenderal Polisi (Purn) Da'i Bachtiar, Jenderal Polisi (Purn) Sutarman, dan Jenderal Polisi (Purn) Idham Azis.

Terkhusus untuk Jenderal Polisi (Purn) Da'i Bachtiar sudah sangat berpengalaman membantu Presiden Megawati menghadapi krisis di tahun 2001 hingga 2004.

Sementara dari unsur TNI, ada nama Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, Jenderal TNI (Purn) Mulyono, dan Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Sutomo patut menjadi pertimbangan.

Para jenderal yang tidak berambisi untuk nyapres akan membuat kabinet berjalan lebih kondusif dan stabil, serta akan fokus pada permasalahan-permasalahan bangsa.

Nama lain dari kalangan professional yang telah terjun sebagai politisi patut menjadi pertimbangan presiden. Kecakapan dalam politik dan memiliki kapasitas secara professional membangun bangsa ada dalam diri Hasto Kristiyanto, Yusril Ihza Mahendra, Sukur Nababan, serta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Kesemuanya telah terukur memiliki kapasitas, setia kepada NKRI dan mampu mengatasi masalah pada bidangnya masing-masing.

Pada saat krisis pandemi ini, pemerintah banyak melakukan refocusing pada pemulihan kondisi ekonomi bangsa. Fokus tersebut diharapkan pemerintah untuk dapat memandirikan ekonomi masyarakat.

Pada saat kondisi darurat ini, sebaiknya pemerintah mengubah status bencana nasional non alam menjadi Status Negara Melawan Covid-19, serta kemudian mengganti nama kabinet dari Kabinet Indonesia maju menjadi Kabinet Trisakti.

Merujuk pada Trisakti Bung Karno yang mencakup seluruh kebutuhan bangsa yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Mochtar Mohamad

Mantan Ketua Umum Laskar Jokowi

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Iran Tak Terima Dituding Langgar Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:21

Riak Penolakan Jokowi di Lampung, Baliho Sambutan Raib

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:01

Ramai di Medsos, Purbaya Respons Pajak Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:59

Ajukan Kasasi, Kerry Riza Anggap Putusan PT DKI Janggal

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:46

Harga Minyak Anjlok ke Level 71 Dolar AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:39

bank bjb Perluas Kolaborasi dengan Whuush Ojol, Kadin Jabar dan MUJ

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:38

AS Serang Target Militer Iran, Balas Serangan Drone terhadap Kapal Kargo di Selat Hormuz

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:21

Emas Antam Naik Usai Mandek Dua Hari Beruntun

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:09

Trump Sebut Iran Lakukan Pelanggaran Bodoh Terkait Pelanggaran Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:51

Emas Rebound 1,3 Persen usai Data Inflasi AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:33

Selengkapnya