Berita

Daniel Dhakidae/Net

Publika

Daniel Dhakidae, Intelektual Kritis Sejak Orba Sampai Sekarang

SELASA, 06 APRIL 2021 | 18:59 WIB

KEPERGIAN Daniel Dhakidae merupakan kehilangan kami di LP3ES dan Prisma karena DD, begitu dipanggil di LP3ES, hampir seluruh hidupnya “diwakafkan” ke LP3ES dan Prisma.

Istilah ini saya pakai karena Daniel adalah muallaf setelah menikah dan KTP-nya masih mencantumkan Islam. Sebagai individu sangat toleran dan boleh saya memnyebutnya sebagai intelektual egaliter. Bahkan dia minta diantara teman-temannya tidak memanggil Bapak karena keseharian dengan panggilan Bapak merefleksikan hierarki dan itu dekat dengan feodalisme.

Itu yang ditekankan kepada saya sambil tertawa tertahan dan menganjurkan memanggilnya Bung karena egaliter dan ada semangat juang kepahlawanan.Intinya dia mengajarkan lingkungannya dengan pikirannya di dalam mesti dengan kultur egaliter, bukan feodal yang dilawannya sebagai biang kemunduran bangsa.


Kaena itu, fodalisme gaya aorde baru sangat dibencinya sehingga dia menjadi intelektual yang keras terhadap pemerintahan Orde Baru. Tidak hanya itu, dalam diskusi kesehatian dia kritis terhadap pemerintahan apa pun dan berdiri sebagai intelektual yang menjaga jarak bahkan sangat jauh dengan kekuasaan.

Daniel bersama saya, Wijayanto, Nasir Tamara sudah sejak tahun lalu menengarai kok demokrasi dan kekuasaan sekarang tidak berjalan lurus, tapi justru “turning around”. Istilah yang dipakai dalam diskusi kecil di ruang rapat Prisma.

Intinya saya ingin membedakan Daniel dengan bintang-bintang intelektual yang ada dan bergembira ria di sekitar dan di dalam kekuasaan.

Bagi saya pribadi, kepergian DD adalah kehilangan besar, karena dia teman diskusi di Kantor LP3ES-Prisma. Beberapa minggu ini DD memang sakit, tetapi selalu berkomunikasi dengan saya, minta tidak berbicara karena suaranya parau tapi saling berkata tulis lewat WA.

Yang dia bicarakan adalah minta bersama-sama mempersiapkan 50 tahun LP3ES dan Prisma. DD sedang mempersiapkan edisi Prisma 50 tahun 19 Agustus 2021 ya, tapi sedikit mengeluhkan biaya kurang dan yang ada belum memadai sehingga perlu “out of the box” untuk merealisasikannya.

Daniel memang tidak bisa dileppaskan dari Prisma. Setelah pensiun dari Prisma, dia kembali lagi memimpin Prisma sehingga meski berbeda dari zaman keemasannya, di tangannya Prisma bisa tetap terbit selama setengah abad meskipun dengan banyak keterbatasan.

Prisma, LP3E adalah legenda intelektualisme pada zamannya. Mengapa? Karena seluruh pemikir terbaik di negeri ini menulis di majalah ini. Mulai dari Sumitro Djojohadikusumo, Emil Salim, Subroto, Taufik Abdullah, Frans Magnis, Dorodjatun Kuntjorojakti, Yuwono Sudarsono, dan lain-lain.

Arsip Prisma dari tahun 1971 sampai 2021 lebih dari layak untuk menjadi bahan disertai arus sejarah pemikir dan pemikiran Indonesia selama setengah abad dalam bidang sosial politik.

Jadi Daniel menjadi besar sebagai intelektual karena bergumul dengan arus pemikiran besar tersebut di Prisma. Pergumulan intelektual Daniel tidak lain adalah pergumulan intelektual Prisma LP3ES di mana dia menjadi motor dari kehebatan Prisma pada waktu itu, palig tidak hampir selama tiga dekade 1970-an akhir, 1980-an dan 1990-an, bahkan sampai sekarang di mana dia bertahan hanya dengan beberapa temannya saja menebitkan Prisma tersebut.

Saya sebagai pribadi mengenal Daniel Dhakidae sejak tahun 1980-an ketika manjadi bagian dari LP3ES. Daniel menjadi bagian dari Majalah Prisma yang menjadi bagian jurnal para intelektual di Indonesia dan saya berada di Divisi Riset LP3ES.

Setelah itu Daniel diminta membantu Litbang Kompas dan sebagai peneliti LP3ES berpindah ke Litbang Kompas. Di tangan Daniel, Litbang Kompas berkembanag dan mempunyai tradisi polling seperti yang dilakukan LP3ES.

Usai pensiun di Kompas, Daniel kembali ke Prisma, saya pun habis melalanglang berbagai arena kembali menjadi Ketua Dewan Pengurus LP3ES.

Didik J Rachbini
Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES)

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Iran Tak Terima Dituding Langgar Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:21

Riak Penolakan Jokowi di Lampung, Baliho Sambutan Raib

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:01

Ramai di Medsos, Purbaya Respons Pajak Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:59

Ajukan Kasasi, Kerry Riza Anggap Putusan PT DKI Janggal

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:46

Harga Minyak Anjlok ke Level 71 Dolar AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:39

bank bjb Perluas Kolaborasi dengan Whuush Ojol, Kadin Jabar dan MUJ

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:38

AS Serang Target Militer Iran, Balas Serangan Drone terhadap Kapal Kargo di Selat Hormuz

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:21

Emas Antam Naik Usai Mandek Dua Hari Beruntun

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:09

Trump Sebut Iran Lakukan Pelanggaran Bodoh Terkait Pelanggaran Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:51

Emas Rebound 1,3 Persen usai Data Inflasi AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:33

Selengkapnya