Berita

Bendera Amerika Serikat dan Iran/Net

Dunia

Iran Tolak Tawaran Pelonggaran Sanksi AS Secara Bertahap, Kesepakatan Nuklir Kembali Buntu

MINGGU, 04 APRIL 2021 | 07:57 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kesepakatan nuklir Iran kembali menemui jalan buntu, baik Teheran maupun Washington enggan mengalah dan mengambil langkah pertama demi menyelesaikan masalah.

Iran dengan tegas menolak tawaran Amerika Serikat  (AS) untuk melonggarkan sanksi secara bertahap. Alih-alih, Teheran ingin Washington segera mencabut semua sanksi jika ingin menyelamatkan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) 2015.

"Tidak ada rencana langkah demi langkah yang sedang dipertimbangkan. Kebijakan definitif Republik Islam Iran adalah mencabut semua sanksi AS," kata  jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh pada Sabtu (3/4).


Tawaran pelonggaran sanksi secara bertahap muncul menjelang dialog antara Iran dengan negara-negara JCPOA yang akan dilakukan di Wina, Austria pada pekan depan, seperti dalam laporan Reuters.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan, fokus pembicaraan di Wina adalah langkah-langkah yang perlu diambil agar Iran kembali mematuhi kesepakatan nuklir.

Pada pemerintahan mantan Presiden Donald Trump, AS meninggalkan kesepakatan nuklir pada 2018. Ia kemudian menerapkan kebijakan tekanan maksimum pada Iran dengan memberlakukan banyak sanksi. Sementara Teheran mulai memperkaya uraniumnya lagi melewati batas yang ditetapkan JCPOA.

Namun penggantinya, Joe Biden berusaha menghidupkan kembali kesepakatan. Biden mengatakan, AS akan kembali ke JCPOA jika Iran mematuhi kesepakatan. Di sisi lain, Teheran menyebut  akan mematuhi kesepakatan jika Washington mencabut semua sanksinya.

Menjelang dialog, Iran, China, Rusia, Prancis  melakukan pertemuan virtual pada Jumat (2/4) untuk membahas kembalinya AS.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan telah meminta Iran untuk menghindari pelanggaran komitmen nuklirnya. Ia juga meminta  Teheran untuk menunjukkan sikap konstruktif dalam pembicaraan dengan AS nanti.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya