Berita

Partai Demokrat./Net

Politik

Perang Ideologi Demokrat: AHY Di Tengah, Moeldoko Ke Kanan?

RABU, 31 MARET 2021 | 09:26 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Menjelang pengumuman Kemenkumham atas permohonan legalitas kepengurusan Partai Demokrat (PD) kubu KLB, Moeldoko melancarkan perang urat syaraf melalui akun instagramnya @dr_Moeldoko . Tiba-tiba saja, Moeldoko menyatakan ada pertarungan ideologis yang kuat menjelang Pemilu 2024.

Moeldoko mengatakan, pertarungan ideologi itu terstruktur dan mudah dikenali. Walau tak mempertajam keterangannya dengan referensi ilmiah, ia berkilah bahwa atas alasan ideologis itulah dirinya bersedia menerima tawaran Johni Allen cs untuk memimpin PD kubu KLB.

Walau Moeldoko juga tak memaparkan lebih jauh spektrum ideologi macam apa yang ia jadikan alternatif, publik mudah menebak kemana arah ‘tembakan’ sang jenderal. Sebelum berbicara tentang perang ideologi di instagramnya, Moeldoko berceramah mengenai bahaya radikalisme di Universitas Terbuka. Ia menyinggung soal kebhinnekaan yang makin pudar.

Dalam hari yang hanpir bersaman, muncul pula hestek #cikeaspelindungradikal yang ditujukan untuk menyerang PD pimpinan AHY. Hestek tersebut dinaikkan oleh akun-akun buzzer status quo dimana posisi sebagai KSP Moeldoko kerap dikait-kaitkan dengan peran sebagai ‘kakak pembina’.

Kebetulan pula, sehari setelah posting instagram Moeldoko, terjadi peristiwa pemboman katedral di Makassar. Perang ideologi yang digelorakan Moeldoko seolah mendapatkan momentumnya.

Menanggapi narasi perang ideologi dari Moeldoko itu, elit-elit PD di bawah kepemimpinan AHY bereaksi. Di twitter, mereka mengunggah video wawancara lama SBY yang berisi penjelasan mengenai ideologi PD. Menurut SBY, PD adalah partai tengah yang nasionalis-relijius dan menjunjung tinggi Pancasila serta UUD 1945.

Nasionalis-religius sendiri memandang penting kebangsaan dan mengakui kemajemukan, namun juga mendasarkan segala perilaku pada tuntunan nilai-nilai keagamaan yang tumbuh subur di Indonesia.

Syarif Hasan, anggota Majelis Tinggi PD, balik mempertanyakan ideologi kubu Moeldoko.

“Kalau kita jelas nasionalis-religius, pancasila menjadi dasar falsafah kita. Kalau mereka apa?,” cetus Syarif.

Rachland Nashidik, petinggi PD yang lain, dalam serial twitnya menyatakan heran Moeldoko mau menguliahi PD tentang kebhinnekaan.

“Dia bukan jenderal kanan?,” sergah Rachland.

Rachland pun mengungkapkan masa lalu Moeldoko yang diduga terlibat dalam kasus Operasi Sajadah tahun 2011 hingga akhirnya dicopot dari jabatan Panglima Kodam III/Siliwangi. Dalam peristiwa kelam itu, tentara yang dipimpin Moeldoko diduga melakukan intimidasi dan memaksa dengan kekerasan hingga membuat pengikut Ahmadiyah berpindah keyakinan.

Firdaus Mubarik, juru bicara Ahmadiyah (Tempo.co, 31 Juli 2013) juga mensinyalir keterlibatan Moeldoko dalam Operasi Sajadah. Menurut Firdaus, setelah terjadinya peristiwa Cikeusik yang menewaskan penganut Ahmadiyah, personil TNI ikut serta dalam upaya mengintimidasi, mendatangi, memanggil, hingga meminta pengikut Ahmadiyah meninggalkan ajarannya.

Moeldoko sendiri membantah bahwa ada operasi seperti yang dituduhkan kalangan Ahmadiyah.
 
"Tidak ada itu Operasi Sajadah, yang benar adalah gelar sajadah," ujarnya saat itu.

Retorika Moeldoko tentang perang ideologi sedikit banyak mirip dengan retorika war on terror yang dilancarakan oleh Presiden Amerika George Bush di awal dekade 2000-an. Bedanya, retorika Bush muncul setelah terjadinya pemboman WTC di New York yang menewaskan 6 orang dan melukai lebih dari seribu orang. Sementara itu, retorika Moeldoko muncul sebelum peledakan bom panci di Katedral Makassar yang menewaskan dua terduga teroris dan melukai 20 orang.

Secara ideologis, George Bush kerap digolongkan sebagai penganut ideologi politik sayap kanan, yaitu neokonservativisme. Neokon, begitu ideologi itu sering disingkat, membenci radikalisme politik (tentu saja dalam kacamata Amerika) dan menggunakan kekuatan koersif untuk menggantikan rezim-rezim yang tidak ia sukai. Lantas, bagaimana dengan Moeldoko?

Yang jelas, kubu AHY menegaskan ideologinya ke tengah. Apabila Moeldoko meyakini punya alternatif, maka spektrum yang berbeda secara signifikan adalah ideologi kiri atau kanan.

Menurut laman wikipedia, ideologi politik kanan (sayap kanan) mengacu kepada segmen spektrum politik yang biasanya dihubungkan dengan konservatisme, liberalisme klasik, kelompok kanan agama, atau sekadar lawan dari politik sayap kiri. Dalam konteks tertentu, istilah sayap kanan juga bisa mencakup nasionalisme otoriter.

Sementara itu, ideologi politik kiri (sayap kiri) oleh wikipedia dianggap mengacu kepada kelompok yang biasanya beraliran sosialis atau demokrasi sosial. Biasanya juga dianggap sebagai lawan dari sayap kanan. Dasarnya, seringkali adalah komunisme maupun filsafat marxisme . Namun banyak juga golongan sayap kiri yang menolak dikaitkan dengan komunisme atau bahkan anarkisme.

Menilik retorika Moeldoko tentang perang ideologi, radikalisme versus kebhinnekaan, rekam jejak yang bersangkutan saat jadi Pangdam Siliwangi dan peristiwa pengambilalihan PD melalui KLB, benarkah ia hendak membawa PD ke kanan? Jawaban atas pertanyaan tersebut baru bisa didapatkan bila Moeldoko bisa menguraikan lebih jauh tentang falsafah yang mendasari pandangannya.

Aktivis politik 1998 Samsul Joyobintoro menilai, jika Moeldoko membawa PD ke arah kanan, maka hal itu adalah kekeliruan dalam menganalisa situasi. Sebab, isu yang paling kuat pada masyarakat bawah adalah pemulihan ekonomi yang remuk akibat pandemi. Spirit ideologi kiri seperti kesetaraan, solidaritas dan pemangkasan ketimpangan dianggap lebih pas untuk diusung kubu Moeldoko.

Populer

Mantan Petinggi Polri: Banyak Kasus Penistaaan Agama Islam Tak Diproses di Era Jokowi

Selasa, 21 September 2021 | 05:52

Ribuan Tetangga Rocky Gerung Bertekad Geruduk Kediaman Prabowo Subianto

Minggu, 19 September 2021 | 08:31

Viral Video Demo PT Sentul City, Don Adam: Revolusi Dimulai dari Sentul?

Senin, 13 September 2021 | 22:01

Lieus Sungkharisma Nilai Tindakan Napoleon Bonaparte terhadap M Kece Tak Sejalan dengan Ideologi Pancasila

Rabu, 22 September 2021 | 02:22

Di Mata Ketua GNPF Ulama, Napoleon Bonaparte Adalah Manusia Pilihan Tuhan

Minggu, 19 September 2021 | 14:28

Satu Tentara Dikabarkan Tewas Lagi di Papua, Natalius Pigai Salahkan Kebijakan Jokowi

Selasa, 21 September 2021 | 14:33

Beda Sikap Usai Diperiksa KPK, Anies Baswedan Tenang sedangkan 2 Politisi PDIP Pilih Kabur dari Wartawan

Selasa, 21 September 2021 | 19:34

UPDATE

Dihiasi Sejumlah Sponsor, AHHA PS Pati FC Luncurkan Jersey Terbaru

Jumat, 24 September 2021 | 02:45

Miliki Harta Rp 100 Miliar, Rumah Mewah Azis Syamsuddin di Bandarlampung Hanya Ada Ambulans

Jumat, 24 September 2021 | 02:18

Diduga Lakukan Monopoli, Jakpro Dilaporkan LK2P ke KPPU

Jumat, 24 September 2021 | 01:59

Cegah Klaster Baru, Pimpinan MPR Minta Pelaksanaan PTM Segera Dievaluasi

Jumat, 24 September 2021 | 01:45

Resmikan Kantor JMSI Aceh, Sekjen JMSI: Semoga Perusahaan Pers di Aceh Lebih Profesional, Modern, dan Mandiri

Jumat, 24 September 2021 | 01:19

Penyaluran Beasiswa Terindikasi Korupsi, Mahasiswa Geruduk Kantor Bupati Karawang

Jumat, 24 September 2021 | 00:59

Mengenang Ki Ageng Gribig Leluhur Airlangga Hartarto: Penasihat Sultan Agung dan Pejuang Islam di Tanah Jawa

Jumat, 24 September 2021 | 00:44

Banyak Proyek Pimpinan China Dibatalkan di Afrika, Apa Kabar Inisiatif Sabuk dan Jalan?

Jumat, 24 September 2021 | 00:40

Pesan Khusus AHY kepada Demokrat Aceh: Semua adalah Keluarga Besar Sendiri

Jumat, 24 September 2021 | 00:23

Jelang Pembukaan PON XX, Venue Rugby Papua Raih 3 Rekor MURI

Kamis, 23 September 2021 | 23:58

Selengkapnya