Berita

Joe Biden dan Rizal Ramli/Rep

Publika

Joe Biden Dan Rizal Ramli, Dan Kenaikan Pajak Untuk Pengusaha Kaya

SELASA, 30 MARET 2021 | 11:54 WIB | OLEH: SYAFRIL SJOFYAN

MENTERI terbalik! Maksudnya plesetan untuk Menteri Keuangan SMI yang dianggap terbaik oleh lembaga dunia debitor, konon karena keberaniannya berutang dengan bunga tinggi. Jangan hanya berani sama rakyat kecil. Semua sing printil (kecil-kecil) dipajakin.

Kritik dan sindiran yang selalu muncul dari Dr. Rizal Ramli dikenal dengan panggilan RR, baik di sosial media, melalui seminar sekarang webinar, podcast tokoh, ataupun talkshow di TV nasional.

Jika diamati kritik dan sindiran tersebut sejak tahun 2017. Bahkan jauh sebelumnya. "Teriakan" RR adalah naikkan pajak, untuk orang kaya, pengusaha/industiawan besar dan investor asing.  


Para pengusaha besar yang dimaksud RR, sang begawan ekonom yang pernah menjadi penasehat ekonomi PBB bersama beberapa tokoh dunia pemegang nobel, adalah seperti pengusaha sawit dan tambang, terutama batu bara dan pengusaha/investor asing yang selalu mendapat kemudahan berupa tax holiday, jika ada tunggakan pajak tidak ada yang dibawa ke pengadilan.

Sementara mereka diberikan kebebasan mengeruk keuntungan selama berpuluh tahun. Mungkin itu sebabnya RR sampai sekarang masih konsisten menyebut Menteri Keuangan Terbalik untuk Sri Mulyani (SMI), pembantu Presiden Jokowi, yang juga pernah tersandung kasus besar Bank Century di era SBY.

Joe Biden, Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat yang baru saja mengalahkan pertahana Presiden Trump dari Partai Republik secara telak dengan angka peroleh terbesar sejak Pilpres AS.

Berpendapat sama dengan Rizal Ramli, anggaran negara harus dicukupi dari pajak. Untuk bisa membiayai pembangunan besar-besaran. Sumber anggaran itu harus dari pajak.  

Biden tidak butuh pencitraan, bermesraan dengan konglomerat. Biden yang belum seumur jagung memerintah. Berani menaikan pajak untuk orang kaya, dan harus naik, maunya naik 36 persen. Sangat berlawanan dengan kebijakan Trump yang memanjakan para orang kaya dengan pajak rendah 21 persen.

Baru 2 bulan memerintah Biden berhasil mendapat persetujuan parlemen sebanyak 1,9 triliun dolar AS untuk bantuan untuk golongan bawah. Dari jajak pendapat  Biden mendapatkan dukungan 70 persen termasuk terbesar dari para pendahulunya.

Berbeda dengan Indonesia, lembaga jajak pendapat "tidak jelas" darimana sumber dananya, konon cenderung memberikan dukungan besar terhadap rezim yang berkuasa yang keperpihakannya kurang terhadap rakyat kecil, tentu berbeda jauh dengan kondisi kesusahan ekonomi secara nyata yang dirasakan masyarakat.

Akibat keberpihakan rezim Jokowi kepada orang kaya, disparitas antara-orang kaya dan miskin di Indonesia yang semakin besar di tengah pandemik Covid-19 sudah diprediksi oleh Rizal Ramli, ratio pendapatan pajak semakin rendah (terendah sejak jaman orde baru), karena tidak berani menaikan pajak buat orang kaya.

Dalam kondisi pandemi orang kaya malah semakin kaya, yang miskin semakin kejepit. Kondisi ini sebenarnya sangat berbahaya.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengungkap 30 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bangkrut akibat kebijakan pembatasan sosial di dalam negeri di tengah pandemi Covid-19, hanya tersisa sekitar 34 juta unit usaha wong cilik atau berkurang hampir 50 persen dari posisi 2019 lalu yang sebanyak 64 juta unit usaha.

Pemerintah Jokowi seharusnya melakukan perubahan kebijakan seperti yang dilakukan Joe Biden dan diteriakan cukup lama oleh Rizal Ramli. Malah sekarang bersibuk-sibuk membangun ibukota yang bukan prioritas utama kebutuhan rakyat. Utang semakin menggunung. Warisan yang tidak elok untuk generasi mendatang.

Jika tidak sanggup banting stir, sebaiknya give up. Semoga bijak.

Penulis adalah pengamat kebijakan publik, Sekjen FKP2B, aktivis pergerakan 77-78.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Penumpang Melonjak di Libur Sekolah, Whoosh Hadirkan Promo Wisata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:57

Razman Dieksekusi

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:29

Purbaya Bantah Restitusi Pajak Ditahan, Tuding Ada Permainan Oknum DJP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:51

Dari Kandang ke Kanopi Hutan: Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi Kembali ke Alam Liar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:45

Perjalanan Tengkar KH Miftachul Akhyar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:52

Punya Integritas, Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:34

Terus Meningkat, Mayoritas Publik Tak Puas Kinerja Wapres Gibran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:22

Dikuasai Gaya Hidup, Pasar Indonesia Diincar Asing

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:41

Polisi Tangkap Perantara Jual Beli Sabu 1 Kg di Pasar Baru

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:29

JK Resmikan Pembangunan Masjid Hajjah Yuliana Bekas Kantor Polisi di Melbourne

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:00

Selengkapnya