Berita

Ketua Fraksi PAN DPR, Saleh Partaonan Daulay (kiri)/RMOL

Politik

PAN: Kalau Vaksin Nusantara Tidak Tepat, Pemerintah Jangan Persulit Tapi Dibina

JUMAT, 12 MARET 2021 | 13:29 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Vaksin nusantara mengundang polemik di kalangan masyarakat paska munculnya pernyataan Kementerian Kesehatan dan BPOM yang seakan-akan kurang mendukung vaksin buatan dalam negeri tersebut.

Ketua Fraksi PAN DPR RI mengatakan, seharusnya BPOM dan Kemenkes tidak tebang pilih dengan produk dalam negeri.

Kata Saleh, pemerintah seharusnya memberikan keleluasaan terhadap vaksin luar negeri.


“Kalau ada yang tidak tepat, bukan malah dipersulit. Tapi diarahkan. Dibina. Itulah tugas BPOM. Membina. Agar tidak ada kesalahan-kesalahan. Nanti kalau ditemukan tidak efektif, Tidak berkhasiat. Berarti kan tidak perlu diproduksi massal,” ucap Saleh kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (12/3).

“Jadi ini masih panjang, ada dua tiga tahapan lagi. Tapi jangan disetop ini,” imbuhnya.

Saleh menambahkan, vaksin Nusantara penting untuk dilanjutkan uji klinis tahap duanya lantaran sudah dilakukan tahap pertama.

“Vaksin nusantara ini penting dicek dari seluruh vaksin yang ada di dalam negeri, vaksin merah putih itu, kelihatan vaksin nusantara yang agak di depan, artinya dia proses penelitiannya sudah berjalan udah masuk tahap dua,” katanya.

“Yang lain vaksin merah putih itu tahun 2022 malahan. Yaitu yang saya dapatkan dari rapat kemarin,” tambahnya.

Legislator dari Sumatera Utara mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo telah menggaungkan kampanye benci produk asing. Namun, faktanya vaksin sendiri masih impor dari negara lain.

“Presiden itu malah menginstruksikan bahwa bangsa ini mulai mencintai produk dalam negeri bahkan presiden malah mengeluarkan diksi benci produk asing. Karena sekarang sudah mulai klarifikasi-klarifikasi juga mereka kemarin soal benci produk asing,” tandasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Jutaan Orang Tak Sadar Terkena Diabetes

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:17

Kejati Sumut Lepaskan Tersangka Penadahan Laptop

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:00

Sektor Energi Indonesia Siap Menggebrak Melalui Biodisel 50 Persen dan PLTN

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:35

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

Pasal Pembuka, Pasal Pengunci

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:21

Eggi Sudjana Perburuk Citra Aktivis Islam

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:19

Pratikno dan Jokowi Harus Dihadirkan di Sidang Sengketa Ijazah KIP

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:03

Dugaan Pengeluaran Barang Ilegal di Cileungsi Rugikan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:45

Eggi Sudjana Konsisten Meyakini Jokowi Tak Punya Ijazah Asli

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:15

Selengkapnya