Berita

Mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto/Net

Kesehatan

Namanya Dicatut Terawan, FK-KMK UGM Undur Diri Dari Penelitian Vaksin Nusantara

RABU, 10 MARET 2021 | 10:43 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Penelitian uji klinis vaksin Nusantara yang diinisiasi oleh eks Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, ternyata tidak turut melibatkan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), melainkan hanya dicatut namanya.

Wakil Dekan FK-KMK UGM Bidang Penelitian dan Pengembangan, Yodi Mahendradhata mengatakan, pihaknya akan mengundurkan diri dari tim penelitian uji klinis vaksin sel dendritik SARS-Cov-2 atau Vaksin Nusantara.

"Belum ada keterlibatan sama sekali. Kita baru tahu saat itu muncul di media massa bahwa itu dikembangkan di Semarang kemudian disebutkan dalam pengembangannya melibatkan tim dari UGM," ujar Yodi Mahendradhata melalui keterangan tertulis yang diterima Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (10/3).


Rencana pengembangan vaksin Nusantara di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan ini, kata Yodi Mahendradhata, sempat membangun komunikasi dengan sejumlah peneliti UGM untuk meminta kesediaan mendukung penelitian yang akan dilakukan.

Namun setelah itu, tidak ada komunikasi lebih lanjut terkait penelitian vaksin tersebut. Justru para peneliti bahkan tidak mengetahui bahwa Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Keputusan Nomor HK 01.07/MENKES/11176/2020 yang mencantumkan nama mereka beserta posisi yang mereka duduki dalam tim ini.

"Waktu itu belum ada detail ini vaksinnya seperti apa, namanya saja kita tidak tahu. Hanya waktu itu diminta untuk membantu, ya kami di UGM jika ada permintaan dari pemerintah seperti itu kami berinisiatif untuk membantu,” paparnya.

Karena itulah kemudian Yodi Mahendradhata beserta para peneliti UGM merasa keberatan atas pencatutan nama mereka. Sebab, sepengalaman mereka saat terlibat di dalam penelitian Vaksin Merah Putih ada koordinasi terlebih dahulu sebelum penelitian dimulai.

Sehingga dalam kasus Vaksin Nusantara, Yodi Mahendradhata memastikan tahapan-tahapan tersebut tidak dilakukan, dan peneliti yang namanya telah tercantum dalam Surat Keputusan Menkes bahkan belum mengetahui detail penelitian sebelum hal tersebut akhirnya muncul di pemberitaan media massa.

“Kami belum pernah menerima surat resmi, protokol, atau apapun. Teman-teman agak keberatan, kalau disebutkan sebagai tim pengembang kan harus tahu persis yang diteliti apa,” demikian Yodi Mahendradhata menambahkan.

Gagasan pembuatan vaksin Nusantara dimulai Terawan pada Oktober 2020. Vaksin yang akan dikembangkan berbasis sel dendritik, dan awalnya dikembangkan perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, AIVITA Biomedical.

PT Rama Emerald Multi Sukses disebut telah memiliki lisensi untuk mengembangkannya di Indonesia. Pada 22 Desember 2020, saat Presiden Joko Widodo mengumumkan pemecatan Terawan, kabar pengembangan Vaksin Nusantara mencuat tapi dengan nama yang berbeda, yakni Vaksin Joglosemar.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

IRGC: Jika Netanyahu Masih Hidup, Kami Akan Memburunya

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:44

Benarkah Membalik Pakaian Saat Dicuci Bikin Baju Lebih Awet?

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:24

Kantor PM Israel Bantah Rumor Netanyahu Tewas

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:12

KPK Isyaratkan Tersangka Baru dari Pihak Swasta di Skandal Kuota Haji

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:40

KPK Endus Modus THR ke Forkopimda Terjadi di Banyak Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:02

Zelensky Tuduh Rusia Pasok Drone Shahed ke Iran untuk Serang AS

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:51

LPSK Beri Perlindungan Darurat untuk Aktivis KontraS Korban Teror Air Keras

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:41

Trump Minta Tiongkok hingga Inggris Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:27

Serangan ke Aktivis Tanda Demokrasi di Tepi Jurang

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:20

KPK Bongkar Dugaan THR untuk Polisi, Jaksa, dan Hakim di OTT Cilacap

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:15

Selengkapnya