Berita

Peneliti senior LIPI Siti Zuhro/Repro

Politik

Siti Zuhro: Dari Perspektif Demokrasi, Peristiwa KLB Versi Sumut Itu Anomali Politik

SABTU, 06 MARET 2021 | 14:48 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kegiatan sepihak yang diklaim sebagai Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara yang diduga didalangi oleh Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko dinilai membuat publik kebingungan.

Pasalnya, jika ditinjau dari perspektif demokrasi yang adalah bagian dari produk reformasi 1998 dimana Indonesia menganut sistem multipartai.

Fakta tentang adanya acara sepihak yang klaim sebagai KLB versi Sumut itu memang tidak lazim.


Demikian disampaikan Peneliti Senior LIPI Prof Siti Zuhro dalam serial diskusi Polemik MNC Trijaya FM bertajuk "Nanti Kita Cerita Tentang Demokrat Hari Ini" pada Sabtu (6/3).

"KLB kemarin yang digelar membingungkan kita semua. Dari perspektif demokrasi, peristiwa KLB Sumut ini bisa dikatakan sebagai anomali politik dan demokrasi. Tentu tidak lazim," kata Siti Zuhro.

Siti Zuhro menguraikan, ketidaklaziman acara yang diklaim KLB Sumut itu ditengarai oleh aturan yang tidak mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrat.

Selain itu, Siti Zuhro juga menyoroti Ketua Umum yang dimunculkan juga bukan dari kader Demokrat.

"Ini tentu, untuk pegiat politik pegiat demokrasi, intelektual, akademisi yang belajar demokrasi, ini membingungkan. Dilihat dari perspektif Demokrasi juga peristiwa KLB Sumut sangat memprihatinkan," tuturnya.

"Mengapa? karena melanggar kaidah dan peraturan sebagaimana tercantum dalam AD/ART partai. KLB telah menafikan etika norma dan menjungkirbalikkan peraturan partai. Tentu publik tidak hanya dibuat bingung dan keprihatinan muncul dengan atraksi politik semacam ini," sambung Siti Zuhro.

Menurutnya, publik tidak hanya dibuat bingung dan prihatin atas atraksi politik yang ditunjukkan oleh para elite politik semacam itu.

Siti Zuhro menengarai, tindakan KLB ilegal itu disebabkan karena hanya memikirkan perhelatan Pemilu 2024 mendatang.

Sedangkan, saat ini Indonesia masih dilanda pagebluk Covid-19 yang tak kunjung teratasi, terutama dampak yang ditimbulkannya.

"Jadi hanya para elite yang berkompetisi di era new normal saat ini yang mana semua masyarakat berjibaku menanggulangi dampak Covid-19 sementara elitenya hanya bersaing luar biasa untuk 2024," sesalnya.  

"Jadi karena syahwat politik yang tak terkendali seperti ini, lalu dimuntahkan dalam sebuah atraksi politik yang sangat tidak menarik dan membebani masyarakat dan menguras energi perhatian masyarakat," demikian Siti Zuhro.  

Selain Siti Zuhro, turut hadir secara virtual dan menjadi narasumber dalam diskusi tersebut yakni Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Mallarangeng, Pakar Hukum Tata Negara Prof Juanda, Anggota Presidium Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Sri Mulyono.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya