Berita

Dari kiri ke kanan: Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurthi Yudhoyono/Net

Politik

Pengamat: Langkah-Langkah AHY-SBY Menentukan Nasib Demokrat

SABTU, 06 MARET 2021 | 12:14 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Upaya pendongkelan kepemimpinan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurthi Yudhoyoyno, harus ditangani secara serius.

Begitulah saran yang dilontarkan Pemerhati Politik, M Rizal Fadillah menanggapi prahara di Partai Demokrat yang baru saja digucang oleh kegiatan yang diklaim sebagai Kongres Luar Biasa (KLB) di Deliserdang, Sumatera Utara kemarin.

Rizal menyampaikan, apa yang disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurthi Yudhoyono, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga sejumlah kader harus diimplementasikan secara serius.


"AHY sang Ketum yang diruntuhkan mengancam untuk melawan, SBY minta Menkumham tidak mengesahkan hasil KLB, Andi Arief berkoar Istana akan digeruduk. Tentu semua akan melihat bukti-bukti nyata untuk membuat Istana gentar," ujar Rizal dalam keterangan tertulis yang diterima Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (6/3).

Hal ini penting menurut Rizal, lantaran akan ada dampak yang terjadi jika langkah-langkah taktis dari sosok Ketum yang kerap disapa AHY hingga sosok pendiri partai yang akrab disapa SBY itu tidak dilakukan.

"Jika tidak ya nasib berbicara lain. Menkumham mengesahkan hasil KLB, artinya matilah SBY dan AHY. Demokrat abal-abal berubah menjadi Demokrat baru tangan Istana, koalisi hasil kooptasi atau aneksasi,"

Lebih lanjut, dengan melihat kejadian yang dialami Partai Demokrat ini, Rizal  berpendapat demokrasi di Indonesia sebagai hanya jargon  politik yang sudah terdistorsi oleh hasrat kekuasaan rezim.

Karena menurutnya, keterlibatan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Moeldoko di KLB Deliserdang jelas-jelas memperlihatkan ada upaya pendongkelan terhadap independensi partai politik.

"Demokrasi diplesetkan menjadi democrazy. Kekuasaan orang-orang gila. Gila kekuasaan dan gila kejumawaan. Dalam era transaksional, menjadi gila kekayaan juga," ucapnya.

"Memalukan! Sudah terlalu banyak kasus hingga kebal dengan peristiwa memalukan atau memilukan. Yang penting tujuan dapat tercapai dan rakyat aman atau diam-diam saja," demikian M Rizal Fadillah.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya