Berita

Begawan Ekonomi Indonesia, Rizal Ramli, dalam diskusi virtual Progressive Democracy Watch bertajuk 'Maju Mundur Revisi UU Pemilu: Kepentingan Rakyat atau Kekuasaan?', Sabtu (27/2)

Politik

Dampak Sistem Demokrasi Amburadul, RR: Korupsi Dulu-dulu 30 Persen Dari APBN, Hari Ini Sejak Perencanaan Di DPR

SABTU, 27 FEBRUARI 2021 | 20:32 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Besaran korupsi di Indonesia ditaksir meningkat oleh Begawan Ekonomi Indonesia, Rizal Ramli. Sebabnya, dia melihat persoalan pidana ini tidak bisa dilepaskan dari sistem demokrasi yang ada saat ini.

Hal ini dia sampaikan dalam diskusi virtual Progressive Democracy Watch bertajuk 'Maju Mundur Revisi UU Pemilu: Kepentingan Rakyat atau Kekuasaan?', Sabtu (27/2).

"Korupsi di Indonesia dulu-dulu 30 persen dari total anggaran (APBN). Hari ini korupsi sudah berlangsung pada tahap perencanaan, pada saat di DPR. Perkiraan kami sekitar 40 persen," ujar sosok yang kerap disapa RR ini.


Dalam hitung-hitungannya, jika dalam setahun anggaran belanja negara di dalam APBN dipatok Rp 2.000 triliun, kemungkinan ada Rp 800 triliun yang di korupsi oleh oknum.

Akar masalah dari korupsi ini, menurut RR, berada pada sistem demokrasi di Tanah Air yang transaksional hingga pengaturan regulasi yang tidak tepat.

Sebagai contoh, mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur ini menilai aturan narapidana korupsi boleh mencalonkan diri kembali usai lepas dari hukumannya adalah tidak tepat.

Karena tidak menutup kemungkinan, narapidana korupsi itu akan melakukan hal serupa ketika dirinya terpilih menjadi pemimpin, hingga akhirnya jumlah APBN yang dikorupsi semakin besar.

"Sistem ini merusak. Siapapun yang kena kasus korupsi (seharusnya) tidak boleh dipilih menjadi elected official, mau jadi di DPR, DPRD, DPD maupun eksekutif," tegas RR.

Maka dari itu, mantan Kepala Bulog ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperbaiki sistem demokrasi, yang menurutnya bisa dimulai dari penghapusan Presidential Threshold 20 persen yang menyebabkan politik transaksional.

"Jadi ini dulu kita benahin, lewat tadi perubahan UU Pemilu, penghapusan daripada threshold," demikian RR

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya