Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Epidemiolog Menggugat!

SENIN, 22 FEBRUARI 2021 | 14:49 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MATI! Penularan wabah merebak, maut menjemput dalam komunitas, para epidemiolog memainkan peran mengatasi kekisruhan yang terjadi.

Bagi Rob Wallace, keberadaan epidemiolog merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme.

Hal itu tertuang dalam bukunya, Matinya Epidemilog: Ekspansi Modal & Asal-Usul Covid-19, 2020. Pada buku setebal 259 halaman tersebut, Rob Wallace mempergunakan kapasitasnya sebagai ahli biologi evolusioner dari University of Minnesota.


Kajian ini berkaitan dengan berbagai buku lain yang dibuat Wallace, termasuk di antaranya yang paling relevan adalah Big Farms, Make Big Flu, 2016. Sesuai judulnya, Wallace menarik korelasi antara proses industrialisasi peternakan yang massif dengan kemunculan varian flu.

Dalam buku terbarunya kali ini, Wallace menegaskan bahwa Covid-19 adalah konsekuensi logis dari sistem produksi dan konsumsi dunia. Periode pagebluk alias pandemi, seolah hanya menunggu waktu meletus dari gelembung interaksi manusia yang eksploitatif atas ekosistem.

Motor Ekonomi

Bidang profesi epidemiolog, sebut Wallace, tidak hanya mempelajari masalah kesehatan yang terjadi pada populasi manusia, sekaligus menjadi juru cuci piring dari pesta yang tidak pernah usai. Wabah hadir silih berganti dan para epidemiolog terus menyampaikan peringatannya.

Keterhubungan antara manusia dan sistem hidupnya, dalam siklus ekonomi yang berorientasi pada keuntungan nominal, kemudian seakan mengabaikan terjadinya potensi ketidakseimbangan dari berbagai organisme yang hidup bersama di permukaan bumi.

Pertumbuhan dan orientasi akumulasi nilai tambah menjadi motor penggerak ekonomi. Perspektifnya tertutup oleh “kacamata kuda”. Kuasa kapital menjadi arus utama, sisanya adalah soal angka yang menjadi bagian bersifat pelengkap penyerta semata.

Virus sebagai jasad renik yang tidak terlihat, tidak pernah berpikir. Kerangka alur hidupnya terbilang sederhana, menempel pada tubuh inang, lalu mereplikasi diri untuk tetap hidup dan berkembang biak. Setelahnya, tubuh inang yang ditempeli parasit melemah kemudian mati.

Kemampuan berpikir tentu terletak secara mutlak ada pada manusia yang berada di puncak ekosistem, untuk mengendalikan diri dari syahwat yang berlebihan dalam mengejar akumulasi keuntungan secara ekonomistik. Seperti halnya peternakan besar menciptakan bencana.

Tumpang tindihnya ruang hidup antar organisme yang semakin menyempit, memunculkan timbulnya jenis wabah baru yang semakin menular, mudah menginfeksi dan bersifat saling menulari dalam urutan mata rantai secara berkesinambungan. Sulit dihindari.

Pertemuan Pasar  

Sebagian pihak menyebut pasar Wuhan adalah sumber asal muasal Covid-19, sesuatu yang harus diuji premisnya. Keinginan untuk mengkonsumsi binatang liar adalah bagian yang terfasilitasi dari mekanisme pasar, pertemuan antara permintaan dan penawaran.

Demikian pula halnya kekuasaan dibangun di atas dasar transaksional, persis sebagaimana sebuah pasar. Kekuasaan pula hidup dan memastikan kepentingan ekonominya tidak diganggu gugat, dengan berbagai cara, termasuk memperdaya seluruh sumber daya dan tata ruang.

Lokasi pasar di pedesaan menjadi tertuduh dan dianggap sebagai biang keladi persoalan. Tetapi juga harus disadari bila apa yang terjadi di pedesaan, juga merupakan bagian yang terintegrasi dari kawasan perkotaan dalam melangsungkan dominasi kepentingan ekonominya.

Tekanan besar dari industri perkotaan menyebabkan terdesaknya kehidupan di pedesaan. Hidup di antara keduanya berada dalam arus bolak-balik yang saling mempengaruhi.

Globalisasi dan keterhubungan rantai pasok melalui mobilitas barang serta manusia, menjadi sarana terjadinya percepatan penularan. Lagi-lagi upaya seperti karantina adalah bagian dari pelajaran klasik kisah wabah di masa lalu, tidak pernah berubah. Begitu pula perilaku manusia.

Saat wabah menyeruak hadir, semua pihak sibuk menuding asal masalah. Menurut Wallace hal yang perlu dikoreksi dari situasi seperti pandemi Covid-19 adalah evaluasi menyeluruh sistem kehidupan manusia secara bijaksana agar harmonis atas alam kehidupannya.

Persoalannya, mungkinkah hal itu terjadi? Tentu sangat tergantung pada kesadaran manusia yang tumbuh selama pandemi. Pada setiap episode terjadinya penularan wabah, baik di masa lalu atau saat ini, kita tidak ubahnya menjadi mahkluk yang bebal untuk belajar.

Sejatinya, eksistensi manusia adalah hal yang utama dibalik semua kehidupan modern yang terlihat fantastis dengan seluruh pencapaiannya. Hal berulang yang terjadi sesaat ketika umat manusia lepas dari wabah, laju ekonomi bergerak seolah melupakan pelajaran penting tersebut.

Di situlah para epidemiolog tampak mati dalam gugatannya, terutama untuk memastikan rasionalitas manusia selama periode pandemi.

Penulis tengah menempuh program doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya