Berita

Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri/Net

Politik

Polemik Marzuki Dan Hasto, Demokrat: Ini Bukan Biru Melawan Merah, Jangan Adu Domba SBY-Mega

KAMIS, 18 FEBRUARI 2021 | 19:30 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Partai Demokrat akhirnya angkat bicara merespons pernyataan eks Sekjen Demokrat Marzuki Alie dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto ihwal Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri disebut 'kecolongan dua kali' akibat mantan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).  

Menanggapi hal itu, Kepala Bakomstra DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan, sikap Marzuki Alie yang notabene pelaku Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK-PD) dan sudah ditolak mentah-mentah kader Demokrat masih menyebar fitnah dan tuduhan tak berdasar dimana-mana.

"Mungkin karena mereka frustasi gerakannya gagal, padahal salah satu pelakunya adalah orang lingkar dalam kekuasaan," kata Herzaky dalam keterangannya yang diterima redaksi, Kamis (18/2).


Herzaky menegaskan, kasus upaya kudeta kepemimpinan partai Demokrat tidak ada kaitannya dengan Presiden Joko Widodo dan para elite PDI Perjuangan.

Menurutnya, hal itu adalah upaya Partai Demokrat melawan penyalahgunaan kekuasaan, abuse of power, yang dilakukan oleh oknum pejabat penting negara, karena merusak demokrasi.

"Ini bukan AHY versus Bapak Presiden Joko Widodo, dan bukan pula biru melawan merah, apalagi Ibu Megawati dan Bapak SBY," tegasnya.  

Atas dasar itu, Herzaky meminta semua pihak untuk tidak mengadu domba mantan Ketua Umum Demokrat SBY dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

"Kami minta setiap pihak untuk tidak mencoba mengadu domba Bapak SBY dan Ibu Megawati, ataupun mengadu domba Partai Demokrat dan PDIP. Beliau-beliau, Bapak SBY, Ibu Megawati, selaku putra-putri terbaik bangsa yang pernah dipercaya memimpin negeri ini, sudah sepantasnya kita tempatkan di posisi terhormat," tuturnya.

Partai Demokrat, kata Herzaky, meminta setiap pihak untuk mengedepankan data dan fakta dalam berbicara apapun.

"Kedepankan data dan fakta dalam berbicara. Tidak menebar tuduhan tidak berdasar dan fitnah maupun pernyataan yang tidak bisa diverifikasi secara obyektif. Rakyat sedang susah, jangan kita malah menambah beban dan pikiran rakyat dengan menyebar berita hoax dan fitnah," tegasnya.

"Mari kita fokuskan energi kita, untuk memperjuangkan harapan rakyat. Mari kita bantu kesulitan rakyat, semampu kita, yang sedang dilanda bencana di berbagai pelosok Indonesia, maupun yang terdampak pandemi Covid-19 dan krisis ekonomi," demikian Herzaky.

Sekadar informasi, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto sebelumnya menanggapi pernyataan mantan Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie soal Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang disebut kecolongan dua kali di Pilpres 2004.

Marzuki menyebut mantan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berkata bahwa Megawati 'kecolongan dua kali pada Pilpres' tahun 2004 silam.

Sementara itu, Hasto menilai pernyataan itu justru menunjukkan bahwa SBY yang menciptakan desain pencitraan seolah saat ia menjabat Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) dizalimi Megawati yang adalah sebagai Presiden kelima RI.

Saat itu pernah berembus isu SBY merasa dizalimi Megawati sehingga ia memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam.

“Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri termasuk istilah 'kecolongan dua kali' sebagai cermin moralitas tersebut,” kata Hasto dalam keterangan tertulis, Rabu (17/2).

“Jadi kini rakyat bisa menilai bahwa apa yang dulu dituduhkan oleh Pak SBY telah dizalimi oleh Bu Mega, ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzalimi dirinya sendiri demi politik pencitraan,” imbuhnya.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya