Berita

Calon Ketua Umum Ikatan Alumni ITB (IA ITB), Gembong Primadjaja/Net

Nusantara

Gembong Primadjaja: Tidak Mungkin Radikalisme Bisa Hidup Nyaman Di Indonesia

SELASA, 16 FEBRUARI 2021 | 14:00 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pluralisme sudah menjadi sebuah keniscayaan di alam demokrasi dan sudah menjadi bagian dari kebangsaan Indonesia.

Di Indonesia, pluralisme berhasil dibingkai ke dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika dan sudah membuktikan mampu membawa Indonesia menjadi negara yang demokratis dan beradab.

Begitu kata Calon Ketua Umum Ikatan Alumni ITB (IA ITB), Gembong Primadjaja dalam jumpa pers secara daring, Senin kemarin (15/2).


“Dengan menjunjung tinggi prinsip pluralisme, saya meyakini rasanya tak mungkin radikalisme bisa hidup dengan nyaman di Indonesia,” katanya.

Alumni Teknik Mesin Angkatan 1986 mengurai bahwa kata radikal sebenarnya bermakna positih. Corntohnya, dalam mencari nafkah untu memenuhi keluarga, dirinya harus bekerja secara radikal.

Begitu juga dengan ITB. Kata Gembong, jika ingin naik peringkat, maka ITB harus radikal dalam mendidik para mahasiswa.

Pernjabaran Gembong ini menanggapi isu radikalisme yang terjadi beberapa hari belakangan, yang dipicu oleh Gerakan Anti-Radikalisme (GAR) Alumni ITB.

“Perbedaan persepsi di kalangan alumni ITB menjadi PR untuk bisa dijembatani. Harus ada orang yang punya waktu cukup untuk mengurus IA ITB, agar pihak-pihak yang berbeda persepsi itu bisa saling menjalin interaksi dan komunikasi,” ujarnya.

Gembong sendiri memastikan bahwa dirinya tidak pernah diajak untuk bergabung dengan gerakan tersebut.

Terlepas dari itu, Gembong berharap rekan-rekannya bisa menahan diri supaya kondisinya bisa mendingin dan lebih kondusif.

Gembong juga menyoroti kiprah para alumni dari perguruan tinggi terkenal di dunia. Menurutnya, alumni perguruan tinggi top dunia itu lebih banyak mendiskusikan cara pengembangan ekonomi, industri, sains, dan teknologi.

“Saya berharap, IA ITB ke depan lebih banyak membangun diskursus pengembangan sains, teknologi, seni, dan kemasyarakatan. Jadi, para alumni tidak lagi lebih banyak berdiskusi soal politik,” demikian Sekjen IA ITB periode 2016 hingga 2020 itu.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya