Berita

Akademisi sekaligus peneliti Universitas Melbourne, Richard Chauvel memaparkan soal Otsus Papua di dalam diskusi virtual LP3ES/Repro

Politik

Otsus Papua Tereduksi, Peneliti Melbourne: Jumlah Elit Lokal Semakin Meningkat

SELASA, 16 FEBRUARI 2021 | 11:20 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua dan provinsi hasil pemekaran di sana, dinilai telah mereduksi tatanan kehidupan masyarakat asli setempat.

Akademisi sekaligus peneliti Universitas Melbourne, Richard Chauvel menilai demikian, karena aspek pemekaran wilayah di Papua justru menyuburkan pertumbuhan elit-elit lokal baru.

Dia menyebutkan, pada masa awal Otonomi Khusus (Otsus) Papua ditetapkan, politik dan pemerintahan dipusatkan di Jayapura dengan hanya 12 kabupaten/kota. Tapi, hingga hari ini jumlahnya sudah semakin banyak.


"Pada tahun 2020 saja Papua sudah memiliki dua provinsi dengan 42 kabupaten/kota. Melalui proses pemekaran otonomi baru ini akibatnya semakin meningkat lah elit lokal di daerah-daerah Papua," ujar Richard dalam diskusi virtual LP3ES, Senin (15/2).

Dampak dari itu, Richard melihat adanya perubahan tatanan politik, sosial, budaya, etnis, ekologi dan jumlah penduduk di Papua. Karena menurutnya, pemekaran menjadikan susunan masyarakat menjadi semakin plural.

"Masih ada tuntutan dari masyarakat lokal tentang keterwakilan orang asli Papua di jajaran kepemimpinan, hal ini juga dipertegas melalui Otsus," kata Richard.

"Tetapi tuntutan representatif itu masih belum terpenuhi karena keterwakilan OAP masih belum setara karena susunan masyarakat semakin plural. Dan pemekaran provinsi ini berpotensi merubah tatanan administrasi dan politik," tambahnya.

Pada tahun 2021, muncul wacana penambahan provinsi baru di Papua. Di antaranya, Papua Selatan, Papua Tengah Timur, Papua Tengah Barat, dan Papua Barat Daya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya