Berita

Direktur Eksekutif DEEP, Neni Nur Hayati/RMOLJabar

Politik

DEEP: Tuding Din Syamsuddin Radikal, GAR ITB Hanya Ingin Naikkan Popularitas Kelompok

MINGGU, 14 FEBRUARI 2021 | 04:55 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Tudingan radikal kepada Prof Din Syamsudin oleh Gerakan Anti Radikal (GAR) ITB  dinilai Direktur Eksekutif DEEP Neni Nur Hayati sudah salah kaprah, tidak tepat sasaran, dan tak ada dasarnya.

"Sebab, kita semua mengetahui bagaimana kiprah Din dalam menjaga serta merawat kerukunan dan toleransi beragama baik itu di dalam maupun luar negeri. Bahkan, beliau sendiri adalah penggagas konsep Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah," ujar Neni Nur Hayati kepada Kantor Berita RMOLJabar, Sabtu (13/2).

Menurutnya, Din Syamsuddin selama ini mampu menjadi sosok yang senantiasa memberikan contoh terbaik dalam merawat kesatuan berbangsa dan bernegara. Sehingga, tidak tepat jika mantan Ketum PP Muhammadiyah itu dicap sebagai aktor pembawa radikalisme.


"Din Syamsuddin juga tokoh yang menjadi panutan kita semua, tidak hanya di Muhammadiyah. Semua pihak sangat menghormatinya, apalagi anak muda,” kata Neni.

“Jika ada kritik yang disampaikan Pak Din kepada pemerintah itu adalah hal yang wajar," lanjutnya.

Bagi Neni, mengingatkan pemerintah adalah suatu keharusan dalam sistem politik demokrasi.

“Presiden Joko Widodo sendiri membuka ruang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menyampaikan saran dan kritik sebagai bagian dari proses mewujudkan good government," ujarnya.

Alih-alih membangun demokrasi, imbuh Neni, sikap dan pernyataan yang dilontarkan oleh GAR ITB justru mengundang kegaduhan.

"Masa iya, tokoh yang pernah menjabat sebagai President religion for peace Asia dan Pacific dianggap sebagai tokoh yang radikal. Sebelah mana radikalnya?" tegasnya.

Neni juga menegaskan, tudingan GAR ITB sangat tidak objektif dan jauh dari relaitas yang sebenarnya.

"GAR ITB hanya mengada-ngada dan terlalu berlebihan dalam menilai seseorang. Apalagi yang dituding itu adalah ulama dan tokoh besar Muhammadiyah. Kita semua tahu bahwa muhammadiyah adalah organisasi yang telah banyak memberikan kontribusi konkrit untuk negeri ini," ungkapnya.

Neni pun beranggapan bahwa GAR ITB hanya ingin menaikkan popularitas kelompok saja dengan membuat isu-isu yang tidak bermutu dan menuduh seorang tokoh Islam moderat sebagai radikal.

Sangat disayangkan, Kampus sebagai gerbang akademis yang berbasis intektualitas dan kajian ilmiah, kini lebih bersifat sentimentil, irasional sehingga menjadi islamophobia, sungguh sangat disayangkan.

"Kami mendorong agar GAR ITB segera mencabut laporannya dan menyampaikan permintaan maaf kepada publilk," tandasnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Ombudsman RI Pelototi Tata Kelola Haji

Kamis, 23 April 2026 | 10:15

Kemlu Protes Spanduk "Rising Lion" Israel di RS Indonesia Gaza

Kamis, 23 April 2026 | 10:06

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp17.274 per Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 09:21

Kisah Epik Sang ‘King of Pop’: Film Biopik Michael Resmi Menggebrak Bioskop Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:18

Ketua KONI Ponorogo Sugiri Heru Sangoko Dicecar KPK Soal Pemberian Fee ke Sudewo

Kamis, 23 April 2026 | 09:15

MUI Minta Jemaah Haji Doakan Pemimpin Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:14

Bursa Asia Menguat: Nikkei Cetak Rekor

Kamis, 23 April 2026 | 09:07

Harga Minyak Kembali Tembus 100 Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 08:58

Wall Street Perkasa Berkat Donald Trump

Kamis, 23 April 2026 | 07:41

Pentagon Pecat Petinggi Angkatan Laut John Phelan di Tengah Gencatan Senjata

Kamis, 23 April 2026 | 07:25

Selengkapnya