Pihak kepolisian akhirnya menangguhkan anggotanya yang telah memborgol dan menyemprotkan merica pada seorang gadis berusia sembilan tahun, dalam sebuah peristiwa penangkapan di Rochester, AS.
Penangguhan tersebut dilakukan atas permintaan langsung dari Walikota Lovely Warren, Senin (1/2).
"Apa yang terjadi pada hari Jumat benar-benar mengerikan, dan telah membuat marah seluruh komunitas kami," kata Warren, seperti dikutip dari AFP, Selasa (2/2).
"Sayangnya, hukum negara bagian (New York) dan kontrak serikat pekerja mencegah saya mengambil tindakan yang lebih langsung dan serius," ujarnya.
Warren tidak merinci berapa banyak petugas yang diskors. Penangguhan akan berlangsung setidaknya sampai kesimpulan penyelidikan internal oleh polisi Rochester.
Kasus itu bermula saat sebuah rekaman penangkapan seorang gadis kecil yang dirilis pada Minggu (31/1) waktu setempat, memicu kemarahan baru atas ekses yang dilakukan oleh penegak hukum. Dalam video nampak setidaknya ada tujuh petugas yang terlibat dalam insiden pada Jumat.
Wakil Kepala Polisi Andre Anderson mengatakan pada Minggu bahwa gadis yang ditangkap itu - yang belum disebutkan namanya - menderita keadaan darurat kesehatan mental yang serius. Gadis tersebut dilaporkan telah mengancam akan bunuh diri dan membunuh ibunya.
Petugas yang dipanggil ke tempat kejadian pada hari Jumat akhirnya menanggapi dengan memborgolnya, sebelum mencoba memaksanya masuk ke mobil dan menyemprotnya ketika dia melawan, menurut video body cam yang dirilis oleh kepolisian kota.
Polisi Rochester pada hari Sabtu mengatakan mereka terpaksa menggunakan borgol dan bahan pengiritasi pada gadis itu demi keselamatannya sendiri.
Rekaman body cam awalnya menunjukkan petugas berusaha memberikan bantuan kepada gadis itu. Ketika ibunya tiba, pasangan itu berdebat dan para petugas - setelah gagal meredakan situasi - memutuskan untuk membawa anak yang semakin tertekan itu ke rumah sakit.
Pergumulan pun tak dapat dihindari, saat itulah polisi menyemprotkan merica untuk melumpuhkan anak tersebut.