Berita

Anggota DPD RI, Fahira Idris/Net

Politik

Efektivitas Dan Kualitas Harus Jadi Acuan Pilkada Dinormalisasi Atau Serentak 2024

MINGGU, 31 JANUARI 2021 | 21:37 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Perbedaan pandangan mengenai normalisasi pilkada 2022 dan 2023 serta penyatuan pilkada di tahun 2024 seiring pembahasan revisi UU Pemilu harus diperkuat dengan argumen yang mempertimbangkan efektivitas dan kualitas.

Menurut anggota DPD RI Fahira Idris, pihak-pihak yang menginginkan pilkada digelar di 2024 atau di tahun yang sama dengan pileg dan pilpres harus mempunyai argumen yang objektif, rasional dan konsisten.

"Jika pileg, pilpres, dan pilkada digelar di tahun yang sama, efektivitas dan kualitasnya harus lebih baik dibanding jika digelar pada 2022 dan 2023. Termasuk sejauh mana kesiapan penyelenggara (KPU, Bawaslu, DKPP), kesiapan pengamanan, anggaran, dan lainnya,” ujar Fahira Idris dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/1).


Selain itu, yang perlu diperhatikan dan dijelaskan adalah jaminan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di ratusan daerah yang harus dipimpin oleh pejabat sementara bila pilkada dilakukan secara serentak pada 2024.

Pejabat sementara harus menggantikan kepala daerah yang masa jabatannya habis pada 2022 dan 2023. Sebab mereka harus mengisi kekosongan pemimpin daerah hingga pilkada dilakukan serentak pada November 2024.

Argumen yang objektif, rasional, dan konsisten juga harus menjadi acuan pihak-pihak yang mendukung normalisasi pilkada 2022 dan 2023.

“Saya amati persoalan dan polemik jadwal pilkada ini sudah merambat ke mana-mana, terutama dikaitkan dengan kontestasi di 2024. Oleh karena itu, efektivitas dan kualitas gelaran pilkada harus jadi acuan," sambungnya.

Mereka yang yakin pilkada digelar 2024 atau di tahun yang sama dengan pileg dan pilpres, kata Fahira, harus mampu yakinkan publik bahwa hal tersebut adalah pilihan rasional. Sebab bila tidak objektif, maka akan mendapat penolakan dari publik.

"Demikian juga sebaliknya, mereka yang mendukung normalisasi pilkada juga paparkan alasan yang objektif. Jangan lupa juga, pendapat dan pandangan publik soal jadwal pilkada ini harus menjadi acuan utama baik bagi pemerintah, DPR, maupun partai politik," tutupnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya