Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Joe Biden Tinjau Ulang Kesepakatan Perdagangan Fase 1 AS-China Era Donald Trump

SABTU, 30 JANUARI 2021 | 14:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintahan Biden saat ini terus meninjau ulang semua langkah keamanan nasional yang diberlakukan oleh pemerintahan sebelumnya, termasuk kesepakatan perdagangan Fase 1 AS-China yang ditandatangani oleh Donald Trump pada Januari 2020.

Hal itu disampaikan Sekretaris Pers Gedung Putih yang baru, Jen Psaki dalam keterangan persnya pada Jumat (29/1) waktu setempat.

“Segala sesuatu yang telah dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya sedang ditinjau, karena berkaitan dengan pendekatan keamanan nasional kita, jadi saya tidak akan menganggap semuanya seperti itu bergerak kedepan," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (30/1).


"Pemerintahan Biden difokuskan pada pendekatan hubungan AS-China "dari posisi yang kuat, dan itu berarti berkoordinasi dan berkomunikasi dengan sekutu dan mitra kami tentang bagaimana kami akan bekerja dengan China," lanjutnya.

Trump menandatangani perjanjian perdagangan Fase 1 dengan Presiden China Xi Jinping pada Januari 2020, meredakan perang perdagangan hampir 18 bulan di mana barang-barang AS dan China senilai ratusan miliar dolar terkena tarif tit-for-tat, yang telah memperlambat perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

Berdasarkan kesepakatan itu, Beijing berjanji untuk meningkatkan pembelian barang-barang pertanian dan manufaktur AS, energi dan jasa sebesar 200 miliar dolar AS di atas level 2017 selama dua tahun. Tetapi pembeliannya gagal pada tahun 2020.

Sejumlah analis ekonomi juga ikut mengamati hal tersebut.

Chad Bown, seorang peneliti di Peterson Institute for International Economics, bulan ini merilis analisis yang menunjukkan bahwa pembelian barang-barang AS oleh China pada tahun 2020 turun 42 persen dari komitmen yang dibuat Beijing dalam perjanjian perdagangan.

Doug Barry, juru bicara Dewan Bisnis AS-China, mengatakan masuk akal bagi tim Biden untuk meninjau kesepakatan perdagangan dan kebijakan Trump lainnya, tetapi meremehkan kekhawatiran tentang pembatalan yang akan segera terjadi.

"Kami tidak terlalu banyak membaca prosesnya saat ini. China memiliki 11 bulan lagi untuk memenuhi janjinya untuk membeli tambahan 200 miliar dolar produk AS," katanya kepada Reuters.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Sempat Kaget, Legislator Golkar Bersyukur Budi Arie Klarifikasi dan Minta Maaf

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:20

KPK Tahan Gatot Heroe Hernanda, Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:10

DPRD Siap Bongkar Oknum Parpol dan Ormas Minta Jatah Proyek SD Rembang

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:05

Netflix Umumkan Pemeran Baru One Piece Season 3, Siap Hidupkan Kisah Battle of Alabasta

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:53

Bank Berwenang Menunda Transaksi Sesuai UU TPPU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:52

Daftar 6 Perusahaan di Kalimantan Disanksi Kemenhut Buntut Karhutla

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:49

Unhan Terbitkan Edaran Penggunaan Hijab bagi Kadet Putri Muslim

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:44

Diduga Terima Mobil hingga Rumah Mewah, Anggota DPRD Kota Bengkulu Diselidiki KPK

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:37

Pertamina Eco RunFest 2026, Hadirkan Tujuh Inisiatif Keberlanjutan Lingkungan

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:27

Lolly Suhenty: Kerja Kehumasan Bawaslu Menjaga Halaman Rumah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:26

Selengkapnya