Berita

Tokoh nasional, DR. Rizal Ramli/Net

Publika

Doktor Rizal Ramli Dan Kemampuan Prediktif Berdasar Data Dan Simulasi

MINGGU, 17 JANUARI 2021 | 15:09 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

DALAM Jangka Jayabaya umur Pulau Jawa diramal 350. 000 tahun.

Raffles menyebut Jawa: Nusa Kendang, Nusa Hara-Hara, atau Jawi. Akar kata yang sama dengan kata “Jau” (Jauh) yang menunjuk jarak atau tempat.

Sultan Agung meramal Belanda menjajah 300 tahun. Di antara keturunan Raja Mataram bakal bangkit melawan. Yang dimaksud tak lain Diponegoro, pengobar Perang Jawa 1825-1830.


Waktu Sukarno lahir Gunung Kelud meletus. Orang meramal tanda datang zaman baru.

Nostradamus meramal Hiroshima dan Nagasaki. John Naisbitt dan Toffler yang futurolog juga meramal (forecasting) berdasar gejala zaman.

Prabowo  pernah meramal Indonesia bubar pada 2030.

Katanya, kekayaan Indonesia dibawa lari dan dimanfaatkan asing. Berdasar bacaan fiksi, Ghost Fleet, tulisan August Coke dan Peter Singer.

Orang Indonesia hidup tak luput dari ramalan, sehingga dalam kultur Jawa misalnya ada primbon dan local wisdom tentang hakekat hidup slamet.

Sluman, slumun, slamet, yang mengajarkan hidup harus ulet, kreatif-inovatif supaya slamet (survive).

Sebuah ramalan tak menjadi spekulasi kalau basisnya data, statistik dan angka-angka.

Tokoh nasional Dr. Rizal Ramli dianggap punya sixth sense. Forecasting dan prediksi ekonominya tentang krisis ekonomi ‘98 tak meleset, berujung kejatuhan Soeharto.

Forecasting-nya berbasis data, statistik, dan angka-angka. Termasuk  saat memprediksi kondisi ekonomi Indonesia tahun ini yang bakal semakin carut-marut.

Rizal Ramli merujuk pada kondisi riil perekonomian nasional yang melambat dan merosot di bidang makro yang terlihat jelas awal tahun lalu.

“Dengan adanya Covid menjadi lebih parah lagi. Di awal semester tahun ini kita akan kesulitan cash flow. Dampak dari krisis multidimensi ini akan lebih gawat dibandingkan sebelum ‘98,” tandas Rizal.

Dia menjelaskan 1998 terjadi krisis moneter karena pemerintah Soeharto kebanyakan utang.

Tapi saat itu rakyat di luar Jawa malah senang. Karena petani karet, sawit dan cokelat yang tadinya hanya dapat 1 dolar AS = Rp 3.000 saat itu menjadi Rp 15. 000.

“Mereka jadi makmur. Di Jawa sendiri mengalami kesulitan,” kisahnya.

Tapi kali ini berbeda 180 derajat. Di luar Jawa, katanya, tidak ada lagi ekses kapasitas dan berbagai macam komoditi. Saat ini keseluruhan sedang menghadapi masalah.

Akibatnya, kata Rizal, kesulitan dihadapi rakyat baik di Jawa maupun luar Jawa.

Sebagai contoh, 70 persen mahasiswa seluruh Indonesia saat ini sudah tidak mampu bayar uang kuliah. Ironisnya, hal ini tidak mampu diselesaikan oleh pemerintah.

Krisis kali ini, menurutnya, lebih gawat dibanding krisis yang dialami Indonesia pada 1998.

Faktor yang mempengaruhi persoalan krisis kali ini cukup banyak. Pertama, terkait persoalan utang.

“Kita sudah sampai pada titik dimana untuk bayar bunga utang, harus berutang lagi,” ujarnya.

Diperkirakan tahun ini bunga utang Indonesia sekitar Rp 345 triliun. Untuk membayar bunga utang itu dipastikan pemerintah akan kembali berutang,  sehingga akan terjadi negatif flow.

Persoalan kedua, tidak banyak yang memperhatikan pada September tahun kemarin terjadi pertumbuhan kredit yang negatif.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya sejak 1998. Biasanya pertumbuhan kredit sebesar 15 hingga 18 persen. Kalau pertumbuhan ekonominya 6 persen,” jelasnya.

Dari Januari hingga September tahun lalu pertumbuhan kredit hanya berkisar di angka 3 persen. Jauh dari yang diharapkan. Bahkan pada September tercatat pertumbuhannya negatif.

Artinya, kata Rizal, uang  di masyarakat dimanfaatkan buat bayar utang, melalui mekanisme membeli Surat Utang Negara (SUN) dan mekanisme lainnya.

“Inilah yang memukul daya beli rakyat biasa saat ini,” tandasnya.

Penulis adalah wartawan senior


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya