Berita

Pengusaha tempe dari. Bali Benny. Santoso dalam program Jendela Usaha/RMOL

Bisnis

Anak Milenial Jualan Tempe? Kenapa Tidak?

RABU, 13 JANUARI 2021 | 13:24 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Your are what you eat. Frasa itu agaknya tepat untuk menggambarkan betapa makanan memiliki pengaruh dan kontribusi yang kuat dalam diri seseorang.

Hal itu juga lah yang memotivasi seorang pemuda berusia 25 tahun di Bali bernama Benny Santoso untuk menggeluti usaha produksi makanan olahan dari tempe organik.

Meski masih tergolong muda dan termasuk generasi milenial, Benny memili visi yang kuat untuk membantu petani kedelai lokal serta memproduksi produk olahan tempe yang sehat dan tanpa bahan kimia, yakni “Ini Tempe“.


Dalam program Jendela Usaha bertajuk "Usaha Tempe Organik, Kantung Pun Ikut Asik" yang digelar oleh Kantor Berita Politik RMOL pada Rabu (13/1), Benny menuturkan bahwa ketertarikannya dalam usaha tempe organik dimulai saat dia masih duduk di bangku SMA.

"Waktu itu saya ada tuga membuat tempe pada pelajaran biologi saat SMA di Solo, mengenai variasi tempe. Saya pun penasaran dan membuat variasi tempe pedas. Hal itu terus melekat di otak sampai kuliah," jelasnya.

Semasa kuliah, Benny mengaku bahwa ketertarikannya pada tempe terus berlanjut. Dia pun sempat membuat tugas tempe olahan rasa keju dengan project selama sekitar enam bulan.

"Saat itu saya datang ke pabrik tempe, mempelajari pengolahannya hingga jadi hasil akhirnya. Kemudian saya berpikir, sayang sekali kalau ilmu itu tidak saya lanjutkan," paparnya.

Lalu setelah lulus kuliah dan sempat bekerja di sejumlah tempat, Benny lalu mendalami ilmu yang dia geluti semasa di SMA dan kuliah, yakni dalam produksi dan pengolahan tempe.

"Saat tugas kuliah dulu, saya mencoba produksi tempe dari kedelai impor. Kemudian saya cari tahu lebih dalam dan bertemu sejumlah orang, saya penasaran dengan kedelai lokal yang justru lebih sehat. Tapi saya cari di Bali awalnya setengah mati sulit sekali,". cerita Benny.

Setelah terjun semakin dalam ke ranah produksi tempe, Benny menyadari bahwa produksi kedelai lokal dari petani di dalam negeri kurang mendapat dukungan banyak pihak.

"Selain dari sulitnya mencari petani kedelai lokal, mereka juga kalah bersaing dengan kedelai impor yang secara harga lebih murah dan secara jumlah atau stok lebih stabil. Kalau kedelai lokal stok belum tentu stabil, apalagi kalau gagal panen," jelasnya.

Belum lagi soal tengkulak dan wawasan petani yang kurang dari petani terkait bibit kedelai.

"Kedelai itu ada beberapa jenisnya dan setia jenis ada kecenderungan lebih cocok untuk dijadikan produk olahan tertentu. Petani sering kesulitan memahami bahwa bibit kedelai yang mereka tanam akan dibuat menjadi apa," sambung Benny.

Dari situ dia menyadai bahwa hal semacam ini perlu dibenahi.

"Saya semakin sadar bahwa produksi tempe itu dari hulu ke hilirnya repot. Dari mulai bibit, cara petani menjual kedelai, sampai ke tahapan produksi tanpa bahan kimia dan pemasaran," terangnya.

Meski begitu dia teguh dalam prinsipnya untuk mengembangkan produksi olahan tempe yang sehat tanpa bahan kimia, sekaligus mendorong petani lokal untuk menanam kedelai.

"Kalau saya ditanya, kok tidak pakai kedelai impor saja? Pertama karena faktor kesehatan dan kedua kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa mengembalikan pertanian lokal?" kata Benny.

Dia pun mengjak generasi milenial untuk tidak menutup. mata dan mau mengenal lebih dekat setiap makanan yang mereka konsumsi.

"Terkadang teman-teman tidak memahami makanan yang dimakan. Maka dari itu, sebaiknya memulai dengan edukasi diri sendiri dulu tentang apa yang dimakan, cari tahu bahannya apa, siapa pembuatnya dan bagaimana cara membuatnya," ujarnya.

"Karena banyak dari kita anak muda sekarang ini tahu banyak hal dari sosial media tapi kadang lupa dengan lingkungannya sediri. Ayo kita bangun curiosity kita terkait apa yang kita makan," tandasnya.

Produk olahan tempe organik yang diproduksinya dapat dengan mudah ditemui di sejumlah e-commerce dan juga Instagram @initempeid dan @initempebali.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya