Berita

Ilustrasi Capitol Hill, Amerika Serikat/Amelia Fitriani

Dunia

Partai Republik Jaga Jarak, Trump Kesepian Di Akhir Masa Jabatan

JUMAT, 08 JANUARI 2021 | 23:16 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Tanggal 6 Januari 2021 akan memiliki tempat tersendiri dalam penggalan sejarah Amerika Serikat. Pada hari itu, ratusan massa pro Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar protes yang berujung anarkis hingga membuat onar karena merangsek masuk ke gedung Capitol Hill.

Ulah mereka membuat sesi sidang kongres yang sedang melakukan sertifikasi kemenangan Joe Biden sebagai presiden Amerika Serikat terpilih dalam pemilu 2020 lalu menjadi terganggu. Para anggota kongres pun terpaksa dievakuasi ketika massa mulai mengacau di dalam Capitol Hill.

Meski pada akhirnya petugas keamanan berhasil mengendalikan situasi, namun sedikitnya empat nyawa melayang akibat kejadian tersebut. Dan citra Amerika Serikat sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, menjadi tanda tanya besar.


Hal ini tidak terlepas dari sikap Trump yang secara terang-terangan enggan mengakui kemenangan Biden dalam pemilu.

Buntut dari kejadian tersebut, Partai Republik, tempat di mana Trump bernaung dalam payung politik, menjadi seakan jaga jarak dengan Trump.

"Partai Republik berusaha membuktikan bahwa mereka miliki harga diri dan martabat dalam politik. Tapi mereka memiliki Trump yang pada akhirnya merusak Republikan itu sendiri," ujar Research Fellow dari Loyola University Chicago Amerika Serikat, Ratri Istania kepadai Kantor Berita Politik RMOL baru-baru ini.

Dia menjelaskan bahwa sejak pemilu presiden Amerika Serikat November 2020 lalu, di mana Trump kalah dari Biden, banyak orang-orang di Republik yang menjauhkan diri dari Trump. Terutama setelah Trump menolak mengakui kekalahannya dan mengajukan sejumlah gugatan ke pengadilan serta menggaungkan retorika kepada publik bahwa electoral vote telah dicuri.

"Mereka tidak mau disangkutpautkan dengan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Trump pasca pemilihan presiden kemarin," terang Ratri.

"Yang terlihat saat ini adalah bahwa Trump hanya mewakilkan dirinya sendiri," tambahnya.

Agaknya komentar tersebut tidak berlebihan. Media terkemuka Amerika Serikat, The New York Times menulis bahwa Trump bukan hanya menginspirasi massa untuk menyerbu Capitol Hill, tapi juga membawa Partai Republik mendekati titik puncaknya.

Partai Republik sangat terpecah sehingga banyak yang bersikeras bahwa mereka harus sepenuhnya melepaskan diri dari Trump untuk bangkit kembali.

Sejak saat itu, kritik dari sesama Republikan bagi Trump semakin gencar di publik.

Mantan gubernur New Jersey yang merupakan Republikan pertama yang mendukung Trump, Chris Christie bahkan secara terang-terangan menunjuk hidung Trump.

"Tingkah lakunya selama delapan minggu terakhir telah merugikan negara dan sangat merugikan partai," ujarnya.

Dia menekankan bahwa Partai Republik harus memisahkan pesan dari "pembawa pesan" semacam itu.

Media lain, Politico pada Jumat (8/1) mengutip peryataan dari senator Republik Tom Cotton yang merupakan salah satu pendukung setia Trump. Secara terang-terangan dia mengatakan bahwa sudah lewat waktu bagi presiden untuk menerima hasil pemilihan.

"Berhenti menyesatkan rakyat Amerika, dan menolak kekerasan massa!," ujarnya.

Senada dengan Cotton, senator Republik lainnya, Roy Blunt mengatakan bahwa dia tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari Trump.

"Itu adalah hari yang tragis dan dia (Trump) adalah bagian dari itu," tambahnya.

Kritik tajam lainnya juga datang dari Ketua Konferensi Partai Republik di DPR, Liz Cheney.

“Tidak diragukan lagi bahwa presiden yang membentuk massa, presiden menghasut massa, presiden berbicara kepada massa. Dia menyalakan apinya” kata Cheney.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya