Berita

Kerusuhan di Capitol Hill, Washington DC, Amerika Serikat pada Rabu, 6 Januari 2021/Net

Publika

Demokrasi Yang Menunjukkan Wajah Aslinya

JUMAT, 08 JANUARI 2021 | 19:04 WIB | OLEH: CHAPPY HAKIM

GEDUNG Capitol Hill diserang oleh para pendukung Presiden Trump pada tanggal 6 Januari 2021. Serangan tersebut dilakukan oleh para pendukung Presiden Trump setelah keluar keputusan yang menyatakan Joe Biden sebagai pemenang pemilihan presiden Amerika Serikat.

Mantan presiden Obama mengatakan setelah kerusuhan terjadi, "sejarah akan mengingat kekerasan hari ini di Capitol, yang dipicu oleh seorang presiden yang terus berbohong tanpa dasar tentang hasil pemilihan yang sah, sebagai aib besar dan memalukan bagi bangsa kita."

Kejadian seperti ini tidak begitu aneh bisa terjadi, karena sistem pemilihan presiden ala demokrasi adalah dengan cara voting yang memungkinkan siapa saja bisa menjadi Presiden sepanjang berhasil memperoleh jumlah suara yang paling tinggi. Artinya adalah bahwa dalam pemilihan pemimpin dalam hal ini presiden, maka faktor integritas moral kepribadian seseorang atau personal kredibiliti tidak menjadi ukuran untuk dipertimbangkan.


Siapa saja, walau tidak memiliki kapasitas sebagai seorang pemimpin sekali pun, akan tetap bisa menjadi presiden dalam sistem demokrasi, sepanjang mampu memperoleh suara terbanyak. Itulah yang terjadi dengan presiden Trump.

Demokrasi Amerika Serikat telah mempertontonkan ke seluruh dunia betapa pola pemilihan suara untuk memilih presiden telah berakibat tragedi yang mengukir sejarah di tanggal 6 Januari 2021. Demokrasi telah muncul memperlihatkan wajah aslinya.

Amerika Serikat sebagai negara mbahnya demokrasi dan yang telah mempromosikan demokrasi ke seluruh dunia, pasca peristiwa 6 Januari 2021 akan kesulitan untuk mengatakan kepada dunia bahwa demokrasi adalah sebuah sistem yang "the best". Amerika kini menjadi tontonan dunia tentang terjadinya perpecahan, kekerasan dan tindakan anarkis setelah memilih Trump sebagai presiden.

Kerusuhan dan perpecahan diantara rakyatnya yang harus dihadapi dalam proses menjalankan sistem demokrasi. Tentu saja ke semua ini tidaklah mewakili sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan rujukan terhadap penilaian terhadap sistem demokrasi. Akan tetapi paling tidak dunia tengah menyaksikan betapa Amerika Serikat mengalami peristiwa besar yang sangat memalukan dalam peradaban umat manusia.

Di luar Amerika Serikat, terutama di Asia tidak terdapat satu pun negara yang menganut demokrasi menjadi negara yang aman makmur dan sejahtera seperti yang didambakan. Demokrasi memang tidak menjanjikan hal itu, akan tetapi diakui bahwa sistem yang paling dapat diterima dalam abad ini adalah demokrasi.

Demokrasi telah dilihat sebagai tolok ukur peradaban sebuah bangsa. Indonesia sendiri sangat bangga disebut-sebut sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Demokrasi memang tampil dalam banyak varian yang mengikutinya dan demokrasi banyak disebut sebagai harus disesuaikan dengan situasi kondisi, tradisi dan budaya lokal misalnya.

Di Indonesia sendiri, sejak awal kemerdekaan RI, Indonesia telah menjalankan beberapa model demokrasi antara lain demokrasi terpimpin ala Bung Karno, demokrasi di era Soeharto dan demokrasi era reformasi. Realitanya adalah sampai dengan saat ini perpecahan yang terjadi sebagai akibat dari pemilihan pemimpin berdasar perolehan suara terbanyak masih tetap terasa.

Pertentangan menjurus permusuhan yang mengantar kepada potensi perpecahan antar warga yang terjadi di antara kubu pendukung dan lawannya tidak pernah kunjung usai. Pertentangan yang akan secara terjadwal terjadi pada setiap 5 tahun sekali.

Dengan pengalaman yang cukup panjang dari sejarahnya sendiri dan pelajaran yang dapat dipetik dari apa yang baru saja terjadi di negara mbahnya demokrasi, akankah Indonesia meninjau ulang untuk mencari model demokrasi yang paling cocok untuk diterapkan sebagai pengantar negeri tercinta ini menuju cita-citanya. Yang pasti adalah kejadian 6 Januari 2021 adalah tanggal yang patut dicatat.

Mungkin bisa saja dicatat sebagai hari di mana sang "demokrasi" memperlihatkan wajah aslinya, the origin of democracy.

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya