Berita

Capitol Hill di masa lalu/Net

Histoire

Histoire: Capitol Hill Telah Diserang Berkali-kali

JUMAT, 08 JANUARI 2021 | 08:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Peristiwa penyerbuan Capitol Hill oleh massa pendukung Donald Trump, yang menolak kekalahannya, telah menorehkan aib dalam sejarah demokrasi Amerika Serikat.

Pada Rabu (6/1), ribuan pendukung melakukan aksi kekerasan dan pengrusakan, sebuah pelanggaran keamanan yang belum pernah terjadi. Ini juga sebuah kritikan tajam tentang bagaimana kesiapan keamanan gedung itu.

Capitol adalah gedung dengan sejarah yang sangat panjang di Amerika Serikat, di mana pusat pemerintahan Amerika Serikat berada.


Dalam sejarahnya, gedung yang terletak di Washington DC ini beberapa kali mengalami serangan bermotif politik.

Kebakaran 1814

Perang 1812 adalah perang tiga tahun antara Inggris dan AS. Peperangan ini berdampak pada keamanan Capitol Hill. Ketika Inggris menginvansi Washington pada 24 Agustus 1814, terjadi pembakaran Gedung Putih. Gedung Capitol, yang waktu itu jauh lebih kecil dan tidak memiliki kubah seperti sekarang, juga ikut dibakar.

Di bawah komando Wakil Laksamana Sir Alexander Cockburn dan Mayor Jenderal Robert Ross, pasukan Inggris membakar ruang-ruang penting di dalam gedung yang kala itu masih dalam pembangunan.

Bangunan bersejarah mengalami kerusakan yang cukup parah. Api padam setelah ada badai besar melanda kota, yang sekaligus membuat pasukan Inggris mundur.

“Bom Perdamaian” 1915

Capitol juga pernah diledakkan. Pada 1915, seorang profesor Universitas Harvard kelahiran Jerman menanam dinamit di dekat Ruang Resepsi Senat. Dia kemudian menulis ke surat kabar, mengatakan dia telah melakukan mengeboman sebagai "seruan saya untuk perdamaian."

Tidak ada yang terluka saat bom itu meledak sekitar tengah malam. Profesor itu kemudian ditahan dan bunuh diri saat berada di dalam tahanan.

Serangan kaum nasionalis Puerto Rico 1954

Capitol Hill juga mengalami serangan penembakan yang dilakukan oleh sekelompok orang. Pada Maret 1954, empat nasionalis Puerto Rico melepaskan tembakan ke lantai gedung parlemen dari galeri pengunjung yang berada di atas. Serangan tembakan itu melukai lima anggota Kongres. Pelaku ditangkap dan dipenjarakan.

Pemboman Weather Underground 197


Ancaman ledakan bom berikutnya datang dari kelompok ekstremis. Mereka meledakkan bom di dalam kamar mandi di sisi Senat Capitol. Tidak ada yang terluka pada peristiwa yang terjadi pada Maret 1971 itu.

Namun, Capitol Hill mengalami kerusakan yang cukup parah dan menghabiskan ratusan ribu dolar untuk perbaikannya.

Kelompok itu mengaku bertanggung jawab atas berbagai pemboman pada akhir 1960-an dan 1970-an, termasuk di Pentagon dan kantor polisi New York City.

Unit Perlawanan Bersenjata

Ledakan di Capitol Hill juga terjadi pada 1983. Kelompok kiri yang memprotes aksi militer di Lebanon dan Grenada meledakkan pintu kantor Senator Robert Byrd. Ledakan itu merusak penjuru ruangan dan menghancurkan potret Daniel Webster yang terpajang di di sana.

Tiga wanita didakwa dan dijatuhi hukuman penjara setelah pencarian selama lima tahun. Setelah insiden ini, kamar DPR dan Senat dipasang detektor logam untuk meningkatkan keamanan.

Yang menjadi kritik keras para pengamat, mengapa detektor logam itu berhasil dilanggar oleh massa pro-Trump pada hari Rabu petang (6/1), yang pada akhirnya menunjukkan lemahnya penjagaan Capitol Hill di tengah maraknya seruan penolakan hasil Pilpres 2020 oleh pendukung Trump beberapa hari sebelumnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya