Berita

Boeing 737 MAX 8/Net

Dunia

Boeing Sepakat Bayar Biaya Penyelesaian Hukum 737 MAX Sebesar Rp 35 Triliun

JUMAT, 08 JANUARI 2021 | 08:12 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Perusahaan pembuat pesawat, Boeing, harus membayar lebih dari 2,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 35 triliun (Rp 14.000/dolar AS) untuk menyelesaikan penyelidikan terkait dua kecelakaan mematikan dari 737 MAX kepada Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS).

Departemen Kehakiman mengatakan, biaya tersebut termasuk denda sebesar 243,6 juta dolar AS, pembayaran kompensasi kepada pelanggan sebesar 1,77 miliar dolar AS, dan kompensasi untuk keluarga korban sebesar 500 juta dolar AS.

Dua kecelakaan yang dimaksud adalah di Indonesia dan Ethiopia, yang merenggut total 346 nyawa.


Kecelakaan itu menyebabkan pesawat Boeing 737 MAX dilarang terbang selama 20 bulan sejak Maret 2019 dan baru diizinkan kembali pada November 2020, setelah Boeing melakukan peningkatan keamanan.

Menurut pengacara keluarga korban Boeing 737 MAX di Ehiopia pada Kamis (7/1), pihaknya akan melanjutkan proses hukum perdata meski sudah ada penyelesaiannya.

Dalam proses hukumnya, Boeing didakwa dengan satu tuduhan konspirasi untuk menipu pemerinta. Pabrikan pesawat terbesar AS itu menghadapi perjanjian penuntutan tiga tahun yang ditangguhkan, setelah itu dakwaan akan dibatalkan jika perusahaan mematuhi perjanjian tersebut.

"Kecelakaan tragis Lion Air Penerbangan 610 dan Ethiopian Airlines Penerbangan 302 mengungkap perilaku curang dan menipu oleh karyawan salah satu produsen pesawat komersial terkemuka dunia," kata Penjabat Asisten Jaksa Agung David P. Burns, seperti dikutip New Daily.

"Karyawan Boeing memilih jalur keuntungan daripada keterusterangan dengan menyembunyikan informasi material dari FAA mengenai pengoperasian pesawat 737 MAX-nya dan terlibat dalam upaya untuk menutupi penipuan mereka," sambung Burns.

Dalam dokumen pengadilan, Boeing mengaku bahwa dua dari 737 MAX Flight Technical Pilot menipu Administrasi Penerbangan Federal (FAA) tentang sistem keamanan utama yang terkait dengan kedua kecelakaan fatal yang disebut MCAS.

Kepala Eksekutif Boeing David Calhoun mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa perjanjian itu dengan tepat mengakui bagaimana perusahaan gagal memenuhi nilai-nilai dan harapan.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya