Berita

Batara R. Hutagalung

Publika

Jangan Bangun Negara Dan Bangsa Indonesia Di Atas Mitos-Mitos Yang Salah, Rekayasa, Manipulasi, Kebohongan, Dan Pemalsuan Penulisan Sejarah

KAMIS, 31 DESEMBER 2020 | 09:15 WIB | OLEH: BATARA R. HUTAGALUNG

SEJAK zaman penjajahan, oleh beberapa tokoh pribumi telah dibangun mitos-mitos yang salah atau yang direkayasa/dimanipulasi. Juga sejak lahirnya bangsa Indonesia dan berdirinya negara Indonesia pada 17 Agustus 1945, telah dilakukan rekayasa dan manipulasi penulisan-penulisan sejarah. Hal ini berlanjut terus sampai sekarang.
 
Awalnya, alasan melakukan rekayasa dan manipulasi membangun mitos yang salah dan rekayasa dalam penulisan-penulisan sejarah adalah konon antara lain untuk membangkitkan semangat berjuang dan membangun rasa kesatuan serta persatuan.

Walaupun sebenarnya hal-hal tersebut tidak diperlukan. Cukup dengan menonjolkan peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta yang sebenarnya.
 

 
Namun kemudian rekayasa dan manipulasi penulisan sejarah dilakukan untuk kepentingan politik penguasa dalam memperkokoh kekuasaannya dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya.
 
Sadar atau tidak, penulisan sejarah hasil rekayasa dan manipulasi telah menutup peristiwa2-peristiwa sejarah yang sebenarnya lebih besar dan lebih penting untuk diketahui oleh rakyat Indonesia daripada penulisan sejarah hasil rekayasa.
 
Hal-hal tersebut di atas mengakibatkan generasi sekarang dan generasi mendatang tidak lagi mengetahui sejarah yang sebenarnya. Hal ini diperparah dengan maraknya pemalsuan-pemalsuan sejarah dan pemalsuan-pemalsuan penulisan sejarah yang beredar. Bukan hanya di media-media sosial saja, melainkan juga di media-media besar/utama.
 
Mitos yang salah dan rekayasa-rekayasa/manipulasi-manipulasi antara lain adalah “Belanda Menjajah Indonesia 350 Tahun.”  â€œSumpah Sriwijaya, Sumpah Palapa Gajah Mada untuk mempersatukan Nusantara, Sumpah Pemuda,” “Kebangkitan Nasional,” dll.
 
Selama puluhan tahun masyarakat percaya bahwa tulisan-tulisan mengenai sejarah di buku-buku sekolah adalah sejarah yang benar. Namun faktanya tidak demikian. Ternyata sangat banyak penulisan-penulisan sejarah adalah hasil rekayasa, manipulasi, dsb.
 
Sangat sulit untuk mengubah pendapat masyarakat, karena sejarah hasil rekayasa, manipulasi tersebut telah melekat dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia selama puluhan tahun. Hal ini terutama di kalangan generasi yang lebih tua.

Generasi muda lebih terbuka dalam menerima penjelasan-penjelasan mengenai adanya rekayasa dan manipulasi dalam penulisan sejarah. Generasi yang lebih tua sangat sulit untuk mengubah pendapat yang telah puluhan tahun diyakini sebagai kebenaran.

Sedangkan generasi muda banyak yang senang memperoleh informasi yang baru mereka ketahui mengenai sejarah yang tidak mereka baca di buku-buku pelajaran sejarah di sekolah.
 
Yang paling sulit untuk menerima fakta, bahwa penulisan sejarah selama ini tidak benar, adalah para pengajar (para dosen dan guru-guru) mata pelajaran sejarah.

Memang hal ini sangat dilematis untuk mereka. Kalau mengakui bahwa penulisan sejarah selama ini adalah hasil rekayasa, manipulasi, dan kebohongan-kebohongan, maka berarti yang selama ini mereka ajarkan, ternyata adalah sejarah yang tidak benar, hasil manipulasi, bahkan pemalsuan.
 
Sebenarnya, sejak 1950-an telah banyak dikemukakan mengenai rekayasa dan manipulasi penulisan sejarah. Namun sebagaimana adagium yang berlaku di seluruh dunia, bahwa sejarah ditulis oleh pemenang, atau penguasa. Rekayasa dan manipulasi penulisan sejarah berlangsung terus. Hal ini terutama dalam buku-buku sejarah yang resmi diterbitkan oleh pemerintah.
 
Yang sangat penting untuk diteliti dengan sangat cermat adalah mengenai yang dinamakan “Kebangkitan Nasional,” yaitu berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Hal ini sangat penting dilakukan untuk mencari akar Kebangkitan Nasional yang sesungguhnya, bukan hasil rekayasa/manipulasi.
 
Setelah tahun 1950, juga banyak peristiwa-peristiwa yang harus dikaji ulang dan ditulis baru agar generasi muda tidak memiliki persepsi yang salah.

Antara lain mengenai peristiwa PRRI–Permesta. Mereka adalah juga pejuang-pejuang yang berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia terhadap agresi militer Belanda 1945-1949. Tuntutan utama mereka sebenarnya adalah Otonomi Daerah, yang sekarang telah dilaksanakan.

Dalam bincang-bincang di Bravos Radio pada Kamis, 31 Desember 2020, pukul 15.00 WIB nanti, akan saya sampaikan penjelasan mengenai hal-hal yang saya sebut di atas. Acara ini bisa diakses melalui https://www.youtube.com/c/bravosradioindonesia.

Banyak dari hal-hal yang saya sampaikan, sebenarnya bukan hal baru, melainkan telah banyak ditulis oleh para sejarawan dan pengamat sejarah sejak puluhan tahun, namun tidak digubris oleh para penguasa sejak tahun 1950-an.
 
Saya tidak klaim, bahwa pendapat saya paling benar, tetapi perlu disimak dan dikaji lebih dalam, apakah hal-hal yang akan saya kemukakan benar adanya.
 
Mari kita bersama-sama melakukan penelitian yang lebih dalam dan lebih cermat serta menulis baru historiografi Nusantara (sampai 16 Agustus 1945) dan historiografi Nasional Indonesia (mulai 17 Agustus 1945), agar generasi mendatang tidak lagi membaca sejarah yang salah.
 
Selamat Tahun Baru 2021. Merdeka!

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

8.620 Hektare Lahan Kalsel Terbakar, Pemadaman Terganjal Krisis Air

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:24

BRImo Taiwan Manjakan Diaspora dan PMI Kelola Keuangan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:15

Temuan Bibit Sawit Bongkar Motif Karhutla Bukan Semata karena El Nino

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:52

ISPA dan Rabies Mulai Mengancam Ribuan Pengungsi Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:39

Tolak Demo Berbau Provokasi di DPR, Jaga Jakarta!

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:23

Magang Pengurus KDKMP Replikasi Model Bisnis Berbasis Potensi Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:12

Masa Iddah Politik Calon Ketum PBNU: Bolehkah Perkum Menambah Syarat?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:06

Menuju Muktamar NU, Nahdliyin Berharap Sejarah 2015 Tak Terulang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:31

Gebu Minang-Hanura Terbangkan 3,6 Ton Rendang Buat Korban Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:28

Obligasi Sosial Berkelanjutan BRI Raih IDX Channel Anugerah ESG 2026

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya