Angin berhembus dari arah Timur, berlawanan dengan matahari yang tampak sudah lelah di Barat Pantai Kedongan, Bali. Langit masih terang, jarum jam menunjukkan pukul 16.00 Waktu Indonesia bagian Tengah.
Seolah waktu yang tepat, jala langsung dipanggul di bahu kiri Pak Nyoman, menuju perahu kayu yang sudah bertengger di tepi pantai. Sementara sebuah gawai dengan baterai terisi penuh sudah berada digenggaman tangan.
Bulan keempat hingga kesepuluh memang selalu dinanti oleh para nelayan. Bagaikan kesempatan emas, itu adalah masa mereka bisa mengarungi lautan.
Beberapa waktu lalu, Pak Nyoman bercerita tentang pengalaman barunya mencari ikan. Bukan untuk ‘keren-kerenan’, gawai yang digenggam Pak Nyoman adalah jawaban dari pengharapan. Lantaran kurang lebih sejak dua tahun terakhir, para nelayan di Kabupaten Badung merasakan berkah teknologi dari satu aplikasi. Namanya Fish Go, buatan anak dalam negeri.
Pak Nyoman secara khusus mengaku, selalu mengecek gawai saat hendak berlayar adalah kebiasaan baru. Di sana ada info perubahan cuaca hingga lokasi ikan yang ingin dicari. Cukup praktis dan berbuah manis.
"Aplikasi Fish Go ini bagus, akurat. Hasil tangkapan lebih banyak dan biaya bahan bakar lebih sedikit, waktu juga lebih singkat," ucap Pak Nyoman.
Adalah I Gede Merta Yoga Pratama yang berhasil mewujudkan mimpi Pak Nyoman untuk mendapat hasil tangkapan hingga 1 kwintal dalam sekali melaut. Dengan aplikasi yang dikembangkan oleh pemuda Bali itu, Pak Nyoman juga bisa pulang lebih cepat pada pukul 11 malam. Sebelum ada aplikasi, bisa menjelang pagi, dengan perhitungan berangkat di waktu yang sama, pukul 16.00 WITA.

Yoga menyebut, Fish Go bermula dari tugas kuliahnya sebagai mahasiswa kelautan dan perikanan di Universitas Udayana pada 2016. Ia mengaku, namanya pun hanya terinspirasi dari permainan online ‘Pokemon Go’.
“Jadi waktu saya main Pokemon Go kepikiran, orang dikasih tahu titik Pickachu di mana kan berkumpul ke sana. Nah saya pikir ini kalau dibawa ke nelayan kayanya keren juga,†terangnya.
Lanjutnya, ide sederhana itu sempat menjadi bahan guyonan bagi teman-teman dan dosennya di kampus. Tetapi, ia semakin memantapkan diri ketika melihat secara langsung kehidupan nelayan.
Di tengah perkembangan pariwisata Bali yang semakin menjanjikan, para nelayan justru berada di bawah garis kemiskinan. Mereka terjebak dalam satu siklus ‘gali-tutup lubang’.
Nelayan-nelayan kecil pada umumnya menjual ikan ke tengkulak, tentu dengan harga yang jauh lebih murah. Pilihan itu terpaksa mereka ambil karena tak jarang mereka pulang melaut dengan hasil nihil. Saat hari itu tiba, maka para nelayan meminjam uang pada tengkulak.
Prihatin, Yoga semakin yakin membuat perubahan kecil. Setidaknya itu yang ia pikirkan dahulu. Ia ingin nelayan kecil bisa mendapat ikan setiap hari di tengah bergumulnya kapal-kapal besar yang mendominasi.
Alhasil, ia mengikuti proyek dari balai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada medio 2017. Ia menemukan manfaat teknologi pemodelan sonografi untuk pemetaan makhluk hidup di wilayah perairan.
"Ternyata metode ini bisa digunakan juga untuk pemetaan ikan. Mungkin kalau teknologi ini bisa dibagikan ke masyarakat pasti bisa membantu," ucapnya.
Tidak berhenti di sana, pada 2018, ia pun memutuskan untuk merintis rencananya dalam lomba karya tulis ilmiah. Kerja keras terbayar, prototipe Fish Go menangkan hadiah.
Dana yang didapat lantas digunakan Yoga untuk terus berkembang, merekrut para ahli IT hingga akutansi. Ia juga mulai melakukan sosialisasi, walau sambutan nelayan nyatanya tak seindah ekspektasi.
Pandangan sebelah mata tidak jarang ia dapat. Sampai pada akhir 2019, Fish Go sukses menarik investasi dari Pemerintah Kabupaten Badung dengan pendanaan sebesar Rp 1 miliar.

Bukan tanpa alasan, aplikasi besutan Yoga itu memang punya keandalan. Bahkan, tak hanya membantu nelayan, Yoga juga ingin menjaga keberlangsungan ekologi.
Di dalam aplikasi, setiap kapal diseleksi. Hanya kapal dengan maksimal 5 GT dan mesin 5PK, serta alat tangkap ramah lingkungan yang mendapat akses kendali. “Kalau mereka menggunakan kapal besar, otomatis kita tidak akan berikan akses. Pertama, kita berikan kesempatan kepada nelayan kecil. Kedua, kita menjaga ketersediaan ikan itu supaya sustain ke depannya,†tutur Yoga.
Setelah berhasil membawa nama pemerintah, sosialisasi pada nelayan menjadi lebih mudah. Sebab, kata Yoga, dengan bantuan akses, hingga kini, tak kurang dari 563 nelayan menjadi pengguna aktif. Walaupun baru tersedia di Kabupaten Badung, Karangasem, dan Buleleng, tawaran dari kabupeten serta pulau lain juga ia klaim semakin bermunculan.
Meski begitu, Yoga mengaku, aplikasi Fish Go tak dapat digunakan di wilayah lain. Lantaran setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga algoritma ikan yang digunakan pun tak sama.
Setidaknya, memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan bagi Yoga untuk bisa mengumpulkan koordinat tangkapan ikan di satu daerah. Memang tidak mudah, tapi dengan begitu prediksi lokasi ikan semakin mumpuni.
Ketepatan prediksi Fish Go bahkan menorehkan kisah menarik bagi Yoga. Dalam satu uji coba, ia berserta tim dan para nelayan mencari ikan lemuru yang memang berdomisili di Bali. Pada umumnya, untuk mendapatkan ikan tersebut para nelayan harus menunggu setidaknya dua jam, setelah 20 set jaring dilepas.
"Belum ada 30 menit, ini baru turun 10 (jaring) sudah kena, langsung keburu-buru ditarik," lanjutnya sembari terkekeh.
Yoga sendiri berharap, inovasi teknologinya dapat membantu nelayan untuk bertahan di tengah kerasnya persaingan.
“Visinya mereka bisa menggunakan teknologi untuk penangkapan, bisa memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan dan pemasaran,†harapnya.