Berita

Abdul Muti/Net

Publika

Mantap Mas Muti

KAMIS, 24 DESEMBER 2020 | 09:41 WIB

PENGUMUMAN enam Menteri usai, meski ada sedikit keraguan soal Menteri Agama keliru atau tidak, Yaqut atau Staquf, karena keduanya sama Khalil.

Soalnya, awal yang ramai adalah nama Yahya Khalil Staquf, tetapi kemudian yang diumumkan dan dilantik keesokan harinya justru Yaqut Khalil Qoumas, sang adik.

Di tengah komentar dan kritik keras terhadap kepatutan Yaqut untuk menjadi Menteri Agama, juga Sandiaga Uno "paket pilpres" Prabowo yang dinilai "ambruk dua-duanya", serta Budi Gunadi Sadikin alumni ITB yang bukan dokter namun memimpin Kementerian Kesehatan, maka satu figur yang dicanangkan menjadi Wakil Menteri Pendidikan ternyata menolak untuk diangkat adalah Prof. Abdul Muti.


Sekum PP Muhammadiyah itu beralasan akan ketidakmampuan untuk mengemban amanah sebagai Wamen. "Berdasarkan pertimbangan yang matang," ujarnya.

Abdul Muti menjadi satu-satunya kandidat yang tidak bersedia dilantik. Berbeda dengan Uno yang awal tak bersedia namun akhirnya bersedia.

Pilihan Mas Muti tentu disikapi beragam, namun warga Muhammadiyah dapat menilai bahwa sikap ketidaksediaan untuk menjadi Wakil Menteri itu sangat dipahami dan patut diapresiasi.  

Dua hal penting yang mendasarinya, yaitu:

Pertama, sebagai Wamen ruang gerak untuk mengambil kebijakan sangat terbatas. Bukankah Presiden pernah menyatakan bahwa tidak ada visi Menteri yang ada adalah visi Presiden.

Nah visi Menteri saja tak ada apalagi visi Wakil Menteri. Menteri dan Wakil Menteri yang bekerja tanpa visi adalah mesin, boneka, atau robot.

Kedua, dalam budaya kepemimpinan di Muhammadiyah "kolektif kolegial" artinya kerja bersama yang diutamakan. Semua elemen harus saling mendukung dengan tingkat keterbukaan dan kejujuran yang tinggi.

Kabinet Jokowi kini sudah terbaca oleh publik berjalan sendiri-sendiri dan tanpa visi yang jelas. Presiden tak memiliki kemampuan sebagai dirijen yang mumpuni.

Mas Muti yang masuk di pertengahan jalan akan berat untuk dapat berselancar mengarungi dua kondisi atau kultur di atas. Karenanya dengan bahasa halus ia menyatakan "tidak memiliki kemampuan untuk mengemban amanah sebagai Wamen" meskipun sebenarnya semua orang tahu bahwa "pendidikan" adalah bidang yang sangat dikuasai dan menjadi keahlian dirinya.

Pemerintahan Jokowi kini sedang rapuh karena menghadapi banyak masalah yang tidak pernah tuntas. Korupsi di lingkaran Istana terus terkuak, penanganan pandemi Covid 19 tidak konsisten, pembuatan aturan hukum dipaksakan, kepentingan asing diutamakan, hutang luar negeri terus digali, serta pelanggaran HAM yang dilakukan dengan kasat mata.

Kurva pengelolaan negara tidak sedang menaik, justru menurun dengan tingkat kepercayaan masyarakat yang rendah. Mengatasi aspirasi yang berbeda kurang akomodatif dan dialogis. Respresivitas tinggi dan terkesan kehilangan rasa malu.

Mas Muti sudah tepat bersikap. Menolak jabatan adalah "counter culture" yang konstruktif untuk pembangunan karakter bangsa ke depan. Padanannya adalah budaya siap mundur jika gagal. Hal demikian merupakan barang langka di era kehidupan sosial politik yang hedonis dan pragmatis.

Selamat dan mantap Mas Muti. Matahari memiliki cahaya sendiri. Jabatan Wakil Menteri atau Menteri sekalipun harus didasarkan pada keyakinan. Perwujudan dari iman dan amal shaleh. Menjadi agenda untuk mengajak kebenaran dan mencegah kemungkaran.

Penolakan jabatan adalah bagian dari mencegah kemungkaran itu.

M. Rizal Fadillah

Pemerhati politik dan kebangsaan.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Permintaan Chip AI Dongkrak Saham Intel hingga 24 Persen

Sabtu, 25 April 2026 | 12:18

Apa Itu UNCLOS? Dasar Hukum Jadi Acuan Indonesia di Selat Malaka

Sabtu, 25 April 2026 | 12:03

Purbaya Siap Geser hingga Non-Job Pegawai Pajak Bermasalah

Sabtu, 25 April 2026 | 12:02

Jalan Mulus Kevin Warsh ke Kursi The Fed, Dolar AS Langsung Terkoreksi

Sabtu, 25 April 2026 | 11:45

Subsidi Motor Listrik Disiapkan Lagi, Pemerintah Bidik 6 Juta Unit

Sabtu, 25 April 2026 | 11:16

IHSG Sepekan Anjlok 6,61 Persen, Kapitalisasi Pasar Menciut Jadi Rp12.736 Triliun

Sabtu, 25 April 2026 | 10:59

Rupiah Melemah, DPR Desak Pemerintah Jaga Daya Beli Rakyat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:48

Wamen Ossy Gaspol Benahi Layanan Pertanahan: Target Tanpa Antrean dan Lebih Cepat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:27

Ketergantungan pada Figur, Cermin Lemahnya Demokrasi Internal Parpol

Sabtu, 25 April 2026 | 10:02

Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Secara Diam-diam

Sabtu, 25 April 2026 | 09:51

Selengkapnya