Berita

Obulhasan Tursunniyaz, salah satu pemimpin agama di Masjid Jamaah di Prefektur Hotan Xinjiang, luruskan berita soal kehidupan masyarakat di Xinjiang/Repro

Dunia

Jubir Luruskan Isu Kerja Paksa Dan Pemasangan Kamera Di Tempat Ibadah Di Xinjiang

SELASA, 22 DESEMBER 2020 | 06:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Otoritas Beijing menyelenggarakan konferensi pers pada Senin (21/12) untuk mendengarkan pemaparan dari sejumlah pejabat dan warga Xinjiang tentang rumor yang berkembang terkait sejumlah masalah di daerah itu. Termasuk isu kerja paksa dan pembangunan pusat pendidikan ulang Xinjiang.

Dalam konferensi yang dihadiri oleh sejumlah jurnalis asing dan lokal itu turut diputar sebuah video yang menunjukkan praktik keagamaan dan masjid di Daerah Otonomi Xinjiang Uighur, China Barat Laut.

CGTN pada Senin (21/12) melaporkan, pejabat bersama sejumlah umat beragama dari wilayah itu mengatakan bahwa rumor seperti kerja paksa di Xinjiang dan pemasangan kamera di tempat ibadah untuk mengawasi umat beragama adalah fitnah.


Juru bicara Kantor Informasi Pemerintah Rakyat Xinjiang, Elijan Anayit, mengatakan dalam jumpa pers tersebut, bahwa tuduhan yang disebut kerja paksa dan penindasan sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

“Penganiayaan yang diklaim itu tidak masuk akal. Orang-orang di Xinjiang sama seperti orang lain di wilayah China lainnya, menikmati hak yang sama dan dilindungi oleh hukum,” katanya, seraya menambahkan 70 persen dari pengeluaran publik di kawasan itu dihabiskan untuk perbaikan mata pencaharian masyarakat lokal, dari pekerjaan dan pendidikan hingga perawatan medis.

“Kisah kerja paksa itu konyol,” lanjutnya.

Dia menjelaskan bahwa pada tahun 2020, setidaknya satu orang di setiap rumah tangga di Xinjiang memiliki pekerjaan. Dan bagi mereka yang mencari pekerjaan di luar wilayah tersebut, mereka memperoleh rata-rata 40 ribu yuan per tahun menurut hitungan terakhir.

“Bisa dikatakan kita sekarang menjalani kehidupan yang sebelumnya hanya ada dalam mimpi kita,” tambahnya.

Obulhasan Tursunniyaz, salah satu pemimpin agama di Masjid Jamaah di Prefektur Hotan Xinjiang, membantah tuduhan bahwa kamera keamanan di masjid digunakan untuk memantau umat Islam, menjelaskan peralatan tersebut justru digunakan untuk menangkis teroris.

Dia mengutip serangan teroris yang terjadi di Kashgar pada tahun 2014, di mana Juma Tahir, wakil presiden Asosiasi Islam China dan imam Masjid Id Kah di Kashgar, ditikam sampai mati oleh tiga ekstremis pria muda. Selama penyelidikan, kamera membantu polisi menemukan pelakunya.

“Kamera-kamera itu digunakan untuk melindungi umat beragama, dan menangkis aksi teroris. Dan kami sangat mendukung itu,” katanya.

“Beberapa orang mengatakan kamera dipasang karena alasan lain. Ini fitnah dan mencoba memicu ketegangan antara Muslim dan non-Muslim,” tambahnya.

Ia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, semua kegiatan keagamaan dilakukan secara normal dan atas kemauan sendiri. Bahkan di tengah pandemi, dengan tindakan pencegahan Covid-19 yang keras, kegiatan tetap berjalan dengan aman, katanya.

Xu Guixiang, wakil jenderal Departemen Publisitas Xinjiang, mengatakan bahwa melalui pengarahan tersebut, mereka berharap dapat menunjukkan gambaran nyata Xinjiang, wilayah yang telah bebas dari serangan teroris selama empat tahun, mempertahankan pertumbuhan PDB sebesar 7,2 persen, dan mengangkat semua orang di wilayah itu keluar dari kemiskinan pada bulan Desember.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya