Penjara tidak luput dari penyebaran Covid-19 di Amerika Serikat (AS). Setidaknya satu dari lima tahanan di sana dilaporkan telah terinfeksi virus corona.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Associated Press dan Marshall Project menunjukkan, 20 persen atau 275 ribu dari total tahanan di AS telah terpapar virus.
Untuk pekan ini, jumlah tes positif Covid-19 mencapai titik tertinggi sejak musim semi, melampaui rekor pada April dan Agustus.
Menurut penuturan mantan kepala petugas medis penjara Pulau Rikers di New York City, Homer Venters, jumlah kasus di penjara yang dilaporkan saat ini jauh lebih rendah dari kenyataannya. Pasalnya sebagian besar penjara tidak menyediakan layanan tes Covid-19 reguler.
Selain itu, Venters menyebut, banyak tahanan yang tidak menerima perawatan medis yang sesuai.
"Saya masih menjumpai penjara di mana, ketika orang sakit, mereka tidak hanya tidak diuji tetapi mereka juga tidak menerima perawatan. Jadi mereka jauh lebih sakit daripada yang seharusnya," ujar Venters, seperti dikutip
Sputnik, Senin (21/12).
Data menunjukkan, tingkat infeksi di penjara empat kali lebih tinggi daripada di populasi umum, mengingat tidak adanya jarak sosial di balik jeruji besi.
Venters juga menyoroti tidak adanya kesempatan bagi tahanan untuk mendapatkan suntikan vaksin pertama, meski beberapa tahanan yang terjerat hukum juga tidak melakukan kejahatan apa pun.
Saat ini, hanya tujuh negara bagian yang memasukkan tahanan dalam kelompok prioritas, bersama dengan tahanan lain yang tinggal di panti jompo dan fasilitas perawatan jangka panjang.
Sementara itu, 19 negara bagian memasukkan tahanan dalam gelombang kedua vaksinasi.
Data dari Universitas Johns Hopkins menunjukkan, AS masih menjadi negara dengan tingkat infeksi dan kematian akibat Covid-19 tertinggi dunia.
Sejauh ini AS sudah mengonfirmasi lebih dari 17 juta kasus Covid-19 dengan setidaknya 315 ribu kematian.