Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Suluh

Reshuffle Jokowi Harus Sasar Bidang Kesehatan Dan Ekonomi

MINGGU, 20 DESEMBER 2020 | 23:40 WIB | OLEH: WIDIAN VEBRIYANTO

Perombakan kabinet menjadi hal yang lumrah terjadi. Susunan menteri perlu diperbaiki agar target-target pembangunan presiden tercapai.

Dalam waktu dekat, Presiden Joko Widodo dikabarkan akan melakukan perombakan kabinet. Hal ini seiring ditangkapnya dua menteri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yakni Juliari Batubara dan Edhy Prabowo.

Sembari mengisi orang baru di pos Menteri Sosial dan Menteri Kelautan dan Perikanan, Jokowi digadang akan turut melakukan pergantian di pos lain. Sejumlah nama, mulai dari kalangan politisi, profesional, hingga relawan telah berseliweran disebut akan masuk dalam kabinet.


Namun demikian, yang perlu digarisbawahi dalam perombakan kabinet adalah fokus yang akan dicapai oleh Presiden Joko Widodo. Fokus ini menjadi penentu apakah orang yang berada di garda depan bidang untuk mencapai target itu sudah tepat.

Jika belum, maka Jokowi perlu mengganti orang tersebut dan memilih mereka yang lebih kompeten.

Fokus pemerintah tentu tidak lepas dari pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia dan menciptakan krisis kembar, kesehatan dan ekonomi.

Di Indonesia sendiri, sebaran Covid-19 masih menjadi momok. Jika di negara lain sudah bersiap menghadapi gelombang kedua dan ketiga, di Indonesia tanda-tanda kurva sebaran akan menurun masih belum tampak. Bahkan hampir tiap pekan ada “kejutan rekor” sebaran per hari.

Sementara kepatuhan masyarakat untuk menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, dan menjauhi kerumunan masih jauh dari kata taat.

Di satu sisi, soal ekonomi juga tidak lebih baik. Indonesia sudah resmi resesi di Kuartal III 2020, di mana pertumbuhan ekonomi kembali minus dan berada di angka -3,49 persen.

Walaupun pemerintah terus menyampaikan optimisme bahwa ekonomi akan kembali positif di akhir tahun 2020, nyatanya Bank Dunia justru memprediksi Indonesia secara keseluruhan bisa berada di angka minus (-) 2,2 persen.

Mau tidak mau, faktor kesehatan dan ekonomi yang menjadi masalah akibat sebaran Covid-19 memang harus jadi fokus Jokowi. Mantan walikota Solo itu harus mulai membuat analisa tentang para menterinya yang berada di kedua bidang tersebut.

Di bidang kesehatan misalnya, Jokowi pernah mengeluarkan ancaman pada Bulan Juli lalu karena serapan anggaran yang masih minim. Namun ancaman tak kunjung jadi kenyataan, sekalipun anggaran sudah terserap baik, nyatanya sebaran corona masih tinggi dan penanganannya belum maksimal oleh sang menteri.

Di bidang ekonomi, Jokowi harus berani mengganti orang lama yang hingga kini belum bisa mewujudkan mimpinya. Di periode pertama lalu Jokowi sudah bermimpi ekonomi akan meroket hingga 7 persen. Tapi nyatanya pertumbuhan ekonomi tak pernah beranjak dari angka 5 persen dan justru secara konsisten mengalami penurunan.

Padahal saat itu kasus virus corona belum ada dan roda ekonomi berjalan seperti biasa.

Kehadiran pandemi justru menjadi dalih pembenaran bahwa Indonesia mengalami guncangan. Utang besar kembali dilancarkan seperti biasa. Bahkan kini ada UU 2/2020 yang memberi kekebalan bagi pengelola uang untuk penanganan pandemi tersebut. Tidak bisa dianggap kerugian negara dan tidak bisa dijerat hukum.

Sialnya, menteri di bidang ekonomi selalu mengandalkan utang untuk menutupi defisit anggaran. Hanya saja, utang terus menggunung tapi tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang juga terus merosot.

Untuk itu, Jokowi harus berani mengganti orang lama tersebut. Jangan sampai Jokowi tertipu dengan pujian asing yang memberinya predikat sebagai yang terbaik di Asia bahkan dunia. Sebab nyatanya, ekonomi Indonesia di era Jokowi stagnan dan cenderung konsisten turun.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya