Berita

Bendera Muhammadiyah/Net

Publika

Buntut Merger Bank Syariah Plat Merah, Muhammadiyah Unjuk Kekuatan Finek

MINGGU, 20 DESEMBER 2020 | 20:06 WIB

MENTERI BUMN, Erick Thohir, jalan terus melaksanakan rencananya mengonsolidasikan institusi bank syariah plat merah. Tak peduli keberatan muncul dari Muhammadiyah.

Akibatnya, Muhammadiyah memberikan tekanan berupa rencana memindahkan dana persyarikatan itu dari bank-bank syariah yang telah dimerger tersebut. Hitung punya hitung, pemindahan dana Muhammadiyah tidak tanggung-tanggung. Diperkirakan terdapat lebih dari sepuluh triliun konsolidasi milik Muhammadiyah.

Pemindahan dengan angka yang tidak kecil tersebut, tentu dapat memberikan guncangan kepada institusi bank syariah hasil merger yang wujud wajahnya saja belum terlihat.


Namun hal ini, tampaknya cukup telak mempengaruhi kepercayaan publik terhadap bank yang digadang-gadang menjadi 10 besar bank syariah tingkat global. Di sini terlihat ada yang tidak beres bagaimana merger bank BUMN ini diproses, dikomunikasikan dan dikonsolidasikan. Terutama pada klien besarnya, yaitu Persyarikatan Muhammadiyah.

Saran kami, sebelum institusi bank syariah hasil merger tersebut running, aspirasi Muhammadiyah hendaknya diakomodasi. Pasti ada alasan yang besar di balik reaksi yang jarang ditunjukkan Muhammadiyah tersebut.

Terlepas dari hal tersebut, hikmah dari wacana Muhammadiyah menarik dananya dan kemudian berencana memindahkannya ke institusi lain, terungkap betapa besarnya kekuatan ekonomi dan keuangan Muhammadiyah.

Menurut keterangan Ketua Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah Anwar Abbas, perkiraan total dana Muhammadiyah dalam bentuk giro, tabungan dan deposito di tiga bank syariah, yaitu BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah, sebanyak Rp15 triliun.

Dana Muhammadiyah yang disimpan di bank syariah berasal dari beragam institusi di bawah Muhammadiyah. Terdapat 170 Perguruan Tinggi, 400 Rumah Sakit, 340 Pesantren, dan sekitar 28.000 Lembaga Pendidikan yang dimiliki Muhammdiyah. Buya Anwar, sapaan akrabnya, merinci, bahwa ada 10 perguruan tinggi yang Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanjanya sekitar Rp 300 miliar hingga Rp 500 miliar.

"Itu saja sudah Rp 4 triliun. Ini (perguruan tinggi) jumlahnya 170, belum lagi rumah sakit, pesantren, sekolah. Nanti akan dipetakan oleh tim dimulai dari perguruan tinggi," katanya, Rabu (16/12/2020).

Menurut dia, total aset Muhammadiyah dapat mencapai Rp 400 triliun berupa tanah, bangunan, maupun kendaraan.

Penulis sendiri mencoba mengambil sampel nilai ekonomi dari salah satu dari ratusan perguruan tinggi Muhammadiyah, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Data terbaru dari Forlap Dikti tahun 2020, jumlah dosen tetap di Kampus ini mencapai 678, dan jumlah mahasiswa 29.335.

Apabila dari 29.335 mahasiswa tersebut menyetorkan dana rutin SPP, maka diperoleh dana sebanyak Rp146.675.000.000. Itu apabila dana SPP dengan rata-rata Rp5 juta. Padahal tingkatan harga SPP berbeda-beda berdasarkan program studi, mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 14 juta.

Tahun 2019, Muhammadiyah mempunyai 166 kampus seluruh Indonesia, terdiri dari 55 Universitas, 90 Sekolah Tinggi, 10 Akademi, 7 Institut, dan 4 Poliklinik dengan jumlah dosen 15.903 orang dan jumlah mahasiswa lebih dari 500 ribu orang.

Kita bisa bayangkan, jika setiap mahasiswa Muhammadiyah sejumlah 500 ribu tersebut mengeluarkan uang kepada institusi Muhammadiyah rata-rata Rp1 juta per semester, maka diperoleh dana per semester oleh Muhammadiyah sebanyak Rp500 miliar lancar dan tunai.

Hal itu baru dari SPP, belum yang lainnya. Mulyatno, petinggi BRI Syariah mengakui, jumlah dana Muhammadiyah pada perusahaannya sekitar Rp90 milar. Dana itu ditempatkan di berbagai instrumen,seperti tabungan, deposito, dan giro.

Sampel kasus kekuatan ekonomi dan keuangan dari salah satu bagian dari umat Islam Indonesia ini sebenarnya memberikan kita kegimbaraan dan rasa optimis, betapa besarnya kekuatan riil ekonomi dan keuangan dengan basis Islam apabila dikonsolidasikan.

Terutama sekali di zaman digital ini, yang harusnya konsolidasi finansial dan ekonomi umat Islam dapat berjalan dengan baik. Mengapa pula Gojek, Tokopedia, Alibaba (DANA), Grab, Lazada, dlsb yang justru menikmati tambang duit jumbo dan lancar dari populasi umat?

Syahrul Efendi Dasopang

Mantan Ketua Umum PB HMI

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Permintaan Chip AI Dongkrak Saham Intel hingga 24 Persen

Sabtu, 25 April 2026 | 12:18

Apa Itu UNCLOS? Dasar Hukum Jadi Acuan Indonesia di Selat Malaka

Sabtu, 25 April 2026 | 12:03

Purbaya Siap Geser hingga Non-Job Pegawai Pajak Bermasalah

Sabtu, 25 April 2026 | 12:02

Jalan Mulus Kevin Warsh ke Kursi The Fed, Dolar AS Langsung Terkoreksi

Sabtu, 25 April 2026 | 11:45

Subsidi Motor Listrik Disiapkan Lagi, Pemerintah Bidik 6 Juta Unit

Sabtu, 25 April 2026 | 11:16

IHSG Sepekan Anjlok 6,61 Persen, Kapitalisasi Pasar Menciut Jadi Rp12.736 Triliun

Sabtu, 25 April 2026 | 10:59

Rupiah Melemah, DPR Desak Pemerintah Jaga Daya Beli Rakyat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:48

Wamen Ossy Gaspol Benahi Layanan Pertanahan: Target Tanpa Antrean dan Lebih Cepat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:27

Ketergantungan pada Figur, Cermin Lemahnya Demokrasi Internal Parpol

Sabtu, 25 April 2026 | 10:02

Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Secara Diam-diam

Sabtu, 25 April 2026 | 09:51

Selengkapnya